Peringati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Mahasiswa Suarakan Tujuh Kebohongan Industri Rokok dalam Pameran dan Seni

Tuesday, 29 May 18 | 07:52 WIB
Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada 28 Mei 2018 diperingati dengan serangkaian aksi pentas seni dan pameran bertajuk “They Lie We Die” oleh mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI yang bersinergi dengan mahasiswa dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Bina Nusantara (Binus), dan Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Mereka tergabung dalam aliansi gerakan “They Lie We Die”. Tak hanya itu, aksi ini juga mendapat dukungan penuh dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) anti rokok dan Pemerintah Kota Depok.
Selanjutnya, Manik Margamahendra selaku Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IM FKM UI menyebutkan ada tujuh kebohongan industri rokok yang mengancam kematian namun sering ditutup-tutupi. Kebohongan pertama yakni tentang industri rokok menciptakan juara. Manik menyebut pada kenyataannya, industri rokok tidak menciptakan para juara. Mereka yang bertalenta justru dijadikan boneka untuk mendapatkan citra baik bagi industri rokok itu sendiri.
Kemudian, kebohongan kedua yakni industri rokok tidak menyasar anak muda. “Ini juga merupakan kebohongan karena banyak konser dan kegiatan anak muda yang disponsori oleh industri rokok. Sponsor bisa menjadi pemikat dan pemberi harapan pada anak muda untuk akhirnya tertarik dengan industri rokok,” imbuh Manik.
Lalu, mengenai kebohongan ketiga adalah tentang rokok bukan zat adiktif. Pada dasarnya, industri rokok telah mengintervensi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menghapuskan pasal tentang adiktif dalam undang-undang (UU) yang pernah menjadi perdebatan sebelumnya. Kebohongan keempat adalah mengenai kenaikan cukai yang dapat membunuh petani dan buruh tembakau. Faktanya, pemberhentian pekerja justru disebabkan karena mekanisasi yang dilakukan oleh industri rokok itu sendiri. Kenaikan cukai tidak secara signifikan memberikan dampak pada buruh tembakau maupun petani.
Selain itu, juga terdapat kebohongan kelima yang menyatakan bahwa merokok adalah hak asasi manusia. Hal tersebut justru bertentangan dengan UUD NKRI 1945 terkait hak seseorang, yaitu hak menghirup udara bersih, sedangkan asap rokok bukanlah udara bersih.
Adapun kebohongan keenam adalah pelanggaran iklan rokok akan mengurangi pendapatan daerah. Hal tersebut tidak terbukti, sebagai contohnya adalah kota Bogor yang telah berhasil menyelenggarakan kawasan tanpa rokok dan tidak menerima sponsorship rokok.
Sedangkan kebohongan ketujuh adalah tentang industri rokok peduli generasi muda. Mereka peduli karena generasi muda adalah pangsa pasar terbesar. Generasi muda difokuskan pada pasar bukan untuk pengembangan.
“Saat ini, jumlah perokok remaja di Indonesia mencapai 20% baik laki-laki maupun perempuan. Mereka kini dalam kondisi berbahaya karena berada dalam jerat industri rokok dan teradiksi. WHO menyebut bahwa dalam setiap 6,5 detiknya, ada satu orang meninggal akibat rokok. Remaja menjadi target utama industri rokok,” ujar Manik
Selanjutnya, Salma Putri Habibah selaku Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM IM FKM UI saat ditemui secara terpisah menjelaskan bahwa melalui aksi yang berupa pameran memiliki tujuan untuk menunjukkan bahwa anak muda bisa berkarya tanpa bantuan industri rokok. Salma juga menambahkan bahwa saat ini BEM IM FKM UI tengah berfokus pada cukai rokok dan menjelaskan bahwa berdasarkan fakta dan data yang ada, dari lima belas kali kenaikan cukai, tren konsumsi rokok justru tetap naik.
“Di sini kita (BEM IM FKM UI -red) pengen lihat bagaimana komitmen pemerintah. Kita pengen cukai dikendalikan secara tegas dan efektif,” imbuhnya.
Adapun aksi yang bertajuk “They Lie We Die” terbagi dalam dua lokasi yang berdekatan yakni di selasar Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK) UI untuk pameran karya dan lapangan FKM UI untuk pertunjukan seni. Berbagai kreativitas mahasiswa yang dibalut dalam semangat mengampanyekan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dipamerkan. “Kami anak desain, campur anak film, juga ada anak animasi membawa konsep instalasi seni,” ujar Eva Mega Astria, peserta pameran seni asal UMN.
Sedangkan konsep instalasi seni tersebut dibagi ke dalam dua ruangan yaitu bagi perokok aktif dan pasif sehingga memberikan nuansa dari sisi perokok aktif dan pasif.
Kreativitas lain berasal dari mahasiswa BINUS dengan cara mereka membagi-bagikan takjil berupa kebab yang telah ditempelkan stiker kampanye tentang anti rokok. “Kami ingin memanfaatkan momen ramadhan untuk berbagi sekaligus menyisipkan campaign bahwa lebih baik membeli makanan yang bergizi ketimbang membakar uang untuk rokok,” ujar Nandin Dwi Sasmita salah satu mahasiswa BINUS tersebut.
Selain pameran, aksi ini juga diisi dengan penampilan Stand Up Comedy, Public Health Talk mengenai cukai rokok, dan aksi Drop Death. Aksi Drop Death yang dilakukan oleh 135 mahasiswa ini menggambarkan keganasan rokok yang bisa membunuh 135 orang dalam 15 menit saja.
Aksi ini ditutup dengan penyerahan buku “Bunga Rampai Isu Kesehatan Masyarakat Indonesia” oleh Ketua BEM IM FKM UI 2018 kepada Centre for Indonesia’s Strategic Devolepment Initiatives (CISDI) dan Pemerintah Kota Depok sebagai wujud advokasi pengendalian tembakau.
Teks: Jati Setyarini
Foto: Jati Setyarini
Editor: Halimah dan Kezia

Komentar



Berita Terkait

Klarifikasi Kedua Pasang Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2019 Terkait Sokongan Dana
Calon MWA UI UM 2019 Utarakan Pendapat Pemindahan Bedeng dan Transparansi Kinerja Rektor
Eksplorasi Pemira di FT UI: Kedua Paslon BEM UI 2019 Paparkan Gagasan Perihal Komersialisasi Lahan Parkir
Calon MWA UI UM 2019 Ungkap Pendapatan FEB UI