SGRC UI: Mengkaji Seksualitas dalam Tataran Akademis

Wednesday, 25 March 15 | 10:52 WIB

Support Group and Resource Center (SGRC) UI, merupakan organisasi tingkat universitas yang fokus membahas isu-isu seksualitas secara akademis. SGRC awalnya dibentuk oleh Ferena Debineva, alumni Fakultas Psikologi angkatan 2008 dan Febi, mahasiswa Antropologi, bersama beberapa rekannya dari berbagai fakultas sekitar bulan Mei 2014.

Ketika ditanya mengenai tujuan didirikannya SGRC, Ferena menjelaskan bahwa ia mengaitkan topik skripsinya yang fokus pada masalah seksualitas, dengan  kondisi diskriminasi dalam lingkup seksualitas dan psikologi yang hingga saat ini belum memiliki wadah. Maka, terbentuklah SGRC sebagai wadah untuk mengakomodasi berbagai sudut pandang untuk melihat sisi lain dari diskriminasi itu.

Mengenai status SGRC berupa organisasi tingkat universitas, bukan tingkat fakultas maupun departemen, Ferena memiliki alasan tersendiri.

“Sebaiknya kita tidak menurunkannya ke tingkat fakultas atau jurusan karena justru yang jadi poin tambahnya adalah kita bisa multidisiplin dan interdisiplin. Misalnya, gue selama ini ngeliat dari sisi psikologi doang, gak tau dari sisi sosiologinya”, ujar wanita yang kerap disapa Fey ini.

SGRC memiliki kegiatan rutin berupa arisan. Melalui arisan, diskusi internal dan proses pengedukasian dilakukan. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap dua minggu sekali.

Tema dan nama yang dibawa dalam diskusi ditentukan dengan teknik seperti arisan ketika pertemuan berlangsung. Ada pula kegiatan lainnya berupa seminar dan akan disusul dengan peer counseling camp serta pembuatan modul tentang seksualitas.

Kehadiran organisasi ini ternyata menuai anggapan yang beragam. Karlina, mahasiswi FISIP yang juga anggota SGRC menuturkan, “Alasan aku ikut organisasi ini karena aku ngerasa isu seksualitas itu isu yang menarik. Sexuality itu kajian yang nyata, tapi kebanyakan orang takut ngomonginnya, mereka yang bicara soal seksualitas dicap macam-macam : mesum, gay, lesbian, ateis, kebarat-baratan. Aku anak sosial, jadi aku sadar banget sama nilai-nilai dan kontruksi sosial budaya.”

Di sisi lain, Rohman, mahasiswa Fakultas Hukum, mengungkapkan pandangan yang berbeda. “Setau gue, organisasi itu tempatnya orang-orang kepo dan membuat kajian ilmiah tentang isu gender dan seksualitas. Gue pribadi respect dengan program dan visi yang hendak dituju, namun secara misi dan praktek ada kekhawatiran mengarah pada liberalisasi status dan peranan. Berpikiran terbuka tidak harus melangkahi kaidah berpikir normatif,” ujar Rohman.

Namun, dukungan terhadap organisasi ini juga datang dari Zoya Amirin, seorang psikolog di bidang seksualitas, “Kalau saya sih mendukung saja, selama memenuhi tujuan dimana semua mahasiswa dengan gender apapun, dengan orientasi seksual apapun, dia bisa menjalani kehidupannya dengan sehat dan bahagia.”

Menanggapi adanya pro dan kontra terhadap organisasi bentukannya, Fey menjelaskan, “Kebanyakan orang taunya sexuality itu cuma aktivitas seksual, hubungan intim. Padahal kamu memakai jilbab, kamu memakai make up, itu pilihan kamu, dan itu adalah sexuality. Kalau orang-orang berpikir sexuality itu menyuruh free sex, party, itu nggak banget! Justru kita belajar tentang sexuality supaya kita mengerti dalam tataran akademisnya. Dimana tabunya?”

Di akhir wawancara, Fey juga mengemukakan harapannya terhadap organisasi ini. SGRC diharapkan dapat terus berkembang dan membuat orang-orang tahu dan belajar tentang seksualitas dengan lebih terbuka untuk mendukung kesejahteraan.

Selain itu, SGRC juga diharapkannya dapat mengedukasi kepribadian seseorang menjadi individu yang lebih bertanggungjawab melalui pendidikan yang komprehensif terkait dengan isu seksualitas.

Pingkan Ayudita

Foto: @SGRCUI

Editor: Dara Adinda Kesuma Nasution

Komentar



Berita Terkait