Pro Kontra ‘Kampus Merdeka’ di Kalangan Mahasiswa UI

Thursday, 06 February 20 | 04:48 WIB

Relevansi konten pembelajaran dunia pendidikan kita dengan kebutuhan dunia pekerjaan merupakan isu utama yang sedang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini. Dalam rangka menyikapi hal tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, menggulirkan sebuah program baru bernama Kampus Merdeka. Salah satu komponen utama dari program ini adalah perubahan linimasa pembabakan masa perkuliahan. 

Nadiem mengusulkan bahwa komposisi masa perkuliahan yang tadinya 8 semester pembelajaran teori akan diperpendek menjadi 5 semester pembelajaran teori, dengan tambahan 3 semester guna pembelajaran praktik dalam bentuk magang ataupun KKN. Wacana ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan kampus masyarakat.

UI telah mengeluarkan sikap resminya terkait wacana ini. Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, Ph.D. menyatakan kesetujuannya terkait wacana ini. “Filosofinya, daripada Anda belajar dan enggak punya kesempatan menggabungkan ilmu dengan praktik, lebih baik secara sukarela, ayo kamu magang,” ujar Prof. Ari kepada Tempo. 

UI secara resmi telah menyetujui wacana ini, lantas bagaimana dengan para mahasiswanya? Tim Suara Mahasiswa telah meminta pendapat beberapa mahasiswa dari berbagai fakultas dan angkatan untuk memberikan aspirasinya terkait hal ini.

Menurut Intania Ayumirza, mahasiswa jurusan Penyiaran Program Vokasi angkatan 2019, wacana ini akan sangat bermanfaat jika diterapkan dalam kebijakan dunia pendidikan kampus. Menurutnya hal ini sangat baik untuk membekali mahasiswa S1 dengan keterampilan praktik langsung dalam menghadapi dunia kerja. “Sebagai mahasiswa program Vokasi, pembobotan pembelajaran kuliah kami 70 persen praktik dan 30 persen teori. Sedangkan, mahasiswa S1 dalam proses pembelajarannya lebih banyak mempelajari teori dan minim praktik lapangan. Kesempatan magang tentunya akan memberikan mahasiswa S1 softskill yang diperlukan dalam dunia kerja dan pengalaman berhadapan dengan client ataupun atasan perusahaan,” ujarnya. 

Pandangan lain dipaparkan oleh Rifki Mujahid Ziyad, mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UI angkatan 2017 menyatakan ketidaksetujuannya terhadap wacana tersebut. Sebagai mahasiswa FKG secara khususnya dan Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK) secara umumnya, pembabakan kompetensi akademik yang dimiliki sudah rigid dan sangat padat sehingga tidak memungkinkan untuk dipadatkan lagi. “(Dengan—red) ritme pembelajaran yang dimiliki oleh Fakultas Kedokteran maupun Fakultas Kedokteran Gigi, wacana ini tidak memungkinkan. Mungkin lebih baik jika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan pelatihan maupun seminar terkait teknis-teknis pekerjaan pascakampus, seperti cara menghadapi persaingan yang ketat di dalam dunia profesional ataupun cara membangun sebuah klinik yang baik dan sustainable,” terang Ziyad.

Sedangkan Belinda Azzahra, mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) angkatan 2018, menyetujui gagasan ini dengan beberapa catatan. Ia setuju bahwa mahasiswa memerlukan magang sebagai tempat beradaptasi dan berproses dalam dunia kerja. Namun, waktu 3 semester tepat dilakukan di politeknik ataupun institut. Di universitas, ia kurang setuju sebab universitas adalah institusi yang mengedepankan teori dan akan sangat berat jika harus melakukan perubahan seperti itu. “Kebijakan ini merupakan kebijakan yang sangat baik untuk menyiapkan mahasiswa agar siap menghadapi kerasnya dunia kerja dan mengetahui apa saja yang diperlukan oleh industri sehingga tercipta link and match antara pendidikan kita dengan tuntutan industri. Namun, niat baik ini perlu juga memerhatikan kondisi dan tujuan dari institusi pendidikan itu sendiri,” jelasnya.

Pro dan kontra tentu hadir dalam menyikapi setiap kebijakan pemerintah, apalagi kebijakan yang mengubah hal-hal yang fundamental. Pemerintah perlu menyerap aspirasi dari seluruh lapisan masyarakat dan kajian yang mendalam agar kebijakan yang bertujuan baik ini dapat berjalan dengan maksimal dan optimal.

 

Teks: Satrio Alif
Kontributor: Inggil Reka, Nada Salsabila
Foto: Azka Alfuady
Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas

Komentar



Berita Terkait