Pemilihan Rektor UI 2019: MWA UI UM dan BEM UI Tanggapi Animo Mahasiswa yang Masih Kurang

Thursday, 11 July 19 | 12:12 WIB

Aksi bersama Aliansi Isu Pengawalan Pemilihan Rektor UI yang dilaksanakan pada 8 Juli 2019 lalu memprotes kebijakan Rektor UI, Muhammad Anis, yang dinilai atraktif dan tidak memihak mahasiswa. Tuntutan yang dibawa pada aksi tersebut yaitu mengenai kenaikan BOP Non Reguler dan semester pendek, penertiban mendadak kucing dan anjing, pelayanan Klinik Satelit Makara UI yang berbayar, dan kebijakan secure parking.

Memasuki masa pemilihan Rektor Universitas Indonesia yang resmi dimulai pada 10 Juli 2019, lembaga-lembaga Kemahasiswaan UI berusaha untuk mengawal dan turut serta dalam setiap proses pemilihan rektor.

Althof Endawansa selaku Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia Unsur Mahasiswa (MWA  UI UM) 2019 memiliki peran penting untuk berkontribusi dalam setiap tahapan pemilihan rektor. “Mulai dari kita buka pemilihan rektor terus mengerucut sampai terpilih 20 (calon rektor-red), nah itu kerjanya Panitia Penjaringan dan Penyaringan Calon Rektor (P3CR). Setelah terpilih 20 maka akan diserahkan ke Pansus Pilrek. Oleh Pansus Pilrek akan diseleksi dari 20 ke 7. Saya sebagai MWA UI Unsur Mahasiswa disitu berperan untuk menentukan juga siapa (calon-red) rektor yang terpilih dari 20 mengerucut ke 7 itu. Dari 7 nanti ke paripurna, ditetapkan, akhirnya disaring lagi dari 7 ke 3. Nah itu saya juga masuk tapi udah 17 (anggota MWA UI-red) penentunya.”

Selain MWA UI UM yang mewakili mahasiswa secara formal, BEM UI juga memiliki peran informal dalam mengawal Pilrek. “Kita punya rencana untuk mengawal pilrek ini supaya melibatkan mahasiswa dan mahasiswa jadi lebih aware sama calon rektor yang baru ini siapa, terus nanti arah kebijakannya selama lima tahun kedepan akan seperti apa. Makanya BEM mengambil peran disini supaya kita bisa ngawal; kalau formal mungkin sudah ada P3CR sama MWA, jadi nanti tugas dan perannya BEM adalah mengawasi MWA supaya tetap independen, dan P3CR juga. Kita juga melihat supaya nanti calon rektornya ini jauh lebih interaktif sama mahasiswa,” kata Manik Marganamahendra, Ketua BEM UI 2019.

Untuk memfasilitasi mahasiswa UI dalam mengawal setiap tahap pemilihan rektor periode 2019-2024, BEM UI berencana membuat gelar aspirasi atau debat terbuka yang akan dihadiri oleh mahasiswa. BEM UI berharap bahwa peran BEM dalam Pilrek tahun ini dapat menghasilkan kontrak politik antara rektor dan mahasiswa untuk kebijakan rektor baru selama lima tahun menjabat.

Selain itu BEM UI juga bekerja sama dengan aliansi BEM se-UI dalam upaya mengawal Pilrek 2019. “Jadi kita (BEM UI-red) udah buat aliansi lewat IKM UI Summit, yang kita angkat isunya salah satunya pilrek. BEM se-UI semua sudah menyepakati. Kita sudah punya beberapa rencana, Adkesma akan buka survei, buka lapak aspirasi juga yang dalam hal ini juga meminta masukan, saran calon rektor ini kita (mahasiswa UI-red) inginnya seperti apa, juga nanti kedepannya kebijakan UI harus seperti apa, kemudian nanti diintegrasikan kesetiap BEM fakultas. Selain itu kita juga mau melibatkan yang non lembaga. Gimana caranya? Jadi nanti kita punya rencana setelah press conference,  kita akan buka juga forum terbuka untuk mahasiswa. Kita juga akan kerja sama dengan MWA, BEM se-UI, dan kita akan melibatkan semua mahasiswa untuk ikut serta,” jelas Manik.

Dalam proses persiapan Pilrek 2019, lembaga kemahasiswaan UI juga bekerja sama dengan anggota P3CR unsur mahasiswa. Manik mengatakan, “Setelah kak Afkar (Vyan Tashwirul Afkar, anggota P3CR Program Sarjana-red) kepilih gue langsung hubungin, ketemu, dan minta bantu aspirasiin ke kak Afkar. Sejauh ini masih ke kak Afkar ya, karena sama yang pasca sarjana belum sempet ketemu dan belum sempet kontakan. Kita minta setiap ada kegiatan, kak Afkar ini berkabar sama CEM, jadi ibaratnya kita sama P3CR unsur mahasiswa ini kita kerja sama. Setiap ada agenda rapat kita juga mengawasi, kira-kira agenda apa yang bisa dimasukin sama mahasiswa, salah satunya yang udah jadi concern kita adalah calon rektor ini kita mau lihat profilnya apakah memang sudah sesuai dengan kode etik UI, sesuai dengan peraturan MWA terkait rektor itu seperti apa, kita lihat juga backgroundnya. Kita akan minta transparansi dari P3CR supaya yang nanti 20 (calon rektor terpilih-red), kita udah bisa rilis profilnya itu dengan jelas jadi mahasiswa udah tau dari awal. Untuk pemilihan, kita (BEM-red) serahkan ke kak Afkar sesuai dengan tuntutan yang kita ajukan.”

