Sastra Penggugat Kolonialisme

Monday, 01 May 17 | 04:20 WIB

Judul Buku    : Max Havelaar

Penulis           : Multatuli / Eduard Douwes Dekker (1820-1887)

Penerbit         : Qanita, Mizan Pustaka

Tahun Terbit : 2014 (Cetakan III)

Tebal Buku    : 480 halaman

“Buku ini campur aduk; tidak beraturan, hanya ingin mengejar sensasi. Gayanya buruk; Penulisannya tidak berpengalaman; tidak berbakat, tidak punya metode.”

-Multatuli-

Batavus Droogstoppel, makelar kopi, dan tinggal di Lauriergracht No. 37, Amsterdam. Tuan makelar kopi yang gersang hatinya ini tidak pernah membayangkan dirinya untuk menulis sebuah buku. Ia membenci sastra.

Menurutnya, sastra adalah kebohongan dari permainan rima. Hidupnya ia dedikasikan pada pekerjaannya sebagai makelar kopi. Namun, pertemuannya dengan  pria paruh baya dengan syal kumuh yang tak sudi ia sebut namanya itu, mengubah keputusan tuan Droogstoppel yang terhormat mengenai tulis-menulis.

Sjaalman, lelaki yang memakai syal, mendatanginya dengan kemiskinan yang membuat Droogstoppel muak. Paket yang dikirim Sjaalman pun tak kalah memuakkan di mata Droogstoppel. Hanya saja, catatan-catatan tentang kopi dari Hindia Belanda itu membuatnya tertarik. Sehingga ia, yang jiwanya selalu menuntut akan kejujuran, ingin menerbitkan sebuah buku tentang kopi.

Dengan bantuan Ernest Stern, seorang pemuda Jerman, anak dari rekan bisnisnya, Droogstoppel menulis sebuah buku yang harus berjudul “Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda”.

Kemudian, mulailah sebuah cerita tentang seorang asisten residen baru daerah Lebak, Banten,  bernama Max Havelaar. Ia cerdas, pemberani dan eksentrik. Jiwa sosialnya yang tinggi tak bisa membiarkan orang lain kesusahan, meskipun ia dan keluarganya, Tine sang istri yang sederhana dan Max kecil yang periang, sebagai korban dari rasa belas kasih yang berlebihan itu.

Havelaar tak kuasa melihat penderitaan pribumi yang meronta minta tolong, tetapi selalu dibungkam oleh tirani berwujud Bupati Lebak, Karta Nata Negara.

Kemudian di antara skandal Lebak tersebut, kisah Saidjah dan Adinda terselip sebagai roman tragis, bukti dari kekuasaan yang semena-mena dan ketidakberdayaan rakyat terhadap penguasa.

Tidak usah dicari kedua sejoli atau penduduk-penduduk lain yang terbungkam karena yang perlu dibuktikan adalah benar ada atau tidaknya perlakuan buruk yang diperoleh kaum bumiputera. Itu saja.

Kiranya pada pertengahan abad XIX, Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker telah diterbitkan di Belanda. Namun, hingga kini geloranya masih sama dalam memporak-porandakan perasaan.

Eduard Douwes Dekker (Multatuli)

Bukan hanya sebagai sastra yang menyuguhkan keindahan lewat penyusunan kata-katanya, Max Havelaar hadir sebagai mahakarya perjuangan melawan tirani yang ditorehkan dalam goresan-goresan pena. Menggetarkan dan sarat akan makna.

Multatuli, nama samaran Douwes Dekker yang berarti “yang telah banyak menderita”, memang ahli dalam memperindah sebuah fakta. Di tangannya, fakta-fakta lapangan yang kejam tentang penindasan rakyat Hindia Belanda disulap menjadi sebuah karya yang jenaka, menarik namun penuh akan ironi.

Buku yang dibuat mantan pegawai pemerintah Hindia Belanda ini pantaslah jika disebut sebagai gerbang pembuka jalan terang menuju kemerdekaan, kebebasan. Tanpa pengungkapan tentang kong-kalikong para pejabat Hindia Belanda dan pribumi tentunya keadaan bangsa yang dijajah itu akan sama saja, terus-terusan terbungkam.

Kisahnya memang tumpang tindih, tak jelas siapa yang diceritakan, dinarasikan, dan dideskripsikan. Droogstoppel? Ernest Stern? Max Havelaar? Atau malah si pemecah batu yang juga terselip seperti cerita Saidjah dan Adinda? Tanpa berujung, semuanya ingin berkisah dan bercerita.

Multatuli yang telah banyak menderita itu memiliki tujuan yang jelas, ia ingin membuat pembacanya fokus, ingin membuat pembaca membaca apa yang seharusnya ia baca tanpa melewatkan detail apapun.

Bahwasanya, buku yang berada pada peringkat ke-3 dari 10 novel terbaik di Belanda versi harian NRC Handelsblad tahun 2007 lalu memang ada untuk dibuktikan realitasnya.

Memang ada di sana jauh dari negeri Belanda, yang makmur karena kopi dari Hindia Belanda, sebuah negara di garis katulistiwa yang menderita rakyatnya, mati kelaparan, miskin, mencoba meneriakkan suara tapi selalu dibungkam.

Multatuli ingin menunjukkan mereka ada, dijajah dan terbelakang. Mana keadilan? Multatuli menggugat dengan Max Havelaar.

Teks: Nony Amanda A.

Foto: KITLV dan Sumber Istimewa

Editor: Eri Tri Anggini

Komentar



Berita Terkait