Sang Pemula yang Terpinggirkan

Thursday, 11 January 18 | 08:40 WIB

“Pers adalah instrumen paling baik dalam pencerahan dan meningkatkan kualitas manusia sebagai makhluk rasional, moral, dan sosial,” Thomas Jefferson, presiden ketiga Amerika Serikat mengenai pers.

Pada masa perjuangan kemerdekaan, pers menjadi alat penyambung lidah rakyat kaum intelektual untuk mengobarkan semangat kemerdekaan. Akibat dari tulisan-tulisan mereka yang dianggap menghasut, mereka menjadi target pemerintah Belanda dan seringkali berakhir dengan pengasingan agar tidak membuat tulisan-tulisan menghasut dan mengkritik, yang membahayakan bagi pemerintah Belanda.

Pada tahun 1973 Tirto Adhi Suryo ditetapkan oleh Dewan Pers RI sebagai Perintis Pers Nasional. Kehadiran Tirto Adhi Suryo memiliki pengaruh sangat besar bagi zamannya. Seorang tokoh yang memiliki pandangan jauh ke depan. Tirto menjadi bangsawan pertama yang melakukan apa yang disebut oleh kaum komunis sebagai “bunuh diri kelas”, suatu perbuatan yang menyimpang pada masanya. Maka dari itu, Tirto Adhi Suryo disebut sebagai Bapak Pers Indonesia.

Tirto Adhi Suryo yang meimiliki nama lain Raden Mas Djokomono lahir di Blora pada 31 Agustus 1880. Terdapat kontroversi mengenai tahun lahir Tirto Adhi Suryo. Dalam Perdjoangan Indonesia dalam Sedjarah yang ditulis oleh R.M. Priatman (anak sulung Tirto), Tirto Adhi Suryo lahir pada tahun 1875. Menurut Ahmat Adam dalam bukunya yang berjudul Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan, Tirto Adhi Suryo lahir pada tahun 1878. Sedangkan menurut Pramoedya Ananta Toer dalam tetraloginya mengatakan bahwa Tirto Adhi Suryo lahir pada tahun 1880.

Terlepas dari itu, Tirto terlahir sebagai keturunan dari Pangeran Sambernyowo (Pangeran Penyebar Maut), yang tak lain adalah Mangkunegara I. Tulisan-tulisan fiksinya, terutama Busono, hanya menggambarkan samar-samar kedua orang tuanya. Namun berkali-kali ia menyebutkan kakeknya, R.M.T. Tirtonoto, Bupati Bojonegoro, dan neneknya, Raden Ayu Tirtonoto. Ayahnya, R. Ng. Hadji Moehammad Chan Tirtodhipoero adalah seorang pegawai kantor pajak.

Tirto Adhi Suryo menempuh pendidikan di ELS (pendidikan setingkat sekolah dasar) yang berada di Rembang, kemudian pada tahun 1894 ia lulus pada usia sekitar 14 tahun. Menurut buku Bumi Manusia, Tirto sempat menempuh pendidikan di HBS dan merupakan salah satu dari sedikit murid pribumi yang mahir dalam menggunakan bahasa Belanda.

Tirto kemudian melanjutkan pendidikan ke STOVIA di Batavia yang merupakan sekolah dokter. Sebagai seorang bangsawan pribumi yang berkesempatan untuk menempuh pendidikan disekolah Belanda, tentu saja atas dukungan ayahnya, ia tentu bertumbuh dengan pola pikir kebarat-baratan. Namun, ia lebih sering menggunakan Bahasa Belanda atau pun Jawa ke sejumlah surat kabar terbitan Betawi. Sayangnya ia tak sampai tamat STOVIA karena pada saat itu ia lebih sibuk menulis di media massa. Setelah meninggalkan STOVIA ia diangkat menjadi redaktur Pembrita Betawi.