Hal ini dibenarkan oleh Althof, “Hari Selasa (2/7), saya, Afkar sebagai P3CR, Manik sebagai Ketua BEM UI, dan Satria sebagai Ketua DPM UI membicarakan tentang itu (Pemilihan Rektor-red) karena kan memang tidak ada peraturan di mahasiswa yang mengatur hubungan koordinasi dengan P3CR. Disini kita rembuk bareng-bareng, gimana nih supaya mahasiswa bisa mengawal proses pemilihan rektor dan ada koordinasi dengan kemahasiswaan juga. Jadi kita mewacanakan untuk misalnya membuat forum terbuka, disitu kita mengundang Afkar, untuk update-update juga terkait dengan proses pemilihan rektor, bagaimana proses penjaringan dan penyaringan. Nanti kita tentukan tanggalnya kapan tapi kita juga lagi menunggu BEM se-UI, mereka lagi rembuk juga kapan. Nanti itu akan kita buat sifatnya terbuka untuk umum. Kalau hubungan koordinasi, P3CR itu bertanggung jawab kepada Pansus Pilrek.”

Persiapan demi persiapan untuk pemilihan rektor UI 2019 terus dilakukan dan dikawal. Hingga kini belum ditemui kendala berarti. “Sejauh ini sih berjalan dengan lancar sesuai timeline. Teman-teman bisa lihat di Pemilihanrektor.ui.ac.id disitu dijelaskan timeline, berkas-berkas apa yang perlu disiapkan, dan lain sebagainya. Tanggal 10 itu udah bisa daftar secara online. Tapi belum tahu ya nanti apakah disediakan via offline atau online aja. Untuk syarat calon rektor secara umum itu bisa dilihat di Statuta UI, Peraturan Pemerintah No 68 Tahun 2013 (https://www.ui.ac.id/wp-content/uploads/dlm_uploads/2014/11/PP68-2013StatutaUI.pdf). Itu mengatur tentang carek minimal harus S3 yang terakreditasi di Kemenristekdikti dan tidak lebih dari 60 tahun ketika dia dilantik. Dan itu tidak tertutup untuk lulusan UI aja ya. Misalnya dia bukan alumni UI tapi memenuhi syarat, itu bisa.”

Meski persiapan dan upaya pengawalan telah direncanakan dengan matang dan dalam pelaksanaan, namun animo mahasiswa UI dirasa kurang pada Pilrek 2019. “Sejauh ini menurutku terbilang masih biasa, karena masih liburan juga, belum banyak mahasiswa yang aware, kita sebenarnya udah dari beberapa bulan kemarin udah ancang-ancang ngasih komunikasi ini. Ya mungkin sejauh ini masih temen-temen dilembaga yang aware. Harapannya kita mau bawa isu ini sampai ke mahasiswa baru supaya lebih aware gitu,” kata Manik.

Althof menambahkan, “Sejauh ini beberapa mahasiswa punya keingintahuan tentang Pilrek yang tinggi cuma belum terlalu, mungkin apakah ini kondisi libur atau engga, masih agak kurang kerasa pengawalannya. Juga dimulainya pemilihan rektor bener-bener itu tanggal 10 nanti baru bisa calon rektornya mendaftar.”

Manik selaku Ketua BEM UI memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk turut serta membuat gerakan, ikut serta dalam gerakan, hingga akhirnya terpilih rektor baru. Saat ini BEM se-UI sedang membuat kajian masing-masing terkait kebijakan fakultasnya, yang nantinya akan diangkat ketingkat UI.

Manik berharap agar mahasiswa UI betul-betul dilibatkan dalam pemilihan rektor UI tahun 2019 agar kebijakan-kebijakan UI, yang belakangan ini atraktif, tidak terjadi lagi pada lima tahun mendatang. BEM UI yang sedang mengkaji masalah-masalah internal yang terjadi di mahasiswa berharap agar dapat dicapai nota kesepahaman dentan rektor baru. “Jangan sampai nih karena udah deket-deket masa selesainya akhirnya bikin kebijakan atraktif, sosialisasi minim. Kita khawatir aja kalau kultur hukum seperti ini dipertahankan malah jadi hal yang biasa buat UI bikin kebijakan-kebijakan yang serba mendadak dan atraktif.”

Sebagai bagian dari lembaga formal penyelenggara Pilrek 2019, Althof berharap agar proses pilrek dapat berjalan sesuai linimasa dan tidak ada hambatan apapun. juga berharap supaya segenap rangkaian  pemilihan rektor dapat berjalan transparan dan accountable, mampu menjawab setiap pertanyaan dan dapat dipertanggung jawabkan. “Juga animo masyarakat UI, bukan hanya mahasiswa tapi juga tenaga pendidikan, dosen, itu tinggi dan tidak hanya terbatas pada sivitas akademika UI namun juga masyarakat keseluruhan.”

Teks: Alfa Tirza Aprilia
Foto: Istimewa
Editor: M. Aliffadli

Pers Suara Mahasiswa UI 2019
Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

Kilas Balik Proses Evakuasi Massa Aksi Mahasiswa UI
Aliansi Mahasiswa Aksi di DPR Mulai Dehidrasi 
Massa Aksi Tuntaskan Reformasi Padati Gedung MPR dan DPR RI
Aliansi Mahasiswa Aksi Padati Stasiun Palmerah