Pemira IKM UI dan Partisipasi Mahasiswa

Thursday, 30 November 17 | 08:46 WIB

Politik kampus; sebuah terminologi yang tidak asing di telinga para penggiatnya—para mahasiswa yang saban hari sibuk meneriakkan jargon “hidup mahasiswa, hidup rakyat Indonesia”. Sekelompok aktivis itu seringkali mengaku entitasnya sebagai “representasi strategis”, yang mewakili suara ribuan mahasiswa yang lain.

Namun, aktivitas Pemira IKM UI yang digelar “demi kepentingan mahasiswa” itu tampaknya cenderung sepi peminat dan minim partisipasi. Data Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pers Suara Mahasiswa UI menyebutkan dalam enam tahun terakhir, berdasarkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pemira IKM UI, jumlah mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya tidak lebih dari 14.000 dengan jumlah keseluruhan mahasiswa UI sekitar 43.000.

Miriam Budiardjo menyebutkan partisipasi politik sebagai kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, yaitu dengan jalan memilih pimpinan, dan secara langsung atau tidak mempengaruhi kebijakan pemerintah (public policy).

Dalam merumuskan pembagian tingkatan paritisipasi, Miriam Budiardjo membahas piramida partisipasi politik yang terdiri dari gladiator (orang-orang yang terjun di dunia politik), spectator (masyarakat umum yang aktif dalam menggunakan hak politiknya), dan apathethics (mereka yang apatis terhadap keberlangsungan politik).

Dalam ranah politik kampus, piramida partisipasi politik cukup relevan digunakan untuk menggambarkan klasifikasi mahasiswa berdasarkan perannya dalam berpolitik. Di UI, tingkat gladiator diisi oleh mahasiswa yang melibatkan dirinya dalam proses Pemira IKM UI dan aktif dalam lembaga-lembaga kemahasiswaan.

Mereka juga biasa berkecimpung dalam tim pemenangan atau tim sukses saat suksesi-suksesi kelembagaan berlangsung. Selain itu, mereka adalah sekelompok mahasiwa yang aktif turut serta dalam mengkritisi kebijakan kampus maupun kebijakan nasional melalui wadah-wadah resmi kemahasiswaan.

Pada tingkatan spectator, mahasiswa terlibat dalam proses suksesi kelembagaan atau Pemira IKM UI sebagai pemilih. Mahasiswa di tingkatan ini adalah mereka yang mungkin berada di luar organisasi kemahasiswaan, namun turut serta dalam menggunakan hak politiknya dan aktif memberikan suara atau pendapat soal kegiatan lembaga-lembaga tersebut.

Pada tingkatan apathethics, mahasiswa cenderung apatis terhadap segala aktivitas politik kampus. Dalam hal ini, mereka enggan menggunakan hak pilihnya saat Pemira IKM UI berlangsung. Di titik yang lebih jauh, mahasiswa dalam kategori ini cenderung tidak berkenan untuk mengetahui seluk-beluk dinamika perpolitikan di kampus, termasuk mengetahui peran dari lembaga-lembaga kemahasiswaan yang ada. Pada tingatan yang lebih jauh lagi, mahasiswa di tingkat ini bahkan menarik diri dari segala aktivitas yang berhubungan dengan lembaga kemahasiswaan.

Pada dasarnya, tingkat partisipasi mahasiswa dalam politik kampus dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak mudah untuk dijabarkan. Hal itu karena mahasiswa memiliki motivasi dan preferensi yang berbeda-beda dalam menjalankan kehidupannya di kampus. Selain itu, mereka juga memiliki anggapan atau persepsi yang berbeda mengenai lembaga kemahasiswaan.

Dalam hal ini, tidak semua mahasiswa merasa lembaga kemahasiswaan yang ketuanya dipilih melalui jalur Pemira IKM UI merupakan representasi dari mereka. Kenihilan mahasiswa pada tingkatan apathethics dalam perpolitikan kampus juga bisa dipicu oleh adanya kekecewaan terhadap lembaga-lembaga yang tidak menjalankan fungsinya dengan baik.

Selain itu, konotasi lembaga kemahasiswaan yang buruk akibat pemimpinnya yang berasal dari kelompok atau golongan dengan kepentingan tertentu juga disinyalisasi turut berpengaruh dalam partisipasi politik mahasiswa. Di samping itu, peran panitia, pengawas, dan pers mahasiswa juga bisa menjadi faktor yang menentukan tingkat partisipasi mahasiswa dalam berpolitik di dalam kampus.

 

Teks: Frista Nanda Pratiwi

Litbang: Esty Pratiwi

Infografis: Diana

Komentar



Berita Terkait

Tak Lolos Sidang Banding, Tim Wanda-Sayyid Pertanyakan Kepastian Hukum
Lolos Bersyarat, Zaadit Taqwa Akui Cukup Puas dengan Hasil Sidang Banding
Tak Lolos Sidang Verifikasi Kedua, Ini Pendapat Bakal Calon Tunggal MWA UI UM
Calon Ketua dan Wakil BEM UI Nilai Positif Eksistensi Berbagai Golongan di UI