Revolusi Industri 4.0: Masihkah Relevan Gerakan Mahasiswa?

Friday, 18 May 18 | 07:17 WIB

Bahwa sesungguhnya mahasiswa adalah pemuda-pemudi yang memiliki keyakinan kepada kebenaran dan telah tercerahkan pemikirannya serta diteguhkan hatinya saat mereka berdiri di hadapan kezaliman. – Pembukaan UUD IKM UI

Sebagai mahasiswa, kita tentunya sudah tidak asing lagi dengan kata-kata gerakan mahasiswa. Jika kita lihat lebih jauh, gerakan mahasiswa di Indonesia memiliki sejarah panjang. Mulai dari organisasi Budi Utomo hingga berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan hari ini merupakan bagian dari sejarah panjang gerakan mahasiswa. Setiap zaman memiliki dampak nyata masing-masing, mulai dari inisiator persatuan nasional, mendesak kemerdekaan bangsa, hingga menggulingkan penguasa semua itu adalah bukti konkret dari gerakan mahasiswa di setiap zamannya.

Gerakan mahasiswa hari ini terlalu identik dengan aksi turun ke jalan, dan dianggap masih terjebak dengan romantisme era 1998 sehingga dianggap kurang terasa dampak nyatanya di masyarakat. Sekalipun ada mengenai gerakan kreatif di sosial media, hal itu dirasa masih kurang dirasa kehadirannya, terlalu monoton—kurang kreatif dalam pengemasan aksi digital—dan juga dianggap sebagai ‘pemanis’ belaka. Lantas, apakah gerakan mahasiswa masih relevan dan mampu beradaptasi menghadapi revolusi industri generasi keempat?

Revolusi industri generasi keempat merupakan tantangan besar untuk mahasiswa saat ini. Tantangan besar ini bisa menjadi potensi besar, bukan hanya untuk membangun gerakan mahasiswa. Akan tetapi, selain menjadi potensi, revolusi industri generasi keempat ini juga dapat menjadi ancaman, baik untuk gerakan mahasiswa. Itu semua tergantung bagaimana kita melihat, mengolah dan menghadapinya. Apabila mahasiswa zaman ini gagal beradaptasi dan membangun strategi, maka revolusi industri generasi keempat ini dapat menjadi suatu ancaman yang nyata dan membuat gerakan mahasiswa hari ini ditinggalkan karena dianggap tidak relevan.

Seperti yang penulis paparkan di atas, datangnya revolusi industri generasi keempat ini bagaikan pisau bermata dua sehingga diperlukan strategi khusus untuk menjaga eksistensi gerakan mahasiswa agar tetap relevan dan juga agar tetap dapat memberikan manfaat yang nyata untuk UI dan Indonesia. Strategi gerakan mahasiswa tersebut akan penulis rumuskan dalam 4 pilar dalam rangka menjaga tegaknya gerakan mahasiswa. Keempat pilar tersebut ialah Sosial Politik, Pelayanan Kemasyarakatan atau Sosial Masyarakat, Pelayanan Mahasiswa dan Inovasi Karya dan Teknologi. Keempat pilar tersebut tidak dapat berdiri masing-masing, karena setiap pilar memiliki peranannya dalam menjaga eksistensi dari gerakan mahasiswa itu sendiri agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dalam menghadapi revolusi industri generasi keempat.

Sosial Politik menjadi salah satu pilar yang penting karena menyangkut dengan strategi gerakan yang sifatnya vertikal antara rakyat dengan pemerintah, sekaligus berperan sebagai mitra kritis pemerintah agar kebijakan yang keluar adalah kebijakan yang memihak kepada rakyat. Selain itu, gerakan sosial politik juga bertujuan untuk membangun kepekaan sosial terhadap permasalahan yang terjadi akibat berbagai kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat. Fungsi dari gerakan sosial politik ini sendiri sering kita sebut sebagai Agent of Change, Iron Stock dan Social of Control.

