Simbol Politik di Balik Tokoh Kartini

Friday, 21 April 17 | 08:13 WIB

Dari banyaknya tokoh perempuan di Indonesia seperti Dewi Sartika, Hajah Rangkayo Rasuna Said dan Rohana Kudus, hanya Kartini yang namanya diabadikan sebagai pahlawan nasional yang diperingati sebagai hari besar.

Menurut Tini Ismiyani selaku Dosen Sejarah UI, sosok Kartini lebih banyak dikenal oleh masyarakat karena tiga hal: kebijakan pemerintah, media, dan publikasi.

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964, tanggal 21 April ditetapkan sebagai Hari Kartini oleh Soekarno.

“Waktu itu memang situasi zeitgeist-nya (semangat zaman –red) itu kan Soekarno memang butuh simbol perempuan (akibat maraknya poligami –red), kemudian terpilihlah Kartini. Mungkin dia mewakili representasi perempuan yang ingin disimbolkan Soekarno: Jawa, berkebaya, bersanggul, dipoligami,” jelas Tini.

Berbeda dengan tokoh perempuan lainnya, Kartini mempublikasikan aksi dan pemikiran-pemikirannya melalui surat-surat yang ditulisnya. Pemikiran Kartini yang menonjol yaitu tentang kebebasan, pendidikan, nasionalisme dan agama.

“Nulis itu juga sesuatu yang harus kita hargai bahwa dia punya suatu kesadaran untuk mengarsipkan, untuk menuliskan. Itu ada di budaya kita ga? Kita nulis ga? Nah Kartini ini meninggalkan jejak-jejak tadi, tulisan,” tutur lulusan Magister UI itu.

Pada awal-awal, dalam suratnya, Kartini bersikap berontak terhadap agamanya. Saat itu, masyarakat bumiputera belajar membaca alquran tanpa mengetahui artinya. Hal tersebut dikritik oleh Kartini. Namun, memasuki tahun 1902-1903 ada perbedaan pandangan religius Kartini.

“Jadi saya rasa dia terlihat banyak sekali perubahan di awal, sekarang di awal dia berontak terus sekarang dia menganggap Eropa itu adalah segala-galanya: tempat kebebasan, tempat yang indah, tempat kemanusiaan, tempat segala macam,” imbuh Tini saat ditemui pada Jumat (14/4) lalu.

Di surat-surat terakhirnya Kartini menanyakan kepada Abendanon (orang yang menerbitkan surat-surat Kartini –red), “Apakah bangsa Anda sudah sangat begitu manusiawi terhadap bangsa kami?”

Menanggapi pertanyaan tersebut, Tini menjelaskan bahwa Abendanon sebenarnya tidak berpihak kepada masyarakat bumiputera melainkan berpihak kepada kepentingan Belanda,

“Ia (Abendanon –red) saat itu menjabat sebagai menteri kebudayaan, pendidikan. Nah pendidikan yang dipunyai oleh barat ini sebagai media doktrinasi kepada masyarakat bumiputera,”

Kepentingan politik etis yang berkembang saat itu dimanfaatkan oleh Abendanon untuk menggerus kekuatan Islam di Jawa dengan mentransfer nilai-nilai barat melalui kalangan ningrat seperti Kartini.

Dijelaskan pula bahwa westernisasi dilakukan melalui pendidikan sebagai alat untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap dunia barat sekaligus menahan gencatan kaum Islam di Indonesia yang berseberangan dengan kepentingan Belanda.

 

Teks: Kezia Estha Tumbol

Ilustrasi: Ahmad Fauzy Habiby

Editor: Eri Tri Anggini

Komentar



Berita Terkait