Setengah Tahun Berjalannya Secure Parking

Thursday, 27 February 20 | 05:12 WIB

Secure Parking telah menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa UI sejak pertama kali diujicoba pada pertengahan bulan Juli 2019. Sebagaimana ditegaskan BEM UI, mahasiswa UI akan terus mengawasi perkembangan efektivitas secure parking. Pihak UI mengatakan bahwa secure parking diberlakukan untuk mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang memasuki UI. Dalam perjalanannya, pemberlakuan secure parking menuai beberapa pro dan kontra dari kalangan mahasiswa. Sebagian ada yang mendukung, sebagian ada juga yang mengatakan tidak. Sekarang, sudah lewat enam bulan dari masa uji coba secure parking. Bagaimana tanggapan mahasiswa UI?

Berangkat dari pertanyaan di atas, Suara Mahasiswa tergerak untuk melakukan wawancara dengan beberapa mahasiswa UI dari lintas fakultas terkait kebijakan secure parking di UI. Walaupun tidak bisa dijadikan acuan atas tingkat keberhasilan secure parking, wawancara ini diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai beragamnya suara atas kebijakan ini.

Pada 19 dan 20 Februari, Suara Mahasiswa UI mewawancarai beberapa mahasiswa UI lintas fakultas mengenai tanggapan mereka terhadap secure parking. Dua dari tiga mahasiswa UI memberikan tanggapan sedikit kecewa terhadap pemberlakuan secure parking. Pasalnya, mahasiswa UI merasa bahwa pada work hour atau jam ramai, lalu lintas di pintu keluar justru terhambat dengan adanya secure parking. “Gue justru ngerasa pos secure parking justru jadi salah satu penyebab semakin macetnya lalu lintas di UI,” ujar Cinta, mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi UI. Selain itu, semakin jauhnya jarak memutar balik ke arah Margonda juga menjadi salah satu masalah juga yang pastinya berkaitan dengan uang bensin.

Walaupun tujuan greenmetric yang diusung oleh UI adalah mengurangi jumlah kendaraan pribadi, kenyatannya tujuan ini belum tercapai menurut mahasiswa. Mereka juga kurang setuju dengan pemberlakuan tarif terhadap kehilangan karcis. Selain sanksi pembayaran yang tidak pas di kantong mahasiswa, mereka menilai bahwa alasan UI untuk memberikan efek jera belum efektif. “Opini gua pribadi, secure parking ga mengurangi penggunaan motor di UI,” jelas Fawzi Muhtadi, Ketua Umum DPM UI 2020.

Sementara, menurut Bani, Kadep Adkesma BEM UI, itikad baik UI harus diperhatikan lagi oleh segenap sivitas akademika UI. Menurutnya, kebijakan ini tidak serta merta dibuat, melainkan sudah melalui Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin) dan sudah berkoordinasi dengan warga setempat serta pemerintah Depok. Selain itu, untuk implementasi pada motor, menurutnya sah-sah saja, selama UI sudah menerbitkan SK rektor dan  mengikuti tarif serta sistem dari pemerintah Depok. Hal ini tentunya dengan satu catatan, yakni mahasiswa UI yang tidak mampu dapat diberikan sistem berlangganan secara gratis tanpa ada pembatasan kuota.

“Karena kita memegang kata-kata dari prof Gandjar sendiri kalau misalkan pengelolaan parkir terintegrasi ini bukan merupakan ajang komersialisasi,” ujar Bani di akhir wawancara.

 

Teks: Ahmad Thoriq
Kontributor: Satrio Alif
Foto: Azka Alfuady
Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas

Komentar



Berita Terkait