Pemred TEMPO Paparkan Sikap Menangkal Hoax

Saturday, 30 September 17 | 11:47 WIB

Dalam workshop Klinik Jurnalistik 2017 bersama Tempo Goes to Campus yang digelar oleh Pers Suara Mahasiswa Universitas Indonesia di Auditorium Gedung Integrated Laboratory and Research Center (ILRC) hari ini (30/9), Budi Setyarso, Pemimpin Redaksi Koran TEMPO menjelaskan permasalahan informasi yang beredar di masyarakat. Menurutnya, belum pernah ada masa di dalam peradaban manusia ketika informasi hadir begitu melimpah.

“Betapa informasi bagaimanapun kualitasnya bisa kita genggam. Kita semua adalah penyampai informasi. Media sosial kemudian menjadi media baru yang dapat mempengaruhi wacana publik,” ujarnya.

Meluasnya informasi yang saat ini dirasakan, sangatlah berbeda dengan situasi yang terjadi di era orde baru, yaitu saat berita akurat sangat susah didapatkan karena aturan, pengetatan, dan pembatasan. “Sehingga, media tidak bisa mencerminkan apa yang terjadi di lapangan,” tutur lulusan Universitas Gadjah Mada itu.

Dalam hal ini, Budi menyebutkan pengaruh iklim represif di era orde baru pada penyebaran informasi. Menurutnya, saat itu, informasi yang tersebar merupakan realitas yang semu, sehingga publik tidak tahu mana yang benar. “Pada tahun 1994, Tempo dibredel karena menerbitkan laporan yang tidak sesuai dengan padangan pemerintah. Kemudian Tempo kembali terbit setelah reformasi tahun 1998,” paparnya.

Hoax di Zaman Digital

Budi Setyarso menjelaskan keadaan masa kini yang sarat akan hoax atau berita palsu yang tersebar di media dalam jaringan (daring). Menurut Budi, keadaan semacam itu memiliki sisi positif, yaitu kebebasan berekspresi, satu hal yang baginya harus diperjuangkan.

Namun, kemajuan teknologi dan iklim demokrasi saat ini juga memiliki pengaruh buruk pada meluasnya berita palsu atau hoax, satu hal yang menurut Budi harus diperangi bersama. Dalam hal ini, ia menjelaskan bahwa berita hoax seringkali justru tersebar luas dan merugikan masyarakat.

Ada beberapa alasan soal mengapa orang suka membagikan informasi hoax menurut Budi Setyarso, di antaranya keinginan untuk menjadi yang pertama tahu, minat baca yang rendah, keinginan untuk mencari sensasi, untuk kepuasan diri sendiri, namun ada yang memang tidak tahu atau sekadar ikut-ikutan tren.

Pemimpin Redaksi TEMPO sejak Maret 2001 itu memaparkan, untuk menangkal hoax, masyarakat memerlukan sikap seorang jurnalis yang bisa diteladani. Salah satu sikap yang ia jelaskan adalah sikap skeptis. Tidak hanya jurnalis, dalam hal ini  masyarakat juga dituntut untuk memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. “Kita harus mempertanyakan semua hal yang didengar, jangan langsung percaya. Itu akan membuat kita selalu waspada,” tuturnya.

Selain itu, sikap jurnalis yang memperjuangkan kebenaran juga harus diteladani. Budi menjelaskan seorang jurnalis, dalam menyampaikan berita harus melakukan verifikasi, sehingga berita yang disajikan sesuai dengan fakta yang terjadi.

Lebih lanjut, Budi yang sebelumnya bekerja sebagai Editor Republika tersebut juga memaparkan sikap independen yang dipegang teguh oleh jurnalis. Menurutnya, independen merupakan suatu sikap yang dipegang tanpa mempedulikan tekanan atau intervensi dari luar dan berpihak pada kepentingan publik. Dalam hal ini, independen berarti objektif dan tidak tunduk hanya pada suara mayoritas.

Selain menunjukkan sikap seorang jurnalis yang bisa diteladani, Budi memberikan tips untuk melihat berita yang layak untuk diwaspadai, yaitu berita yang disalurkan melalui situs dengan domain yang kurang kredibel, misalnya yang bersifat blog dan informasi yang bombastis dan terlalu berlebihan.

 

Teks: Frista Nanda Pratiwi

Foto: Kiky Suhendar

Editor: Eri Tri Anggini

Komentar



Berita Terkait