Selama enam tahun ia menjalani pendidikan di STOVIA, Tirto yang merupakan pemuda Jawa tulen mengenal Bahasa Melayu ketika ia berada di pesta kelulusan siswa yangmana pada waktu itu ia berbaur dengan banyak orang yang berbahasa Melayu. Kemudian barulah ia mulai membuat tulisan-tulisan yang dikirimkan ke berbagai surat kabar dengan bahasa Melayu. Saat berusia 20 tahun Tirto dikeluarkan dari STOVIA dan bergabung di Chabar Hindia Olanda (Batavia, 1888-1897). Tirto Adhi Suryo merupakan bangsawan Jawa pertama yang dengan sadar masuk perniagaan sebagai jurnalis.

Tirto Adhi Suryo terus tekun dalam menulis. Salah satu karyanya ialah cerita bersambung Pereboetan Seorang Gadis yang dimuat pertama kali di Pembrita Betawi. F. Wiggers, tertarik akan pemikiran Tirto sehingga pada bulan Mei 1902 ia mengangkat Tirto sebagai redaktur. Namun jabatan ini tidak bertahan lama. Tirto berhenti pada tahun 1903 karena perbedaan pendapat antara dirinya dan Wiggers.

Kemudian, ia menjual segala kepunyaannya di Betawi dan pergi ke Desa Pasircabe, 3 pal dari kota Bandung. Di desa yang belum dikenalnya itu, Tirto bertemu dengan Bupati Cianjur, R.A.A. Prawiradiredja yang menawarkannya bekerja sebagai pegawai negeri dengan upah 40 f, namun ditolak oleh Tirto. Lalu, Prawiradiredja membantu Tirto sebagai pemodal untuk menerbitkan surat kabar sendiri dengan nama Soenda Berita, yang merupakan surat kabar nasional pertama yang menggunakan bahasa pengantar Bahasa Melayu dengan pribumi sebagai pengelola dan pekerjanya. Dalam Soenda Berita, Tirto memuat rubrik wawasan mengenai ilmu-ilmu umum yang tujuannya adalah untuk mencerdaskan rakyat.

Selanjutnya Tirto juga merupakan penulis di surat kabar Oranje Nassau (1904). Ia  menggunakan Bahasa Belanda dalam surat kabar tersebut. Kebanyakan pembacanya adalah pribumi. Tujuannya adalah memberikan kesempatan bagi pribumi untuk memahami bahasa penjajah mereka. Walau kemudian ia mendapat kecaman dari kalangan orang Belanda.

Tidak hanya Soenda Berita dan Oranje Nassau, Tirto juga mendirikan  beberapa surat kabar seperti, Medan Prijaji serta Soeloeh Keadilan, (1907), dan Poetri Hindia (1909). Ia juga redaktur di Staatsblad Melayoe.

Sebagai orang yang berani menyatakan pendapatnya lewat tulisan pada masa itu, Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa Tirto Adhi Suryo sempat mengganti nama sebagai Max Tollenaar ketika masih menjadi siswa HBS dengan tujuan agar ia dan karyanya dapat diterima publik.

Pada 1 Juli 1908 muncul Poetri Hindia di Betawi. Poetri Hindia merupakan terbitan yang pertama bagi gerakan wanita pribumi di negeri Hindia. Raden Adipati Tirtokoesoemo diumumkan sebagai salah satu pimpinan redaksi Poetri Hindia semata-mata hanya karena ia seorang presiden Boedi Oetomo setelah 1909 dan berharap agar Ny. Tirtokoesoemo sudi menulis dalam surat kabar tersebut. Poetri Hindia memiliki tim redaksi yang semuanya diisi oleh wanita.

