Sinestesia : Warna-warni Penuh Arti

Thursday, 09 June 16 | 03:33 WIB

Nama album      : Sinestesia

Artis                    : Efek Rumah Kaca

Genre                  : Indie, Alternative

Label                   : Jangan Marah Records

Tanggal Rilis     : 18 Desember, 2015

 

Setelah tujuh tahun dinantikan oleh para penggemarnya, pada akhirnya band Efek Rumah Kaca (EKR) yang terkenal sebagai salah satu grup band indie di Indonesia ini berhasil menyuguhkan ‘angin segar’ lewat album barunya yang bertajuk Sinestesia.

Durasi menjadi pembeda pada album-album sebelumnya, dimana lagu terpendek berdurasi tujuh menit, sedangkan lagu terpanjang mencapai tiga belas menit. Lagu dengan durasi panjang seperti ini biasa ditemukan pada pemusik-pemusik dengan genre progressive rock pada tahun 1970-an, yang kemudian berusaha diangkat kembali oleh ERK dalam warna-warni album Sinestesia kali ini.

Baru dirilis pada 18 Desember 2015 dengan format digital pada saat itu, tidak butuh waktu lama bagi Sinestesia untuk mampu menyedot atensi publik hingga berhasil masuk pada kategori Top Album di iTunes hingga dikeluarkan bentuk fisiknya setelah tiga hari bercokol di langit piranti perpustakan musik Apple.inc.

Judul Sinestesia sendiri berangkat dari ide sang bassist, Adrian Yunan Faisal, yang selama ini ikut andil dalam pembuatan album, meskipun sempat absen dalam beberapa pertunjukan ERK karena mengalami gangguan penglihatan yang dinamakan behcets disease.

Kondisi tersebut membuat persepsi Adrian bercampur baur, seperti melihat warna berbeda jika mendengar nada atau melihat angka tertentu. Tak hanya judul album, ia juga mencetuskan judul dari enam lagu dalam album Sinestesia; “Merah”, “Biru”, “Jingga”, “Hijau”, “Putih”, dan “Kuning”.

Warna-warna tersebut merupakan warna yang ia lihat kala mendengarkan lagu yang diciptakannya bersama personel lain seperti, Cholil Mahmud dan Akbar Bagus Sudibyo. Alasan terciptanya judul warna pada enam track di album ini adalah untuk menyajikan interpretasi kepada para pendengar.

Selain warna yang memiliki makna tersendiri, setiap lagu dalam album ini terdiri atas fragmen lagu sehingga tidak heran jika durasinya menjadi cukup panjang. Misalnya, “Biru” yang berisikan lagu “Pasar Bisa Diciptakan” dan “Cipta Bisa Dipasarkan”.

Tak hanya itu, Biru sendiri sebenarnya merupakan elaborasi lebih lanjut dari lagu “Cinta Melulu” pada album pertama mereka, Efek Rumah Kaca (Self Titled) yang banyak menceritakan tentang kegelisahan mereka terhadap proses berkarya sebuah karya seni di industri musik.

Hal ini nampaknya juga menjadi pendorong ERK untuk tetap konsisten menciptakan karya di jalur independen, seperti dalam potongan lagu “Pasar Bisa Diciptakan” sebagai salah satu fragmen lagu “Biru”. “Kami hanya akan mencipta, segala apa yang kami cinta, bahagia”.

Track lain dalam album Sinestesia, “Putih”, juga terdiri atas gabungan dua lagu tentang “Tiada” dan “Ada”. Lagu “Tiada” ini menggambarkan kematian dari sudut pandang pelaku cerita yang sedang merenungi dan mensyukuri kematiannya sebagai awal dari sebuah keabadian. Kebalikannya, “Ada”, yang menggiring pendengar dari tema kematian menjadi perayaan atas kelahiran jiwa-jiwa baru yang dikhususkan Cholil dan kawan-kawan untuk menggambarkan tentang harapan semua orang tua kepada anak-anak mereka.

Dengan indah, ERK menyajikan “Putih” dengan apik sehingga mampu untuk memberikan atmosfer syahdu dan menjadi sebuah renungan bagi para pendengarnya.

Secara keseluruhan, ERK tetap mempertahankan lirik yang kritis namun juga puitis seperti album-album sebelumnya. Lirik telah menjadi elemen penting dalam setiap album ERK, oleh karena itu, mereka tidak akan membiarkan liriknya dapat dipahami secara instan, sehingga pendengarnya harus membaca lirik secara keseluruhan untuk memahami lagu yang ada.

Sejalan dengan apa yang diungkapkan Riyan Riyadi alias The Popo kepada calon pendengar Sinestesia, katanya, “Siapkan energi pendengaran dan emosi yang tak tertahan. Lagu-lagu di dalam album ini cukup panjang, bisa menimbulkan kebosanan dan melelahkan atau menimbulkan rasa penasaran.”

 

Nurul Fajri Vidi Astuti

Foto  : twitter.com

Editor : Nurhikmah Octaviani

Komentar



Berita Terkait