Peran Perguruan Tinggi Mempersiapkan Mahasiswa Menghadapi AEC 2015

Wednesday, 05 November 14 | 05:16 WIB

Oleh Salomo Harvard Hamonangan*

Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) atau Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (PERBARA) merupakan organisasi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Saat ini, ASEAN mempunyai 10 negara anggota, yakni: Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Brunei, Kamboja, Laos, Vietnam dan Myanmar. ASEAN pertama kali dibentuk pada tahun 1967. Pada saat itu, hanya ada lima negara yang tergabung di dalam ASEAN, yakni: Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina Salah satu pertimbangan dibentuknya ASEAN adalah kerjasama ekonomi.

Pada tahun 1992 diadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang ke-5 di Singapura. Dalam pertemuan tersebut, telah ditandatangani Framework Agreement on Enhancing ASEAN Economic Cooperation sekaligus menandai dicanangkannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada tanggal 1 Januari 1993 dengan Common Effective Preferential Tariff (CEPT) sebagai mekanisme utama. Pendirian AFTA memberikan impikasi dalam bentuk pengurangan dan eliminasi tarif, penghapusan hambatan-hambatan non-tarif, dan perbaikan terhadap kebijakan-kebijakan fasilitasi perdagangan.

Pada KTT ke-9 ASEAN yang dilaksanakan di Bali pada tahun 2003, para pimpinan ASEAN menyepakati pembentukan komunitas ASEAN yang salah satu pilarnya adalah ASEAN Economic Community (AEC). AEC bertujuan untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang ditandai dengan bebasnya aliran barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan perpindahan barang modal secara lebih bebas. Pada KTT tersebut juga ditetapkan sektor-sektor prioritas yang akan diintegrasikan, yakni: produk-produk pertanian, otomotif, elektronik, perikanan, produk-produk turunan dari karet, tekstil dan pakaian, produk-produk turunan dari kayu, transportasi udara, e-ASEAN, kesehatan, dan pariwisata.

Pada bulan Agustus tahun 2006 di dalam ASEAN Economic Ministers Meeting (AEM) di Kuala Lumpur, para negara anggota ASEAN menyetujui untuk membuat suatu cetak biru (blueprint) untuk menindaklanjuti pembentukan AEC dengan mengindentifikasi sifat-sifat dan elemen-elemen AEC pada tahun 2015 yang konsisten dengan KTT ke-9 dan dengan target-target dan timeline yang jelas serta pre-agreed flexibility untuk mengakomodir kepentingan negara-negara anggota ASEAN.

Pada KTT ASEAN yang ke-13 di Singapura, bulan November 2007, telah disepakati Blueprint for the ASEAN Economic Community (AEC Blueprint) yang akan digunakan sebagai peta kebijakan (roadmap) untuk mengubah kawasan ASEAN menjadi suatu pasar tunggal dan basis produksi, kawasan yang kompetitif dan juga kawasan yang terintegrasi dengan ekonomi global. Selain itu, AEC Blueprint juga akan mendukung ASEAN menjadi kawasan yang berdaya saing tinggi dengan tingkat pembangunan ekonomi yang merata serta kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi yang makin berkurang.

Persiapan  Indonesia Menghadapi AEC 2015

Tanpa kita sadari, AEC yang sudah dipersiapkan sejak tahun 2003 akan segera hadir. Pada tahun 2015, Indonesia akan segera memasuki babak baru dalam persaingan global. Seharusnya dalam jangka waktu yang singkat ini, sudah sepantasnya Indonesia lebih dari siap dalam menghadapi AEC. Ironisnya, Indonesia masih jauh dari kata “siap”. Menurut hasil penelitian dari Lembaga penelitian Center for International Relations Studies (CIReS) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) sampai awal tahun 2014 masih hanya 17 persen masyarakat umum termasuk mahasiswa yang mengetahui soal AEC.

