Pertemuan untuk Masa Lalu

Wednesday, 26 November 14 | 01:38 WIB

Judul                  : Aleph
Pengarang        : Paulo Coelho
Penerbit            : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal                  : 313 Halaman

Waktu seakan tidak ada artinya bagi sebagian orang, bahkan hanya dianggap sebagai ilusi. Masa lalu, kini, dan selanjutnya tidak memiliki perbedaan kecuali penderitaan. Oleh karena itu, sebagian orang percaya bahwa reinkarnasi adalah suatu yang ada. Dan, Aleph menceritakan kepercayaan itu.

Novel yang ditulis oleh Paulo Coelho, seorang sastrawan asal Brasil, ini memiliki kekuatan khusus terhadap pembungkusan cerita reinkarnasi. Alur cerita serta pilihan kata penulis dapat menyihir para pembaca ke dalam suatu pembenaran fenomena reinkarnasi.

Meskipun demikian, pesan dari penulisan novel ini bukanlah pembenaran atas hal tersebut, namun suatu penyadaran akan urgensi perubahan dalam menjalani kehidupan. Paulo Coelho mengajak pembacanya untuk mengambil tindakan. Karena menurutnya, manusia kerapkali  melakukan hal dan berada di tempat yang tidak diinginkan.

Novel ini dibuka dengan dialog antara tokoh utama aku, yang tidak pernah disebutkan namanya hingga akhir cerita, dengan gurunya yang bernama J. Keduanya berdialog tentang penyesalan masa lalu aku sebagai bagian dari “pelayan” Tuhan abad pertengahan. Ia tidak berani mengungkapkan kebenaran atas tuduhan terhadap seorang wanita yang telah ia kenal semenjak kecil. Ketidakberaniannya tersebut membuat wanita itu disiksa dan berakhir pada hukuman mati tanpa kebenaran.

Dialog tersebut pun hanya menjadi keluh kesah tokoh aku yang tidak menghasilkan solusi. Ia merasa dikutuk oleh waktu. Di akhir dialog, J pun menyerah dan mengembalikan semua masalah kepada aku. “Kau tidak berada di sini, kau harus pergi agar bisa kembali ke masa sekarang. Perjalanan akan membuat siapa pun yang hilang dalam hidupmu akan kembali. Pahamilah apa yang terjadi dalam dirimu dan kau akan memahami apa yang terjadi dalam diri semua orang lain”.

Nasehat tersebut pun memberikan perubahan besar terhadap hidupnya, aku memutuskan untuk melakukan perjalanan jauh. Ia ingin melintasi Rusia dengan kereta api.

Sebagai penulis terkenal, aku tidak mengalami kesulitan mewujudkan mimpinya itu. Apalagi di setiap kota yang ia singgahi, aku selalu mendapat undangan dari penerbit setempat untuk melakukan meet and greet dengan para pembacanya.

Di perjalanannya itulah, muncul Hilal, seorang wanita berusia 21 tahun, yang gigih mengejar aku ke mana saja ia pergi. Awalnya, aku merasa risih, namun berkat kegigihan tekad, Hilal pun diterima oleh aku untuk menemaninya dalam perjalanan panjang itu.

Wanita itulah yang merupakan reinkarnasi dari korban para “pelayan” Tuhan di abad pertengahan. Keduanya pun menyadari bahwa mereka pernah bertemu di masa lalu. Namun semua itu baru jelas ketika aku dan Hilal singgah di danau Baikal. Mereka diperlihatkan masa lalu oleh Shaman Baikal dengan prosesi ritual. Titik temu itu yang mereka sebut Aleph. Petuah J di awal cerita pun menjadi kebenaran.

Bila diperhatikan, tiga perempat latar belakang novel yang ditulis oleh penerima penghargaan Best Fiction Corine International Award ini adalah di kereta. Dan, itu merupakan ciri khas penulis novel fenomenal The Alchemist ini, menjadikan satu tempat sebagai latar belakang cerita. Novel Aleph ini menjadi pembuktian konsistensi Paulo Coelho menunjukkan ciri khas tulisannya.

Selain itu, hal menarik dari novel yang diterjemahkan ke dalam 72 bahasa dan terjual di 160 negara ini seringkali menjadikan hal-hal yang dilewati di perjalanan di atas keretanya sebagai contoh untuk menyampaikan pesan cerita. Misalnya, penggambaran gesekan roda kereta dengan rel dalam menyampaikan pesan dari pentingnya suatu konflik atau gerbong-gerbong kereta yang digambarkan sebagai sebuah dunia.

Secara tersirat, novel ini mengajarkan pembaca akan dua hal, berani bertindak dan mengambil setiap pesan dari hal-hal terdekat. Sederhana, namun dua hal ini kerapkali dilupakan oleh sebagian besar dari kita. Dengan novel ini penulis mengajarkan para pembacanya agar dapat menemukan cara termudah dalam menyelesaikan masalah. Namun, pembaca tidak akan merasa digurui karena pemilihan kata yang Paulo Coelho gunakan membuat cerita mengalir dan membuat pembaca penasaran akan akhir cerita. Buku yang layak dibaca.

Savran Billahi
Gambar: hooping.org

Komentar



Berita Terkait

Hidup Seorang Anna Karenina
Lolongan Hati Howl
OKK UI 2014: Kita UI!
Sebelum Abrahah Menyerang Ka’bah