Selanjutnya, pilar Pelayanan Kemasyarakatan atau biasa disebut dengan Sosial Masyarakat, adalah suatu kegiatan yang sifatnya ialah horizontal, antara mahasiswa dengan rakyat. Filosofnya ialah, mahasiswa adalah bagian dari rakyat dan sudah seharusnya mahasiswa melakukan sesuatu yang nyata dan langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pelayanan masyarakat ini pun ada banyak jenis dan caranya, bisa berbentuk desa atau komunitas binaan, proyek live in di daerah tertentu dalam kurun waktu tertentu, proyek mengajar, dan masih banyak jenis-jenisnya yang kian hari kian beragam. Oleh karena itu, pelayanan kemasyarakatan ini menjadi salah satu pilar penting, sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa ada untuk rakyat dan gerakan mahasiswa bukan melulu tentang aksi sosial politik turun ke jalan.

Pilar ketiga ialah Pelayanan Mahasiswa. Alasan mengapa pelayanan mahasiswa menjadi pilar gerakan mahasiswa yang ketiga ialah, karena saat ini organisasi kemahasiswaan berbentuk dan berfungsi sebagai “Government” atau yang lazim disebut sebagai Student Government. Dengan konsep tersebut, organisasi kemahasiswaan memiliki tanggung jawab terhadap konstituennya untuk menyediakan pelayanan-pelayanan yang menunjang kebutuhan dan kesejahteraan mahasiswa, baik dalam bentuk advokasi, pengembangan potensi minat bakat ataupun kegiatan yang sifatnya hiburan untuk IKM UI. Melalui pelayanan mahasiswa pula, secara perlahan-lahan dapat dimasukkan nilai-nilai sosial politik baik dalam bentuk nilai acara ataupun substansi acaranya.

Pilar terakhir adalah Inovasi Karya dan Teknologi. Pilar ini merupakan pembaharuan dan inovasi yang dihadirkan dalam rangka menciptakan gerakan mahasiswa yang lebih adaptif akan perubahan, lebih khususnya dalam rangka beradaptasi dengan revolusi industri generasi keempat. Diharapkan dengan adanya pilar ini dapat mendorong sifat ingin belajar serta riset mahasiswa, sehingga membuat mahasiswa tidak gagap akan teknologi sehingga mampu membuat strategi gerakan mahasiswa yang tepat berbasis teknologi. Seperti pilar lainnya, pilar ini pun tidak dapat berdiri sendiri dan membutuhkan ketiga pilar lainnya untuk menjaga eksistensi gerakan mahasiswa.
Dengan adanya 4 Pilar Strategi Gerakan Mahasiswa yakni berupa Sosial Politik, Pelayanan Kemasyarakatan, Pelayanan Mahasiswa dan Inovasi Karya dan Teknologi, diharapkan mampu tetap menjaga eksistensi gerakan mahasiswa sekaligus membuktikan bahwasanya gerakan mahasiswa masih relevan dalam rangka menghadapi revolusi industri generasi keempat. Melalui strategi tersebut pula, gerakan mahasiswa mampu untuk memberikan peran dan kontribusi nyata untuk masyarakat sesuai dengan kebutuhan zamannya, karena setiap generasi memiliki peran dan kontribusinya masing-masing untuk kemajuan bangsa. Akan tetapi, itu semua tidak akan pernah terwujud apabila hal yang paling fundamental dari gerakan mahasiswa tidak dibenahi, yakni masalah eksklusivisme dan gerakan mahasiswa yang tidak solid dan mudah dipecah belah. Oleh sebab itu, membenahi gerakan mahasiswa untuk terus lebih inklusif dan bersatu memang PR bersama untuk siapa saja yang mengaku bagian dari gerakan mahasiswa itu sendiri. Dengan bersatu, maka kita dapat menjalankan keempat pilar tersebut sehingga gerakan mahasiswa masih relevan sesuai dengan perkembangan zaman dan dapat memberikan manfaat yang nyata untuk masyarakat.

Teks: Muhammad Fachri Muchtar (FISIP UI 2016)

Foto:  Istimewa

Komentar



Berita Terkait

Peringati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Mahasiswa Suarakan Tujuh Kebohongan Industri Rokok dalam Pameran dan Seni
Peneliti INDEF: Uraikan Sejarah hingga Rekomendasi Kebijakan Student Loan
Masuki Tahun Politik, BEM FEB UI Ajak Mahasiswa Melek Isu SARA
Pemira IKM UI dan Partisipasi Mahasiswa