“Ini dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah agar kita siap menghadapi AEC 2015, cuma 17 persen masyarakat umum termasuk mahasiswa yang mengetahuinya, dan hanya 2 persen yang sadar akan keuntungannya, kenapa kami memilih Pemda karena mereka yang paling berdampak langsung nantinya, dan yang bisa bersaing hanya yang punya modal dan skill,” ujar Peneliti CIReS FISIP UI, Sofwan Albanna seperti dikutip sindonews.com.

Dari pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa tantangan utama dari Indonesia untuk menghadapi AEC adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang tahu dan mampu untuk menghadapi AEC 2015. Dalam menghadapai AEC, mahasiswa sebagai iron stock adalah pilar utama atau garda terdepan di bidang SDM.

Sebagai perbandingan dengan negara-negara anggota ASEAN lainnya, dapat dicermati data daya saing Indonesia menurut The Global Competitiveness Report 2013-2014 oleh World Economic Forum (WEF) seperti dikutip kpiunhas.com. Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara tetangganya seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura. Selain itu data dari ASEAN Productivity Organization (APO) juga menunjukkan dari 1000 tenaga kerja Indonesia hanya ada sekitar 4,3% yang terampil sedangkan Filipina 8,3%, Malaysia 32,6% dan Singapura 34,7%.

Indonesia perlu bangkit dari kondisi yang memprihatinkan ini. Seperti yang sudah diutarakan diatas, salah satu hal yang perlu diperhatikan dari AEC adalah tenaga terampil. Indonesia perlu mempersiapkan para mahasiswanya sebagai Iron Stock dalam menghadapi AEC. Dalam hal tenaga terampil, tentunya pendidikan memegang peranan yang penting. Khususnya pendidikan tinggi yang memiliki peran penting dalam menentukan nasib Indonesia saat AEC mulai diberlakukan.

Peran Tri Dharma Perguruan Tinggi

Jika kita berbicara mengenai perguruan tinggi, maka mahasiswa adalah salah satu unsur yang melekat di dalam pembahasan tersebut. Mahasiswa yang dikenal sebagai agent of change, social control, dan iron stock, pada dasarnya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang belajar di perguruan tinggi. Layaknya seperti sekolah mempunyai siswa-siswi, perguruan tinggi mempunyai mahasiswa-mahasiswi.

Setiap lembaga pendidikan tentunya mempunyai visi dan misi, karena proses pembelajaran itu sendiri memang harus diawali oleh visi dan misi. Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah salah bentuk konkret dari seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Karena sudah menjadi keharusan bagi setiap perguruan tinggi untuk melahirkan manusia-manusia yang intelek, kritis, peduli, dan berakhlak mulia. Dalam rangka memenuhi hal tersebut, mahasiswa itu sendiri harus tahu dan paham dengan betul apa yang maksud dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi: Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian.

Pendidikan adalah poin pertama dan utama dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pendidikan dan pengajaran memiliki peranan yang sangat penting dalam suatu proses pembelajaran. Undang-Undang dengan tegas menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Perguruan tinggi perlu melakukan revitalisasi dalam hal ini. Perlu dipahami bahwa perkembangan dan ranah pendidikan saat ini sudah sangat berbeda dan sangat kompleks. Perguruan tinggi perlu memperlengkapi para mahasiswa-mahasiswinya dengan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja sekarang. Berdasarkan laporan dari Pearson (2014) seperti dikuti tribunnews.com, pendidikan jaman sekarang bukan lagi sekedar 3Rs (Reading, wRiting, and aRithmetic), tetapi juga harus menyangkut keterampilan-keterampilan baru yang dibutuhkan dunia kerja sekarang, seperti: Leadership, Digital Literacy, Communication, Emotional Intelligency, Entrepreneurship, Global Citizenship, Problem Solving, and Team-working.

Leadership adalah keterampilan untuk memengaruhi diri sendiri (self leadership), memengaruhi tim (team leadership), dan juga memengaruhi semua orang di dalam organisasi (organizational leadership) agar berkomitmen dan bekerjasama untuk mencapai visi dan misi yang dicanangkan organisasi tersebut.

