“Pribumi adalah Hantu yang Dibentuk pada Zaman Kolonial”

Friday, 27 October 17 | 08:44 WIB

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) menggelar diskusi publik dengan tajuk Siapa Pribumi? di Cikini, Jakarta pada Jumat (27/11). Diskusi kali ini menjelaskan siapakah itu pribumi dan mengapa pribumi bisa muncul di masyarakat.

Rian Ernest, Wakil Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DKI Jakarta, menjelaskan bahwa istilah pribumi digunakan pada saat Belanda menjajah Indonesia. Belanda menggunakan politik devide et impera, yang membelah masyarakat menjadi tiga golongan, salah satunya golongan pribumi.

“Pribumi adalah hantu yang dibentuk pada zaman kolonial, lalu muncul lagi saat isu pilkada kemarin,” ujar lulusan Lee Kuan Yew University itu.

Akhir-akhir ini istilah pribumi sedang hangat dibicarakan oleh masyarakat sehubungan dengan pidato Anies Baswedan, Gubernur terpilih DKI Jakarta. Anies yang menggunakan kata “pribumi” dalam pidatonya kemarin dinilai oleh masyarakat Jakarta menyinggung SARA sehingga menimbulkan perdebatan.

Menurut Rian, isu SARA digunakan untuk kepentingan politik demi memenangkan sesuatu. Ia menyayangkan Pilkada kemarin, politik pecah belah masyarakat digunakan karena hal tersebut merupakan cara paling mudah untuk menang. “Apa gunanya menang, tapi kalau warga sudah terpecah belah?” kata Rian.

Tidak hanya di Indonesia, isu SARA juga menyelimuti negara lain. Natalia Laskowska, selaku Editor Jakarta Globe turut memaparkan isu SARA yang terjadi di beberapa negara di Eropa.

Menurutnya, isu SARA juga timbul karena adanya sekelompok masyarakat yang merasa superior, sehingga mereka bisa menindas kelompok lain. “Proses normalisasi setelah isu SARA ini sangat susah sekali,” ujar wanita asal Polandia itu.

Dengan demikian, menurut Rian, untuk saat ini, tantangan yang terbesar bagi pemimpin ialah bagaimana menyatukan kembali warga yang sudah terpecah belah.

 

Teks dan Foto: Cherryl Syadera

Ilustrasi: medium.com

Editor: Eri Tri Anggini

Komentar



Berita Terkait