Punk dan Neonazi di Ruang Hijau

Thursday, 02 June 16 | 07:43 WIB

Pagi hari di ladang jagung dengan kondisi mobil nyusruk, pengemudi tertidur di roda, kehabisan gas, nihil bekal makanan, dan segala kerepotan lainnya dalam melanjutkan tour manggung di Portland, menjadi pembuka film karya Jeremy Saulnier, sutradara dan penulis kawakan asal Amerika Serikat. Bersama para pemain serta tukang ambil dan edit gambar, Saulnier berhasil melanjutkan cerita tersebut dengan lebih antah-berantah nan gahar.

Saulnier mengakali filmnya yang berdurasi 93 menit ini agar tidak berbelit-belit berkutat dalam pengantar permasalahan. Cukup dengan menceritakan bahwa Pat (Anton Yelchin), Reece (Joe Cole), Sam (Alia Shawkat), Tiger (Callum Turner) yang semuanya merupakan anggota grup band punk The Ain’t Right, mengalami kesusahan finansial dan kelaparan dalam melanjutkan perjalanannya ke tempat-tempat manggung yang dijanjikan oleh sang promotor, Tad (David W Thompson),  Saulnier menciptakan jembatan penghubung  yang mampu menjawab mengapa The Ain’t Right bisa hadir di bar markas skinheads Neonazi dan menghimpun gerakan.

Kecemasan dan kengerian baru hadir dalam film ini setelah The Ain’t Right manggung dan Pat mendapati seorang gadis, Rene (Taylor Reene) terseok-seok dengan pisau tertancap tepat di kepalanya, ketika mengambil telepon seluler milik Sam yang tertinggal di ruang tunggu di belakang panggung atau green room. Diceritakan Pat memutuskan memanggil polisi begitu pun dengan teman dari gadis malang tersebut, Amber (Imogen Poots).

Neonazi tidak ingin mereka memanggil polisi, Darcy (Patrick Stewart), pemimpin Neonazi pun melakukan segala cara agar mereka tidak pergi dan melapor polisi. Dari sini misi melarikan diri  The Ain’t Right, setelah terjebak dalam ruang sempit 3×4 tanpa ventilasi selama 16 jam dimulai.

Dari sini pula ciri khas setiap karakter terlihat dan begitu konsisten sampai akhir hidupnya. Semuanya diberikan kesempatan merespon setiap kejadian dan membiarkan kepribadian karakter menuntun raganya melakukan kesalahan.

Dengan seting punk melawan Neo-Nazi dan latar pedesaan, Saulnier menerapkan berbagai komedi hitam yang didasari dari observasi sisi gelap kehidupan sehari-hari dan isu aktual politik dari kedua kubu. Selain itu, seting tersebut juga dibuatnya untuk memudahkan penonton dalam membedakan antara karakter protagonis dan antagonis.

Dalam menciptakan kepanikan, kecemasan, terror, dan horor, Saulnier memanfaatkan tekstur gambar yang realistis, kebisingan dan permainan kosakata sulit terkait penjagalan. Cekcok mulut diiringi pengeras suara rusak beserta musik punk dan metal daril setiap band yang manggung membuat tensi narasi semakin genting dan beringas.

Berbagai kosakata sulit terkait penjagalan membuat konflik dengan golok, parang, dan anjing galak nan buas semakin mengerikan. Daging manusia menyeruak keluar dari tubuh dan berserakan, darah berlumuran di lantai dan taring dari anjing yang digunakan.

Plot dalam film yang telah beredar di bioskop Indonesia pada 18 Mei ini, terasa sengaja dibuat rumit oleh Saulnier. Banyak premis-premis penting yang hanya dituturkan dengan singkat dan tidak digambarkan dengan adegan. Seakan dibuat rahasia dan terselubung, senada dengan perkataan Darcy “ini bukan pesta, ini adalah sebuah gerakan”.

Teks: Bonny Nur

Editor: Frista Nanda Pratiwi

Gambar: Istimewa

Komentar



Berita Terkait