Sea Prayer: Seorang Ayah Yang Mengemis Pada Samudra

Sunday, 10 February 19 | 09:09 WIB

Judul buku     : Sea Prayer

Penulis            : Khaled Hosseini

Penerbit         : Bentang

Waktu terbit  : Agustus 2018

Tebal             : 48 halaman

ISBN               : 978 602 402 126 9

Sebuah buku dengan penjualan lebih dari 55 juta eksemplar di puluhan negara hanya dalam waktu beberapa bulan, ditulis oleh penulis legendaris. Tapi, bukan sekadar itu yang menjadikan Sea Prayer istimewa, melainkan mengenai apa yang memelopori terbitnya buku ini, yaitu luka besar kemanusiaan. Ya, Khaled Hosseini menulis buku ini karena prihatin dengan krisis pengungsi yang sudah pada klimaksnya.

Sea Prayer mengawinkan tiga poin menarik sekaligus. Pertama, buku ini ditulis Khaled Hosseini, penulis yang tidak satupun bukunya luput dari rak best seller di banyak negara. Kedua, buku ini dipenuhi ilustrasi cat air Dan Williams di tiap halamannya. Ketiga, buku ini mengangkat isu dilema pengungsi, salah satunya masalah kemanusiaan yang sering diabaikan.

Jadi, ironi yang memantik Khaled Hosseini menulis Sea Prayer pada September 2015, terjadi ketika ombak Laut Mediterania mengantarkan mayat seorang bocah ke pantai Turki. Menggegerkan dunia kemanusiaan, bahwa krisis pengungsi sudah melampaui darurat. Namanya Alan Kurdi, satu dari sekian banyak pengungsi Suriah yang terpaksa meninggalkan tanah kelahiran untuk mempertaruhkan nyawa di samudra, mencoba menggapai Eropa untuk mencari suaka. Dan sialnya, Alan Kurdi kalah dalam pertaruhan ini. Samudra menelan hidupnya, tapi memekarkan ceritanya, karena terdamparnya bocah mati ini menjadi sebab Sea Prayer rilis.

Sea Prayer, buku puisi kaya ilustrasi ini merupakan karya penulis kenamaan Khaled Hosseini. Ia adalah seorang penulis Afghan Amerika, yang juga merangkap profesi dokter. Buku-buku karyanya langganan masuk ke daftar New York Times Best Seller diantaranyaThe Kite Runner, A Thousand Splendid Suns, dan The Mountain Echoed. Ketiganya adalah novel berlatar Afghan yang mengocok emosi. Sea Prayer sebagai buku puisi, agak berbeda.

Buku ini menjadi ungkapan keprihatinan dan empati Khaled Hosseini terhadap terdamparnya mayat Alan Kurdi secara khusus, dan krisis pengungsian di seluruh dunia secara umum. Ia menulis puisi dari sudut pandang seorang ayah yang bercerita pada putranya. Diawali dengan sapaan hangat, my dear Marwan, sebagaimana yang umum ditulis di surat-surat untuk keluarga. Kemudian, si ayah ini menarasikan sebuah kilas balik Suriah yang romantis: kehangatan rumah di masa kecil beliau, bangunan-bangunan ibadah milik agama-agama berbeda yang berdiri berdampingan, aneka barang yang bisa ditemui di pasar, dan indahnya pasar dan berbagai tempat lain di kota. Hal-hal yang mungkin luput dari ingatan Marwan. Tentu saja, Marwan sebagai bocah hanya mengenali Suriah yang bising oleh tembakan dan bom, melewati hari dengan napas takut-takut, mendapatkan ancaman di tiap langkah kaki, dan terutama keharusan meninggalkan tanah air.

Kemudian, baris-baris yang menguras ironi. Sajak ini dilanjutkan tentang puja dan ungkapan cinta terhadap Marwan. Setiap ayah pasti memelihara puja dan cinta pada putra mereka. Ayah Marwan juga seperti itu, tapi sayangnya, ia tidak bisa memelihara puja dan cinta itu terlalu lama, dalam keadaan krisis seperti ini. Sajaknya dilanjutkan dengan narasi keharusan melaut untuk mendarat di negeri yang lebih aman serta kengerian akan samudra itu sendiri. Tidak ada yang memiliki cukup daya untuk menyelamatkan diri di tengah samudra yang entah akan bertingkah bagaimana. Maka, sang ayah mengemis pada samudra, untuk mendekap erat Marwan. Sea Prayer, doa samudra.

Sarat dengan ironi dan kepiluan, puisi ini begitu khas tulisan Khaled Hosseini. Ada nyawa dalam alur puisinya. Pembaca diajak untuk bukan sekadar empati, tapi untuk larut menjadi si tokoh utama. Khaled menggandeng pembaca untuk menjadi si ayah, untuk merasakan hasrat bercerita pada putranya, merasakan penuhnya doa yang ia langitkan, dan merasakan perisai pura-pura tegar yang si ayah rasakan. Sebuah buku yang tidak hanya mengocok emosi, tapi juga mencolek kita bahwa dilema kemanusiaan macam ini masih ada, krisis pengungsi masih jadi masalah yang tidak kunjung selesai bahkan di zaman modern ini.

Kritik yang banyak bermunculan dari pembaca adalah tipisnya buku ini, tidak sampai 50 halaman. Bisa diselesaikan hanya dalam rentang satu putaran lagu. Rupanya, para pembaca yang kebanyakan memang penggemar Khaled Hosseini, berekspektasi bahwa buku ini akan lebih berisi, dengan cerita yang lebih panjang dan kisah yang lebih kompleks, sebagaimana tiga buku Hosseini sebelumnya. Apalagi, ilustrasi cat air Dan Williams lebih mendominasi buku ini dibanding tulisan Khaled sendiri. Di samping itu, berkali-kali tercantum penegasan di buku ini bahwa ini memang karya yang didedikasikan untuk para pengungsi dan korban perang serta nasib pilu mereka. Disebutkan pula bahwa sebagian royalti dari buku ini didonasikan ke UNHCR, UN Refugee Agency, dan Khaled Hosseini Foundation. Mungkin, penegasan ini jadi semacam ‘dalih’ untuk meredam protes kecewa pembaca akan singkatnya buku ini.

Buku yang terbit pada Agustus 2018  ini tidak akan cocok bagi pembaca yang mengharapkan novel panjang dengan alur lika-liku seperti The Kite Runner, A Thousand Splendid Suns, And Mountain Echoed yang langganan bertengger di nominasi best seller dan diterjemahkan ke puluhan bahasa. Tapi, buku ini akan jadi selingan yang menorehkan kesan bagi pembaca yang peka, atau yang memang penggemar Khaled Hosseini.

Teks: Prita Permatadinata
Foto: Prita Permatadinata
Editor: Grace Elizabeth

Pers Suara Mahasiswa UI 2019
Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait