Ragam Semarak dari Bangku Penonton

Sunday, 14 December 14 | 06:17 WIB

Ajang unjuk kemampuan antarfakultas yang dikemas dalam Olimpiade Ilmiah Mahasiswa UI (OIM UI), Olimpiade UI, dan UI Art War tidak hanya dimiliki oleh para kontingen. Para pendukung tiap fakultas, dengan berbagai aksi dan gaya khasnya masing-masing, berlomba menciptakan riuh yang paling heboh demi mendukung rekan-rekannya yang sedang berlaga di arena pertandingan.

Dalam suatu kompetisi, baik di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan terutama olah raga, tak jarang kita menemui dua kubu yang bertanding. Kubu pertama adalah para peserta yang mengikuti kompetisi, sedangkan kubu kedua adalah para penonton, yang lebih dikenal sebagai pendukung (supporter). Jika para peserta yang mengikuti kompetisi bertanding untuk mengukuhkan diri sebagai pemilik kemampuan yang terbaik, maka para suporter “bertanding” untuk memeriahkan suasana kompetisi sambil mengikuti alur euforia.

Peristiwa tersebut dapat ditemukan di lingkungan Universitas Indonesia tepatnya pada semester ganjil di tiap tahun ajaran. Kompetisi akbar seperti OIM UI, Olimpiade UI, dan UI Art War yang diadakan di tingkat universitas dan diikuti oleh seluruh fakultas ini mengundang antusiasme dari para mahasiswa. Sehingga tidak hanya kontingen yang dipersiapkan untuk mengikuti kompetisi, suporter juga turut mempersiapkan diri untuk hadir dan “bertanding” bersama para kontingen fakultas masing-masing.

Antusiasme para suporter ini dapat dilihat dari jumlah massa-yang bisa mencapai ratusan, atribut yang digunakan, dan nyanyian atau yel-yel yang didengungkan. Semua dilakukan untuk memberi semangat dan dukungan kepada peserta yang sedang bertanding. Namun, antusiasme yang telah terbangun dari awal kompetisi dapat berkembang ke arah yang salah, misalnya yel-yel yang dinyanyikan mulai mengandung unsur celaan kepada tim lawan sehingga harus mendapat teguran dari panitia sebab dapat mengganggu jalannya kompetisi.

Beda Lomba, Beda Budaya

Euforia semester ganjil yang ditandai dengan dimulainya perhelatan tahunan UI, yaitu OIM UI, Olimpiade UI, dan UI Art War melibatkan hampir seluruh mahasiswa untuk terlibat, baik dengan menjadi kontingen maupun suporter. Momen-momen unjuk kemampuan antar fakultas inilah yang biasanya dimanfaatkan untuk mempererat hubungan sesama mahasiswa dalam fakultasnya sekaligus menunjukkan kekompakan masing-masing fakultas.

Semarak para suporter ini barangkali terbentuk karena solidaritas mahasiswa yang mendukung perwakilan fakultasnya di masing-masing cabang lomba. Untuk mendukung para kontingennya, mereka memiliki yel-yel dan tak jarang dalam beberapa pertandingan, antar suporter berbalas yel-yel dan saling menghina.

Menurut Hutama Dwantara, di perlombaan antar fakultas, terutama yang melibatkan suporter dalam jumlah banyak seperti Olimpiade UI, memang sering ditemui adu yel-yel antar suporter. “Kalau kita sih nggak mau pakai provokasi, tapi kalau udah dipanas-panasin lawan pakai yel-yel yang ngatain gitu ya kita balas,” ungkap koordinator suporter Fakultas Teknik ini. “Tapi saling balas yel-yel cuma sekali aja. Fokus suporter tetap untuk dukung atlet, bukan balas-balasan yel-yel,” lanjutnya.

Berbeda lagi dengan UI Art War dan OIM UI, atmosfer kompetisi yang tidak setegang pertandingan olahraga ini seakan tidak mengharuskan para suporter untuk tampil seramai mungkin. Sehingga supporter disini bersikap lebih tenang.

