Peringati Hari Bumi, 192 Negara Galakan Program End Plastic Pollution

Sunday, 22 April 18 | 12:16 WIB

Earth Day Network, jaringan global yang menjadi koordinator Hari Bumi Sedunia di 192 negara, mengangkat tema End Plastic Pollution pada perayaan Hari Bumi tahun 2018 ini. Seperti yang tertulis di website jaringan tersebut, earthday.org, tujuan yang ingin dicapai dari gerakan ini meliputi mengakhiri penggunaan plastik sekali pakai, mempromosikan daur ulang plastik, serta mengubah pandangan dan perilaku manusia terhadap plastik.

Sejak tahun 1970, tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi. Senator Amerika, Gaylord Nelson menggagas ide tersebut setelah ia menyaksikan tumpahan minyak di pesisir Santa Barbara, California pada tahun 1969. Namun, sebelum kejadian itupun ia memang sudah menaruh banyak perhatian terhadap isu lingkungan. Ia kemudian berinisiatif menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menyempatkan diri melakukan kegiatan pelestarian lingkungan dalam satu hari.

Salah satu organisasi di Indonesia yang menyambut baik tema ini adalah Bye Bye Plastic Bags. Organisasi nonpemerintah yang didirikan oleh sekelompok anak muda di Bali pada tahun 2013 ini memiliki visi menciptakan dunia yang bebas kantong plastik. Berbagai kegiatan telah mereka lakukan untuk mencapai visi tersebut, mulai dari edukasi ke sekolah-sekolah, bekerja sama dengan pemerintah, menyediakan ribuan tas alternatif pengganti kantong plastik, hingga menciptakan pilot village (desa contoh) bebas kantong plastik. Saat ini, Bye Bye Plastic Bags telah tersebar di berbagai kota di Indonesia dan 12 negara lain.

“Earth Day tahun ini dengan tema End Plastic Pollution sudah seharusnya mendobrak kebiasaan masyarakat yang menggunakan plastik secara berlebihan dan sembarangan. Kami sangat mendukung gerakan End Plastic Pollution. Kami juga sangat berharap bisa ikut mengedukasi masyarakat terutama masyarakat Indonesia untuk menggunakan plastik secara bijaksana,” ujar Thoriq Yahya selaku Public Relation Officer Bye Bye Plastic Bags Jakarta.

Nabiha Shihab dari Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia juga merasa bahwa polusi plastik sudah mencapai taraf yang mengkhawatirkan dalam hal mencemari lingkungan. Salah satu alasannya adalah plastik yang banyak digunakan sekarang adalah materi plastik yang dibuat dari minyak bumi dan baru dikembangkan pada abad ke-20.

Untuk mengatasi masalah plastik, ia berpendapat bahwa seluruh pihak harus turun tangan mulai dari konsumen, pemerintah, produsen, dan peneliti. “Menurut saya solusinya tidak hanya satu, dan tidak juga dibebankan pada satu pihak. Jadi tidak bisa hanya konsumen yang dituntut untuk mengurangi penggunaan plastik, tapi juga regulasi yang mengatur produksi plastik, peredaran dan penggunaannya. Para peneliti dan produsen juga seharusnya mengembangkan plastik yang dapat terurai. Teknologinya sudah tersedia, tinggal bagaimana mengembangkannya agar dapat bersaing dengan plastik tidak ramah lingkungan yang selama ini beredar,” terangnya.

Sementara itu, Bye Bye Plastic Bags Jakarta sedang melakukan petisi yang ditujukan kepada gubernur DKI Jakarta untuk meminta ketegasan mereka atas permasalahan plastik di Jakarta dan juga menggalakan kembali program plastik berbayar dengan harga yang lebih tinggi.

“Kami akan menyampaikan petisi tersebut yang sudah ditandangani 40.000 masyarakat Indonesia kepada Bapak Anies dan Bapak Sandi pada tanggal 27 April nanti,” ungkap Thoriq Yahya.

 

Teks: Nadia Farah
Foto: Istimewa
Editor: Kezia Estha T.

Komentar



Berita Terkait