Digital Literacy berkaitan dengan keterampilan dalam tiga hal berikut, yakni: kemampuan untuk menggunakan teknologi digital, alat komunikasi atau jaringan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan dan menciptakan informasi, kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format dari berbagai sumber ketika disajikan melalui komputer, dan kemampuan seseorang untuk melakukan tugas-tugas secara efektif dalam lingkungan digital.

Communication berkaitan dengan keterampilan mengkomunikasikan informasi penting secara mudah dan singkat agar dapat dipergunakan untuk pembuatan keputusan peningkatan kinerja organisasi.

Emotional Intelligence (EQ) adalah keterampilan untuk mengidentifikasi, menggunakan, memahami, dan mengelola emosi secara positif untuk meredakan stres, berkomunikasi secara efektif dengan orang lain, berempati dengan orang lain, mengatasi tantangan, dan meredakan konflik.

Entrepreneurship adalah keterampilan untuk mengembangkan, mengatur dan mengelola usaha-usaha kreatif bersama dengan risiko yang diperhitungkan (calculated risks) dalam rangka untuk menciptakan manfaat-manfaat dari usaha-usaha kreatif itu.

Global citizenship adalah keterampilan seseorang yang mampu menempatkan identitas mereka agar sesuai dengan komunitas global lebih daripada  identitas mereka sebagai warga negara tertentu atau asal suku bangsa tertentu.

Problem Solving adalah proses mental yang melibatkan, menemukan, menganalisis dan memecahkan masalah. Tujuan utama dari pemecahan masalah adalah untuk mengatasi hambatan dan menemukan solusi yang terbaik untuk memecahkan masalah.

Teamwork adalah proses bekerja bersama-sama dengan sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan bersama. Teamwork merupakan bagian penting dari keberhasilan organisasi, karena kita membutuhkan  rekan-rekan kerja untuk bekerja sama dengan baik, mencoba ide-ide terbaik mereka dalam situasi apapun agar mencapai sinergi dalam hasil. Prinsip dua kepala lebih baik daripada satu kepala berlaku dalam teamwork ini.

Peneitian adalah poin kedua di dalam Tri Dahrma Perguruan Tinggi. Penelitian mempunyai peranan bagi kemajuan perguruan tinggi, kesejahteraan masyarakat serta kemajuan bangsa dan negara. Dari penelitian maka mahasiswa mampu mengembangkan ilmunya dan berpikir kritis. Mahasiswa harus mampu memanfaatkan penelitian dan pengembangan ini dalam suatu proses pembelajaran untuk memporoleh suatu perubahan-perubahan yang akan membawa Indonesia kearah yang lebih maju dan terdepan.

Sayangnya, dalam hal penelitian pun, Indonesia juga masih kalah dengan negara-negara tetangga anggota ASEAN lainya. Menurut data yang disajikan majalah Suara Mahasiswa edisi ke-30, publikasi ilmiah yang dilakukan oleh para akademisi di Indonesia masih sangat jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga anggota ASEAN, terutama dengan Singapura. Di dalam majalah tersebut dikatakan bahwa jumlah publikasi ilmiah Universitas Indonesia (UI), sebagai salah satu universitas papan atas Indonesia, bahkan tidak mampu mencapai 10 persen saja dari jumlah publikasi ilmiah University of Singapore. Di dalam majalah tersebut dikatakan bahwa publikasi ilmiah yang dilakukan UI hanya sebesar 2714 publikasi, sedangkan University of Singapore telah melakukan 64.991 publikasi.

SBY, presiden Republik Indonesia, mengatakan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang berorientasi budaya tulis. Hal tersebut dipertegas melalui akun twitter-nya yang mengatakan, “Biasakan beri hadiah buku pada anak, karena bangsa yang maju berorientasi pada budaya tulis dibanding budaya tutur dan lisan,” seperti dikutip news.bisnis.com.

