Paradigma Kekerasan Seksual di Area Kampus

Friday, 19 April 19 | 10:34 WIB

Saat ini kekerasan seksual yang terjadi di dalam kampus semakin banyak terungkap ke media massa. Oleh karena itu, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (BEM FH UI) mengadakan diskusi publik yang bertajuk “Kekerasan Seksual dalam Kampus” pada Kamis, 11 April 2019 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Diskusi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai isu kekerasan seksual yang terjadi di dalam kampus serta mendorong dibentuknya regulasi komprehensif mengenai kekerasan seksual dalam kampus.

Difa Shafira, Koordinator Bidang I BEM FH UI 2019, memulai diskusi dengan memaparkan hasil kajiannya dengan tim.

“Tidak ada kanal terpusat untuk melaporkan kekerasan seksual di UI,” paparnya. Ia juga membandingkan regulasi permasalahan ini antara UI dengan Harvard dan University of South Wales, yang sama-sama memiliki Crisis Center yang mudah ditemui.

Menurut Tien Handayani, Dosen Hukum Masyarakat dan Pembangunan FH UI, perlu ada terobosan-terobosan dan perubahan sosial agar kekerasan seksual dianggap sebagai sesuatu yang penting. Kekerasan seksual perlu dipandang lebih dari sesuatu yang amoral, namun sebagai tindak kejahatan. Setiap kejahatan agar dapat ditindaklanjuti perlu payung hukum dan di sini Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) berperan. “RUU PKS itu harus diperjuangkan,” menurutnya.

Selain itu, peran media dalam hal ini perlu untuk ditekankan demi menaikkan visibility yang akan berujung pada awareness masyarakat terkait kekerasan seksual. Namun, menurut Fahri Salam selaku editor Tirto.id menjelaskan bahwa, “Kasus kekerasan seksual seringkali dikomersialisasi oleh media yang berujung atau berimbas negatif pada korban,”. Eksploitasi berita berlebihan pada korban justruakan menimbulkan masalah baru.

Dalam hal ini pula ia menyampaikan bahwa media kampus harus turut berperan dalam mengawal isu kekerasan seksual yang ada disertai bantuan pihak lainnya untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

Kekerasan seksual di dalam kampus acap kali ditutup-tutupi demi menjaga nama baik dan citra kampus. Hal ini juga dipaparkan oleh Cintya Faliana selaku perwakilan dari Balairung Press yang berhasil mengungkap kasus pelecehan seksual yang dialami seorang mahasiswi sehingga kasus tersebut terekspos dan dapat dibawa ke ranah hukum. Adapun untuk mencari penyintas kekerasan seksusal yang mau terbuka terhadap media merupakan hal yang sulit ditemui karena beberapa faktor seperti malu, tidak mau dinilai, serta menjaga nama baik instansi terkait. Dalam hal ini media tidak hanya berperan sebagai penyampai suatu isu, tetapi turut terlibat sebagai perantara konseling bagi korban.

Perlunya edukasi mengenai kekerasan dan pelecehan seksual untuk dilakukan karena menurut pandangan Founder Aku Bersuara, Rijaal Soedrajad, masih banyak mahasiswi dan mahasiswa yang belum mengetahui secara mendalam mengenai hal tersebut. Sehingga, seringkali para korban sulit melaporkan hal tersebut.

Regulasi mengenai penanganan serta perlindungan bagi korban juga dirasa harus segera dibentuk demi menciptakan tempat yang aman bagi seluruh masyarakat di dalamnya. Melalui lingkup terdekat, haruslah regulasi ini dimulai dari UI, karena lingkungan akademisi perlu untuk menanggapi secara serius permasalahan amoralitas kejahatan seksual.

 

Teks: Diena Hanifa
Kontributor: Irene, Ali
Editor: Grace Elizabeth

Pers Suara Mahasiswa UI 2019
Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

Aksi Untuk Negeri Angkat Kemanusiaan Sebelum Kekuasaan
BOP Dari Tahun ke Tahun
Kampung Digital : Program Melek Teknologi di Masyarakat
Perubahan KAMABA 2019