Sisi Kehidupan Kala Menimba Ilmu di Negeri Orang

Saturday, 09 February 19 | 01:06 WIB

Berkuliah di luar negeri nyatanya masih menjadi impian para anak bangsa di negeri ini. Namun, hal ini masih menjadi misteri terkait apa saja yang akan didapatkan bila seseorang menimba ilmu ke negeri orang. Oleh karena keresahan tersebut masih banyak ditemui di benak masyarakat, komunitas Sahabat Beasiswa yang merupakan sebuah komunitas yang bergerak di bidang pendidikan perihal pemberi informasi beasiswa, mengadakan talkshow seputar informasi apa saja yang bisa didapatkan ketika menimba ilmu di luar negeri dengan mengusung tema “Millenial, Scholarship, and Contribution To Our Country“.

Salah satu narasumber menuturkan apa yang membedakan antara kuliah di dalam negeri dengan kuliah di luar negeri iaalah pengalaman yang dihadapi, “Yang sangat membedakan kuliah di luar negeri adalah pengalamannya. Dari sisi mental (dan –red) pengalaman hidup,” jelas Kartika Susanti selaku penerima beasiswa Chevening dari Pemerintah Britania Raya. Selain itu, wanita lulusan University of Westminster tersebut menjelaskan bahwa ketika dirinya menimba ilmu di negara yang tergolong pembangunannya lebih maju, ia merasa bahwa dirinya dibantu dan dilayani dengan baik ketika bertemu dengan pihak-pihak di bidang pelayanan umum, “Kalau misalnya kita (sedang –red) berada di negara yang pembangunannya lebih maju misalnya, (kita akan –red) bertemu di orang-orang di sektor pelayanan. Saya merasakan (kinerja –red) mereka (yang –red) sangat membantu, sangat terasa prinsip mereka adalah kita (yang memberikan pelayanan –red) di sini adalah untuk membantu (dan -red) meringankan (urusan mereka yang diberikan pelayanan –red),” ujarnya. Oleh sebab itu, dirinya pun mengungkapkan bahwa selain dari ilmu yang didapatkannya, ia juga ingin menyebarkan nilai-nilai yang ia rasakan dan pelajari serta menerapkannya di Indonesia seperti nilai profesionalisme, melayani, dan merangkul.

Senada dengan Kartika, Falma Kemalasari kemudian menguraikan bahwa yang dipelajari ketika belajar di luar negeri adalah hidup dan kehidupan di negara yang berbeda dalam berbagai aspek kehidupannya bila dibandingkan dengan Indonesia, “Di sana (luar negeri –red) perjuangannya juga lebih luar biasa. (Meskipun –red) di sana kita jauh dari keluarga, tapi di sana kita (juga –red) ketemu dengan keluarga baru, kita ketemu (dengan –red) banyak (macam –red) tingkah laku dan berbagai macam dosen, fasilitas-fasilitas lab di sana (juga –red) bagus-bagus,” urai penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Pemerintah Indonesia.

Mengangkat sisi yang sedikit berbeda, Puti Ara Zena memaparkan apabila memiliki keinginan untuk berkuliah di luar negeri, hal yang harus dilakukan sebagai langkah awal adalah mempersiapkan berkas dan kelengkapan syarat apa saja yang diperlukan selama satu tahun sebelum melamar beasiswa yang dituju. Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa tidak semua kampus yang dianggap bagus mampu memenuhi ekspetasi ataupun kebutuhan pendidikan yang kita ingin peroleh, “Saya pengen tekenin ke teman-teman, pun kampus yang bagus belum tentu bisa memenuhi atau mencukupi kebutuhan (pendidikan –red) kalian. Makanya sebelum kalian memilih S2 itu step-nya dulu lihat apa yang kalian butuhin, ilmu apa yang pengen kamu pelajarin, dan lihatlah kurikulum itu satu-satu,” tutur wanita penerima beasiswa Fullbright dari Pemerintah Amerika Serikat. Selain Tidak hanya tips dalam menentukan langkah yang vital, ia pun berbagi pengalamannya ketika berkuliah di negeri Paman Sam tersebut. Menurutnya, di sana budaya mengapresiasi orang dan toleransi yang ia temukan cukup berbeda dengan budaya pendidikan yang ada di Indonesia.

Pada penghujung acara, ketiga narasumber tersebut sama-sama mengingatkan bahwa kuliah di luar negeri dengan beasiswa bukan hanya perihal menimba ilmu semata, namun ada tanggung jawab lebih yang akan diemban untuk bisa berkontribusi bagi bangsa dan demi Indonesia yang lebih baik, “Satu negara itu bisa maju bukan karena satu orang. Dia (negara –red) bisa maju karena semua orang dalam perannya (dijalankan –red) dengan sebaik-baiknya. Ternyata kontribusi itu bisa bermacam-macam (bentuk –red) dan setiap orang bisa berkontribusi dengan cara apapun!” akhir Falma.

 

Teks: Kezia Estha Tumbol

Foto: Kezia Estha Tumbol

Editor: Grace Elizabeth Kristiani

 

 

Pers Suara Mahasiswa UI 2019

Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait

Menjadi Intelektual Bermata Cacing dan Bermata Elang Bersama Sahabat Beasiswa (SB)
Tanggapi Kasus Terorisme, UKM Kerohanian UI Adakan Doa Untuk Negeri 
UI Fasilitasi Pencarian Kerja Lewat UI Career & Scholarship Expo XIX
Abraham Samad dan Bambang Widjajanto Tanggapi Dukungan ILUNI UI