Dalam melakukan penelitian, pola pikir mahasiswa juga memegang peranan yang penting. Mahasiswa perlu mempunyai tujuan yang ingin dicapai melalui penelitianya. Menurut Suparno dan Mohamad Yunus, penulis yang baik mempunyai tujuan menjadikan pembaca ikut berpikir dan bernalar, membuat pembaca tahu tentang hal yang diberitakan, menjadikan pembaca beropini dan mengerti, membuat pembaca terpersuasi oleh karangannya, serta membuat pembaca senang dengan menghayati nilai-nilai yang dikemukakan.

Ketiga adalah pengabdian. Menurut Undang-Undang, pengabdian kepada masyarakat adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh sivitas akademika dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pengabdian kepada masyarakan dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan positif. Pada hal ini mahasiswa harus mampu bersosialisasi dengan masyarakat dan mampu berkontribusi nyata. Bentuk konkret pengabdian mahasiwa dapat dilakukan dengan sosialisasi seputar AEC 2015 kepada masyarakat. Sosialisasi dapat dilakukan pemuda dengan berbagai cara. Pemuda dapat melakukan sosialisasi dengan cara konvensional seperti melakukan sosialisasi door to door. Pemuda juga dapat memanfaatkan berbagai media dalam melakukan sosialiasi, seperti memanfaatkan berbagai aplikasi sosial media, membuat blog,  membuat berbagai poster, membuat film pendek, dan sebagainya.

Dalam pelaksanaanya, seorang pemuda juga dapat bekerja sama dengan para pemuda lainya dan membentuk sebuah kelompok dalam melakukan sosialisasi. Dalam hal ini, mereka dapat berbagi peran dalam membagi tugas dan tanggung jawab, dapat saling topang dalam kelemahan, dan yang terpenting adalah adanya rasa percaya kepada kemampuan dan kesungguhan teman yang dapat memberi dampak positif dalam pelaksanaan tanggung jawab.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam pelaksanaan kelompok, yakni: visi dan misi, strategi, kesadaran kepentingan untuk bersama, unjuk kerja, saling percaya dan saling memberi dukungan. Dalam strategi, antara lain akan diuraikan tentang: tujuan, sasaran, isi pesan, media yang digunakan, pengorganisasian, dan pemantauan dampak sosialisasi.

Revitalisasi Mahasiswa Menghadapi AEC 2015

Tidak dapat dipungkiri bahwa mahasiswa memegang peranan yang penting dalam Indonesia menghadapi AEC 2015 mendatang. Hal tersebut juga dipertegas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh. Beliau juga ikut mengajak perguruan tinggi untuk bersiap menghadapi ASEAN Economy Community (AEC).

“Urusan sebesar ini tidak cukup sekadar jadi pengetahuan. Tetapi kita harus menerjemahkannya. Apa implikasi dan apa yang harus kita siapkan dalam menghadapi perubahan pasar, perubahan interaksi sosial? Sehingga kompetensi, sertifikasi, dan skill tertentu menjadi bagian yang harus kita persiapkan,” tutur beliau saat memberikan sambutan dalam pelantikan pimpinan perguruan tinggi di Jakarta, Selasa (9/9/2014) seperti dikutip dari kembdikbud.go.id.

Perguruan tinggi juga harus mampu melahirkan mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang kompeten, kritis dan solutif guna menghadapi AEC 2015. Guna mencapai hal tersebut, perguruan tinggi  harus selalu menerapkan prinsip transparan dan akuntabel. Dengan melibatkan sebanyak mungkin sivitas akademika, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kebijakan tertentu. Diharapkan dengan ini, mahasiswa-mahasiswi Indonesia dapat membuat AEC 2015 bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk menuju Indonesia yang lebih baik.

*Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Komentar



Berita Terkait

Pemerintah Rencanakan Susun Kamus Bahasa Isyarat Terbaru
MEA 2015: Ajang Kompetisi Kualitas Tenaga Kerja
Persepsi Keliru Soal MEA 2015
Standardisasi Tenaga Kerja Terampil Indonesia Menuju AEC 2015