Profil Calon MWA UI UM 2020 : Upaya dan Rencana Mengenai Aspek Transparansi

Monday, 02 December 19 | 10:00 WIB

Akhir – akhir ini terdapat beberapa kebijakan di UI yang dinilai tidak transparan dan cenderung mendadak. Zaki Zamzami dari Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) 2016 sebagai calon dengan nomor urut 1 dan Alim Anggono dari Fakultas Psikologi (FPsi) 2016 sebagai calon dengan nomor urut 2 dalam kontestasi pemira IKM UI 2020 memaparkan upaya dan rencananya terkait aspek transparansi antara mahasiswa dengan pihak universitas. Berasal dari latar belakang yang berbeda Zaki dan Alim memiliki rencana tersendiri yang dinilai cukup efektif dalam memenuhi aspek transparansi.

Latar Belakang Organisasi

Kedua Calon MWA UI UM 2020 ini menceritakan pengalaman organisasi serta kontribusinya selama berkuliah di UI. Zaki memulai pengalaman organisasi dengan menjadi staf departemen adkesma BEM UI 2017, di tahun kedua ia menjadi kepala departemen adkesma bem fisip UI 2018, dan kemudian di tahun ketiga menjadi kepala departemen adkesma bem UI 2019. Selain berorganiasi, Zaki juga rutin menulis jurnal dan artikel di laman koran harian online. Hingga, pada tahun keempat ini ia merasa terpanggil untuk menjadi MWA UI UM 2020. 

Dipicu oleh keresahan terhadap situasi di UI, Alim merasa terpanggil untuk menjadi MWA UI UM 2020. Berawal dari staf kastrat BEM Psikologi hingga menjadi kadept kastrat BEM Psikologi di tahun kedua di mana ia sangat tertarik dengan isu – isu nasional dan menjadi salah satu founder dari UI Sehat Mental. Di tahun 2019, Alim menjadi salah fungsionaris MWA di bidang litbang. Saat menjadi fungsionaris Alim secara aktif menjadi mitra kritis bagi MWA untuk MWA yang lebih baik lagi. Kekrtitisan dan keresahan yang dialami akhirnya memicu Alim untuk maju sebagai MWA UI UM 2019.

Visi dan Misi untuk MWA UI UM yang lebih baik

Membawa visi “Garda Suara yang Bergerak Bersama Mahasiswa dalam Penyusunan dan Evaluasi Kebijakan Universitas Indonesia” Alim menyampaikan bahwa garda suara menjadi representasi dari MWA UI UM yang bergerak bersama mahasiswa dalam mengevaluasi dan menyusun kebijakan di Universitas Indonesia. Menurutnya, garda merupakan pengawal yang berada di barisan terdepan, untuk membawa suara mahasiswa ke forum MWA itu sendiri. Alim menambahkan visinya ini mencakup  aspek partisipasi, akuntabilitas (keterbukaan dan transparansi) yang berujung pada solusi dan semua dari mahasiswa oleh mahasiswa dan untuk mahasiswa.

Terdapat tiga misi yang dibawa Zaki, di mana Zaki mencoba untuk menjalin hubungan yang lebih sinergis bersama berbagai stakeholder baik itu di forum MWA rektorat dan kemudian di tingkat mahasiswa itu sendiri. Ia juga ingin menjaring aspirasi itu baik secara online dan offlline secara berkala dan lebih melibatkan mahasiswa secara kongkrit melalui berbagai program kerja salah satunya bisa  melalui forum mahasiswa dan kemudian melalui safari fakultas dan vokasi. 

Melalui visi dan misi ini Zaki dan Alim berharap dapat menjalankan tugasnya di MWA terutama terkait dengan transparansi kebijakan di UI. Menurutnya, pihak Universitas tidak menjalankan fungsi dan peran yang seharusnya yang telah diamanatkan oleh statuta UI dan berbagai peraturan MWA UI lainnya yang mengikat, baik formal maupun secara informal. Pihak Universitas dinilai enggan mengkomunikasikan timeline dan berbagai kebijakan yang akan disusun kedepannya. Berbagai kebijakan yan telah diambil pastinya akan mendapat tanggapan maupun kritikan dari berbagai pihak. Kedua calon memberikan tanggapan mengenai kebijakan secure parking, kenaikan biaya pendidikan, kemudian kenaikan biaya semester pendek, hingga penangkapan kucing dan anjing di lingkungan UI. “Yang diambil memicu reaksi yang kurang baik yang pada akhirnya menimbulkan kekecewaan,” papar Zaki. Alim juga merasa kebijakan yang ada dinilai cukup aneh karena tidak diantisipasi sebelumnya oleh MWA UI UM pada tahun 2018 dan tahun ini. 

Menurutnya, pihak Universitas tidak menjalankan fungsi dan peran yang seharusnya sebagaimana telah  diamanatkan oleh statuta UI dan berbagai peraturan MWA UI lainnya yang mengikat, pun secara informalnya pihak Universitas tidak mau mengkomunikasikan secara baik perihal timeline dan berbagai kebijakan yang telah coba untuk disusun kedepannya.

Kebijakan yang tidak sesuai ini dinilai karena adanya kesalahpahaman dan kurangnya transparansi sehingga Alim membawa 3 program kerja yang akan dibawa lalu safari fakultas untuk menyampaikan informasi yang ada di MWA dan juga menyepakati hal apa saja yang MWA akan bantu untuk fakultas. Menurutnya, safari fakultas dan program vokasi penting dan dibutuhkan untuk menjaring aspirasi dan juga memudahkan dalam penyampaian informasi..”Kita membuka RKA, kita membuka kebijakan UI yang ingin disusun tahun ini. Itu pertama. Kedua tuh ada bikin datakita. Itu kalau kalian tahu katadata. Data MWA yang perlu di-share ke mahasiswa tuh banyak. RKA, renstra, gitu-gitu tuh belum ada wadahnya. Selama ini tuh ada di database. Di opendata. Cuman kan seberapa banyak orang yang mau buka di opendata? Juga data-data kaya hasil rapat akan di-share.”

Untuk kedepannya, Zaki berharap bidang internal MWA lebih terbuka dan konsisten dari awal hingga akhir. “Jadi sebenernya dengan adanya keterbukaan itu, akan mempengaruhi dari semuanya, akan mempengaruhi dari kepercayaan dan kemudian kinerja dan keberadaannya fungsionaris dalam suatu organisasi tersebut. Jadi mungkin itu sih yang akan coba di ini.”

Penulis: Diena Hanifa
Kontributor: Fira Izdihar
Editor: Muhamad Aliffadli
Foto: Istimewa

Pers Suara Mahasiswa UI 2019
Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

Uji Publik RIK: Transparansi dan Uji Publik UI Art War
Uji Publik Soshum: Paslon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2020 Paparkan Terobosan Baru
Kongres dan Panitia Pemira Ungkap Kejelasan Mekanisme Pemira
Kongres Mahasiswa Putuskan Buka Kembali Pengambilan Berkas Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2020