Keberhasilan Tirto sebagai redaktur adalah karena hubungan dekatnya dengan Gubernur Jenderal Van Heutsz, yang memberinya perlindungan dari gangguan birokrasi. Pada 1909 Van Heutsz hengkang meninggalkan jabatannya dan digantikan oleh A.W.F Idenburg. Gubernur Jenderal yang baru ini sama sekali tidak memberikan perlindungan kepada Tirto. Ia pun pernah mengasingkan Tirto selama dua bulan karena tuntutan persdelict. Hal ini membuat para penulis menjadi takut. Perusahaan Eropa tidak mau lagi menempatkan iklannya dalam surat kabar Medan Prijaji. Para pegawai Belanda dan bumiputera yang pernah diserang olehnya melakukan balas dendam.

Medan Prijaji akhirnya mengalami kesulitan finansial. Para pelanggan dianjurkan untuk membeli saham perusahaan ini dan uang langganan diperkecil. Bantuan hukum dan potongan harga untuk menginap di Hotel Medan Prijaji Batavia ditawarkan ke pemegang saham.

Kemudian Tirto mendirikan Sarekat Dagang Islamijah pada tanggal 27 Maret 1909 di rumahnya di Bogor yang terdiri dari orang-orang golongan menengah kala itu dengan sebutan Kaoem Mardika dengan pengikatnya adalah Islam. Semasa SDI berdiri, Tirto selalu berhadapan dengan seorang Belanda yang selalu menganggap diri “musuh besar” bagi Tirto sejak awal ia berkancah dalam dunia jurnalistik. Dia bernama Dr. D.A Rinkes, Kepada Gubernur Jenderal Idenburg. Rinkes menuliskan surat rahasia yang menggambarkan Tirto sebagai sosok yang tahu betul bagaimana menggunakan media sebagai sarana mengkritik pemerintah.

Menurut Takashi Shiraishi dalam bukunya yang berjudul Zaman Bergerak, ia menyebutkan Tirtho Adi Suryo sebagai wartawan Indonesia pertama yang menggunakan surat kabar sebagai pembentuk pendapat umum, menulis kecaman pedas terhadap pemerintah dan menentang paham kolot, dalam hal ini adalah para bangsawan. Tirto sangat menentang paham kolot tersebut karena dianggap bertolak belakang dengan paham-paham kemajuan, yang tercetus dalam pola pikirnya yang sangat Eropa.

Beliau akhirnya wafat pada tanggal 7 Desember 1918 dan dimakamkan di Mangga Dua, Jakarta. Kemudian ia dimakamkan kembali di pemakaman Blender, Bogor pada 30 Desember 1973. Tidak ada pidato-pidato sambutan dan tidak ada surat kabar yang memberitakan perihal kisah hidup dan kematiannya.

Selanjutnya, berdasarkan Keppres RI No. 85/TK/2006 yang dikeluarkan tanggal 3 November 2006 menetapkan Tirto Adhi Suryo sebagai Pahlawan Nasional. Pada 3 November 2006 Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana diberikan untuk keluarganya.

Tirto terus menyuarakan pendapat dan menunjukkan perannya dalam dunia pers meski di saat itu ia dianggap sebelah mata oleh kawan-kawannya yang Indo.  Bahkan ia sampai hati meninggalkan kebangsawanannya demi mencerdaskan rakyat. Hingga akhirnya, dalam buku Bumi Manusia, Tirto dapat menikahi sosok Annelies, yang menjadi simbol bahwa inlander kini tak ada bedanya dengan Indo. Seorang inlander bahkan bisa membuat dirinya layak disebut sebagai Pahlawan Nasional.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Sosial RI. 2012. Wajah dan Perjuangan Pahlawan Nasional.

Pramoedya Ananta Toer. 1985. Sang Pemula. Jakarta: Hasta Mitra.

Pramoedya Ananta Toer. 2005. Bumi Manusia. Jakarta: Lentera Dipantara.

Takashi Shiraishi. 1997. Zaman Bergerak; Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Pustaka Utama Grafiti.

 

 

Teks: Alfa Tirza Aprilia

Foto: Kemdikbud.go.id

Editor : Halimah Ratna Rusyidah

Komentar



Berita Terkait