Penerapan Teknologi Baru pada Kapal Pelat Datar Triwitono

Tuesday, 02 December 14 | 07:08 WIB

Program studi Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) meluncurkan sebuah kapal pelat datar yang mereka namai “Triwitono” tanggal 13 Oktober lalu.

Secara teori kapal ini tidak ada bedanya dengan kapal biasa. Keunikannya ada pada material yang terbuat dari baja. Bentuk kapal ini juga berbeda dengan kapal pada umumnya. Bentuknya patah-patah dan lurus, tidak melengkung-yang disebut pelat datar. Potongan pelat dirakit sehingga tidak perlu dilengkungkan.

“Asal mula nama Triwitono adalah nama dosen pelopor pendiri jurusan Teknik Perkapalan UI, untuk mengenang jasa beliau,” terang Ir. Hadi Tresno Wibowo, M.T, dosen Teknik Perkapalan UI ini ketika ditanya mengapa memberi nama Triwitono.

Kapal pelat datar Triwitono dengan sisi kapal 12,5 meter dan lebar 3 meter ini dapat menampung hingga 30 orang. Bagian lambung kapal dirancang menggunakan bahan pelat baja datar. Sementara atap kapal menggunakan bahan fiber. Hadi mengatakan, produksi kapal ini memakan waktu satu tahun, sedangkan penelitiannya dilakukan sejak tiga tahun lalu. Untuk mengerjakan kapal pelat datar, Hadi dibantu oleh empat mahasiswa Teknik Perkapalan Universitas Indonesia, yakni Muhammad Faishal, Adi Lingson, M. Primadya Putra, dan Sanlaruska Fathernas.

Jika dibanding kapal tradisional, kapal pelat datar Triwitono ini mudah dibuat. Bahannya dari baja dan mudah ditemukan, biaya pembuatannya pun relatif murah, tidak mudah rusak karena terbentur. Selain itu, menurut Hadi kapal ini punya nilai lebih dibanding kapal kayu nelayan karena dapat dijual kembali dan didaur ulang, anti karat, dapat diasuransikan karena kapal ada klasifikasi dan ada perhitungannya.

Kapal ini cocok untuk pekerja laut karena jika kecelakaan, dan sebagainya, kerugiannya dapat ditanggung bank. Kelebihan lain, Perbaikannya mudah. Jika menggunakan pelat baja, bagian yang berlubang bisa dipotong sedikit lantas diganti baja yang baru.

Sedangkan kelemahannya menurut Hadi, kapal ini mempunyai beberapa hambatan. Karena Triwitono diperuntukkan bagi nelayan untuk menangkap ikan, kapal ini hanya stabil dengan kecepatan di bawah 17 knot.

Kapal berwarna putih ini terinspirasi dari Damen Shipyards yakni perusahaan produksi kapal dari Belanda. Saat ini kapal pelat datar dipajang di danau perpustakaan pusat UI. Hal ini bertujuan untuk mengamankan kapal, juga sebagai pemanis danau dan rekreasi.

“Pelayaran rakyat yang menggunakan kapal pinisi dari kayu semakin lama populasi semakin kurang. Semakin jarang orang membuat kapal pinisi baru karena bahan seperti kayu sulit ditemukan. Kapal pelayaran rakyat yang biasanya diisi beras, semen, atau bahan bangunan mudah terkena air karena kapalnya terbuat dari kayu. Kapal kayu pasti mudah dirembes air walaupun rembesannya sedikit tetapi terus menerus sehingga membuat muatan basah. Berawal dari situlah kapal ini dibuat. Dengan harapan kehadirannya dapat membantu memudahkan kinerja nelayan” Jelas Hadi, inisiator kapal pelat datar Triwitono.

Hadi mengaku senang apabila ia diberi kesempatan mengajarkan cara pembuatan kapal pelat datar Triwitono ini kepada nelayan agar mereka dapat membuat kapal pelat datar sendiri. Desain kapal ini rencananya akan diberikan untuk Chandra Motik Yusuf, S.H., M.Sc., Ph.D, ketua asosiasi pelayaran rakyat, Pakar Hukum Maritim yang belajar tentang hukum kelautan.

“Untuk mesin kapal kami membeli, ada yang dipasang di dalam dan diluar kapal. Mesin di dalam kapal gunanya untuk mengontrol agar air tidak masuk. Kalau mesin yang diluar kapal fungsinya untuk melindungi kapal agar tidak oleng. Mesin luar kapal dipasang menempel dan dapat bergerak kekiri dan kekanan.”, ujar Ir. Hadi Tresno Wibowo, M.T.

Sumber tenaga yang digunakan kapal ini ada hitungannya, yang bergantung pada ukuran kapal dan ukuran baling-baling penggerak kapal, sehingga dapat diketahui juga hambatannya. Setelah itu dapat diketahui daya dorong dan efisiensi dari mesin, lalu didapatkan nilai kecepatan tertentu. Kapal ini berbahan bakar premium seperti kapal sedang pada umumnya. Kapal pelat datar ini mempunyai efisiensi 0.6 persen yang dapat dikatakan bagus. Menggunakan mesin diantaranya motor tempel dan as panjang. Bagian bawah kapal ditambahkan sirip pada bawah kapal untuk mencegah oleng.

Hadi mengaku bahwa pembuatan kapal ini bukan idenya 100%, namun di Indonesia ia merupakan penggagasnya. Awalnya ia terinspirasi oleh Prof. Galih yang membuat kapal perairan samudra tanpa lengkungan untuk mengangkut kontainer. Pada saat itu lengkungan sulit dibuat dan membutuhkan mesin. Kapal ini berhasil melaju dengan kecepatan 23 knot, namun akhirnya mengalami penyimpangan menjadi 17 knot. Penyimpangan sebesar 6% ini menyebabkan ketidakefisiensian pada mesin dan bahan bakar. Oleh karena itu Hadi dan mahasiswanya mencoba membuat kapal untuk perairan nelayan dengan bentuk melengkung ini.

Fasilitas yang akan disediakan di kapal ini antara lain air conditioner, meja, infokus, dan tempat duduk berhadapan. Jika kapal ini menjadi tempat research, kapal dapat digunakan sebagai ruang rapat dan ruang kuliah.

Hadi mengungkapkan bahwa ia akan banyak melibatkan mahasiswa pada rencana penelitian selanjutnya mengenai kapal ini. Ia juga berencana akan memanggil instruktur untuk mengajari mahasiswa bagaimana menyetir kapal ini di danau UI terlebih dahulu, baru kemudian akan diajari bagaimana menyetir kapal dan meneruskan pembuatan kapal di perairan laut.

“Semoga kapal ini nantinya mampu mengatasi masalah di bidang pelayaran rakyat dan memacu perkembangan pulau-pulau di Indonesia,” pungkas Hadi.

Altifani Rizky Hayyu | Annisa Nur Rasyida

Komentar



Berita Terkait

Kuliah Tanpa Tatap Muka Lewat PDITT
Cara Mudah dan Aman Cari Tebengan dengan Aplikasi Nebengers
Pesona The Sims 4 yang Tak Ada Habisnya
Waspadai Pencurian Password SIAK-NG