Rektor UI: Dari Dinamika BOP-P ke Perubahan Kurikulum

Friday, 06 December 19 | 11:47 WIB

Muhammad Anis yang merupakan Rektor UI periode 2014-2019, pada tanggal 4 Desember 2019 telah secara resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai Rektor UI. Mengulik kembali mengenai hal-hal yang mewarnai kepemimpinan Guru Besar Teknik Metalurgi UI ini, salah satu permasalahan yang hangat diperbincangkan di tengah sivitas akademika UI adalah isu Biaya Pendidikan Operasional (BOP) bagi mahasiswa. Isu BOP yang diperbincangkan ialah adanya wacana menaikkan BOP-Berkeadilan (BOP-B). Di samping itu, ada pula bahasan mengenai BOP-Paralel (BOP-P). Anis menjelaskan bahwa latar belakang munculnya BOP-P adalah keputusan untuk jangka waktu pendek dalam menangani permasalahan biaya pendidikan yang menunjang kegiatan akademik di UI.

“Tapi itu (adanya BOP-P -red) engga bisa long term, makanya ini tadi saya bilang, ini (BOP-P -red) kebijakan yang short term. Selama saya memimpin, oke. Tapi untuk kepemimpinan yang akan datang (Rektor UI periode 2019-2024 -red), ini tidak sulit lah. Kecuali, ya, kita puas dengan kondisi kualitas kita sekarang. Karena kalau kualitas untuk ditingkatkan, kan ya real,” jelas Anis.

Keputusan diambilnya BOP-P selain karena untuk menangani permasalahan pembiyaan pendidikan dalam jangka waktu sementara, juga karena kebijakan untuk menaikkan batas atas dari BOP-B ditolak oleh mahasiswa.

“Karena ada penolakan itu, saya cari jalan keluar lah. Karena itu yang sementara BOP (BOP-P -red), dan itu sementara jalan keluar karena (kenaikan BOP-B -red) itu ditolak,” lanjut Anis.

Padahal, pada tahun 2015-2016, menurut pemaparan Anis telah terbentuk tim untuk mengevaluasi biaya pendidikan kuliah di UI yang terdiri dari mahasiswa, karyawan, dan dosen. Namun, di tengah perjalanannya terdapat penolakan besar dari pihak mahasiswa lainnya sehingga tim yang terdapat elemen dari mahasiswa tersebut menarik diri dan tidak pernah ada lagi tim evaluasi biaya pendidikan untuk selanjutnya.

“Sudah ada usulan lah waktu itu mahasiswa pernah mengusulkan 7,5-nya (juta -red) itu layak dituntut aksinya menjadi 11 juta batas atasnya (batas tertinggi dari BOP-B untuk Soshum -red). Tapi, begitu mau didalami lagi ya karena ada tekanan dari sebagian lagi mahasiswa, akhirnya timnya dari mahasiswa menarik diri, pokoknya enggak boleh naik, itu antara tahun 2015-2016, tapi pelaksanaan (direncanakan-red) 2015 untuk diberlakukan (di tahun -red) 2016,” kata Anis.

Adapun yang dimaksud dengan batas atas yang berusaha untuk dinaikkan yakni Anis menginginkan agar mahasiswa yang memang benar-benar mampu untuk membayar biaya pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya, dapat melakukan subsidi silang kepada mahasiswa di batas bawah atau batas 0 rupiah. Selain itu, menurut Anis sistem pembagian batas atas dan bawah pada BOP-B telah berlaku sejak tahun 2008 dan seharusnya diubah.

“Karena ini sejak dari 2008. Sekarang sudah 2019, harganya masih kayak 2008. Ini sesuatu yang berat untuk ke depannya untuk dipertahankan terus. Kasihan UI-nya kalau kedepan masih begini terus,” ungkap Anis.

Terkait permasalahan BOP-B tersebut, Anis menguraikan bahwa selama kepemimpinannya sebagai Rektor UI, isu itu merupakan tantangan yang paling dinamis, “saya ini memang dilema, Mbak. Gak mudah juga kalo ditanya mana yang gak tuntas, mungkin ada ketidakberanian saya juga menghadapi dinamika itu, sehingga keluarlah ide (BOP-P -red). Ke depan harus ada rektor yang berani menghadapi tantangan itu. Kalau saya masih kategori permisif, masih belum, makanya gak tuntas kan.”

Menanggapi isu BOP-P, rektor baru yang terpilih yaitu Ari Kuncoro memilih untuk mendalami terlebih dahulu permasalahan ini setelah dirinya dilantik, “jadi kita ini sifatnya adalah silaturrahmi. Kebijakan (terkait BOP-P -red) tuh di-review (dulu -red).”

Di sisi lain, Ari siap untuk mengusung perubahan di dalam sistem kurikulum pendidikan UI karena kebijakan-kebijakan yang ia harapkan di bawah kepemimpinnya harus membuat UI menjadi pilar bagi daya saing bangsa Indonesia.

“Kalau perguruan tinggi berarti apa? Kurikulum. Kalau kurikkulum menjadi apa? Kalau begitu cara mengajarnya bagaimana? Apakah cara ngajarnya masih baca gitu? Text book, hanya satu arah. Nah mungkin harus diubah. Mungkin perlu ada proyek di kelas, ya, kerja sama antara mahasiswa. Melatih dia (mahasiswa – red) kalau nanti dia terjun ke masyarakat. Bukan (tentang -red) IPK-nya yang tinggi. Ya boleh sih kalau ada ujian kan menguji kemampuan individu. Tapi, akhirnya dia juga harus bekerja sama dengan orang,” tutur Ari selaku Rektor UI periode 2019-2024.

Selain itu, Ari Kuncoro yang juga merupakan Guru Besar bidang Ilmu Ekonomi di FEB UI ini rencananya akan mengadakan assignment di dalam kelas yang berguru dari negara-negara maju, “yang paling itu adalah membuat asignment di kelas. Jangan satu arah. Kemudian juga ada misalnya penggunaan dengan media sosial, ya kita lihat. Contoh-contoh di negara lain. Ya. Jadi sifatnya itu adalah tidak menghafal tapi melakukan eksplorasi. Tidak ada yang bener, tidak ada yang salah. Yang ada hanyalah kreatifitas.”

 

Teks: Kezia Estha
Editor: Ramadhana Afida R.
Foto: Rangga A.

 

Pers Suara Mahasiswa UI 2019
Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

Rektor UI Terpilih 2019-2024 Akan Perkuat Kerjasama dan Ubah Metode Pengajaran
Debat Calon Rektor UI 2019: Ajang Adu Argumen Perihal Biaya Pendidikan
Aksi Secure Parking Jilid 2
BEM UI dan Aliansi Pergerakan: Rektor UI Lupakan Asas Keterbukaan dalam Memutuskan Kebijakan