Permudah Akses, Perpustakaan UI Lakukan Digitalisasi Koleksi

Sunday, 18 June 17 | 07:44 WIB

Lebih dari 30.000 koleksi di Perpustakaan Pusat (Perpusat) Universitas Indonesia belum dibuat versi digital. Padahal, salah satu keuntungan koleksi dalam versi digital menurut Laely Wahyuli selaku Koordinator Manajemen Pengetahuan Perpusat untuk mempermudah akses bagi sivitas akademika.

Pendigitalisasian tersebut, sambung Laely, tidak semua koleksi dibuat versi digital. Laely menyatakan ada kategori tertentu untuk koleksi yang akan didigitalkan. Kategori tersebut berupa tugas akhir mahasiswa, laporan penelitian dosen, data pengukuhan, naskah, dan karya klasik atau buku yang berusia lebih dari 50 tahun.

Proses Digitalisasi Koleksi Perpusat

Mengenai proses digitalisasi karya klasik dan tugas akhir mahasiswa, sebelumnya Perpusat masih menggunakan metode lama seperti membongkar jilidan buku lalu di scan atau pindai manual dan dijilid kembali. Akibatnya, hasil penjilidan kembali itu tidak rapi.

Selanjutnya, pihak Perpusat membeli alat pindai baru tanpa harus membongkar jilidan tersebut. Saat ini, proses digitalisasi dilakukan dengan memindai lembaran yang ada di buku lalu di sunting hingga menyerupai buku elektronik atau e-book.

Sedangkan untuk naskah, Aswina selaku staff Perpusat yang menangani proses digitalisasi koleksi perpustakaan memotret naskah menggunakan kamera tanpa cahaya lampu dan mengandalkan cahaya matahari.

Jika proses digitalisasi naskah dilakukan dengan memakai cahaya yang tidak berasal dari matahari akan menimbulkan hasil yang tidak maksimal. Warna kertas akan berbeda karena jika memakai cahaya lampu pasti ada bayangan dan menimbulkan warna menjadi berbeda dalam satu kertas,” tuturnya.

Singkatnya, proses pemotretan atau pindai dan menyunting menghambat proses digitalisasi koleksi di Perpusat karena memakan waktu yang lama.

Selain itu, faktor biaya menambah hambatan untuk mendigitalisasikan koleksi Perpusat. Untuk mendigitalkan satu lembar kertas diperlukan biaya sekitar Rp400,-. Jika dikalikan beribu-ribu lembar, akan banyak biaya yang dikeluarkan oleh pihak Perpusat.

Naskah untuk Tugas Akhir

Menurut penjelasan Aswina, naskah merupakan salah satu kategori yang akan diprioritaskan untuk dibuat versi digital. Hal tersebut karena naskah dibutuhkan oleh mahasiswa untuk membuat tugas akhir.

Bila mahasiswa yang mengajukan naskah untuk dibuatkan versi digital tidak sabar menunggu karena akan segera digunakan, pihak Perpusat akan memberikan dalam bentuk mikro film. Untuk versi mikro film, warna naskah hanya hitam putih sedangkan dalam versi digital, warna naskah sesuai aslinya.

 

Teks dan Foto: Halimah Ratna Rusyidah

Editor: Eri Tri Anggini

Komentar



Berita Terkait