Beberapa cabang lomba di OIM UI malah mensyaratkan suporter masing-masing kontingen untuk diam dan tertib selama pertandingan berlangsung. Menurut Ecrish Natalia Putri, selaku ketua pelaksana UI Art War 2014, beberapa cabang lomba di UI Art War sampai tidak menganjurkan para suporter masing-masing kontingen untuk datang selama berlangsungnya kompetisi agar tidak mengganggu konsentrasi peserta.

“Sebagai panitia kita sangat mengusahakan agar semua suporter bisa menikmati karya kontingen mereka, nah kendalanya di suporter fakultas lain yang enggak mau keluar dari ruangan padahal ruangannya nggak bisa menampung orang sebanyak itu. Baru sekali ini di UI Art War panitia sampai ngusir-ngusir penonton biar gantian sama penonton fakultas lain,” ungkap mahasiswa Kriminologi 2012 ini.

Perbedaan gaya dan budaya pada masing-masing kompetisi inilah yang secara tidak sadar ikut membentuk gaya dan tingkah suporter yang terlibat di dalamnya.

Beri Dukungan hingga Semarakkan Pertandingan

Memang akan terasa kosong dan berbeda bila tidak ada suporter dalam suatu pertandingan. Suporter ada untuk meramaikan pertandingan yang sedang berlangsung sehingga dapat mencairkan suasana tegang di antara peserta yang bertanding. Selain itu, adanya suporter dapat memberi pengaruh yang baik kepada para peserta.

Seperti yang diungkapkan Bernadetta Winandya, salah satu kontingen voli putri Fakultas Ekonomi. “Suporter tuh membantu banget, apalagi kalau skornya lagi kalah, juga membantu ‘menjatuhkan’ lawan jadi secara nggak langsung kita (para pemain) jadi lebih percaya diri.” tuturnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Dwita Komala Santi, suporter FISIP, saat lomba stand-up comedy di perhelatan UI Art War berlangsung. “Gue sih lihatnya positif ya dengan adanya suporter. Misalnya pas stand-up, kan ada yang kurang lucu, tapi karena suporternya menghargai dengan tepuk tangan terus si komedian jadi termotivasi untuk ngelawak lagi walaupun tetap kurang lucu.”

Selain pengaruh baik yang diberikan suporter kepada para kontingen, pengaruh yang sebaliknya juga dapat timbul karena adanya ulah usil suporter, sehingga fungsi dan kehadiran para suporter menjadi dipertanyakan: apakah kehadiran mereka sepenuhnya untuk mendukung para kontingen atau hanya untuk mencari keseruan dan membuat keributan?

Pertanyaan tersebut dijawab oleh Ivan Husain, suporter Fakultas Teknik, yang mengatakan bahwa adanya yel-yel bernada mencela yang dinyanyikan para suporter bukan menjadi pengganggu konsentrasi dari kontingen fakultasnya sendiri. “Kalau gue sih, suporter gunanya bukan hanya semangatin teman, tapi intimidasi lawan juga penting karena kadang enggak semua yang jago main bisa tahan sama tekanan. Mengganggu pemain memang harus, tapi kalau bisa dalam batas yang wajar, cara yang enggak salah, dan sesuai aturan,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut Ivan, apapun bentuk dukungannya, fungsinya tetaplah untuk membawa pengaruh positif bagi para kontingen, tim lawan, dan atmosfir pertandingan secara keseluruhan. Sehingga euforia yang tercipta dapat memberikan memori yang berkesan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pertandingan.

“Suporter harus wajar dan wajar itu yang penting enggak mengganggu orang lain yang enggak ada kepentingan di Olim itu. Kalau mau mencela boleh aja, yang penting enggak ada SARA (Suku, Ras, Agama) atau bawa-bawa hinaan yang bodoh,” pangkasnya.

Jihaniar Mahiranisa | Andrea Lidwina
Foto: Hafidz Fadli

Komentar



Berita Terkait

Keberagamaan adalah Keseimbangan
Les Desireux & Les Desirables
Memberdayakan Masyarakat Kampung Sitanala Lewat Wirausaha Sosial
Komunitas Pecinta Kertas: Cara Bijak Pakai Kertas