Sistem Status IKM UI: Antara Fungsi dan Relevansi

Saturday, 31 March 18 | 05:51 WIB

Menanggapi aspirasi salah satu mahasiswa UI yang bernama Hidayatul Fikri, Ulfa Rodiah selaku Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Indonesia (DPM UI) mengatakan jika tidak ada rencana khusus terkait dengan perubahan sistem status Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKM) UI. Meskipun demikian, IKM UI memang merupakan salah satu fokus permasalahan yang diangkat oleh DPM UI tahun 2018.

Hidayatul Fikri, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) angkatan 2017 menjelaskan bahwa salah satu pemicu ia fokus pada topik IKM, karena banyak keluhan mulai dari mahasiswa yang IKM biasa sampai petinggi organisasi atau kepanitiaan yang menceritakan bahwa sistem ini mempersulit keadaan.

Lalu Hidayatul memaparkan bahwa di fakultas dia terdapat masalah yang menyangkut IKM UI. “(masalah yang -red) hubungannya dengan IKM UI adalah terkait salah seorang BPH sebuah lembaga tingkat UI yang status IKM fakultasnya biasa, sedangkan di fakultasnya sendiri saat itu tidak ada mekanisme untuk mengaktifkan status IKM-nya,” tuturnya

Hidayatul menambahkan bahwa salah satu syarat untuk memiliki IKM UI Aktif adalah IKM Aktif fakultas bagi Badan Pengurus Harian (BPH) lembaga tingkat UI. Karena kondisi tersebut, di fakultas diusahakan membuat mekanisme yang dimaksud dan selama masa itu diberikan IKM Aktif UI bersyarat kepada yang bersangkutan. Namun sampai yang bersangkutan sudah demisioner, status IKM-nya masih biasa.

M. Luthfie Arif salah satu mahasiswa yang pernah bermasalah status IKM-nya menceritakan pengalamannya kepada Suara Mahasiswa. “Toh pada akhirnya gue nih yang kemaren IKM gue sempet ga aktif lama, tidak ada bedanya dengan orang-orang yang IKM nya aktif dalam hal kontribusi, dalam hal kemampuan,” katanya.

Mahasiswa yang biasa disapa El tersebut menambahkan jika adanya fenomena IKM ini berkaitan dengan ospek. Status IKM itu merupakan standar agar orang mampu beradaptasi dengan lingkungan kampus dan jika sudah tidak relevan maka harus ada evaluasi lagi.

Di sisi lain, Ulfa selaku ketua DPM UI 2018 menjelaskan mengenai persepsi soal IKM aktif yang menghambat seseorang berkontribusi. “Pun ada persepsi soal IKM aktif menghambat buat seseorang berkontribusi dan lain-lainya, itu entah sih, karena sistemnya yang emang menyusahkan atau faktor lainnya. Sejauh ini, di DPM UI sendiri memfasilitasi untuk pengaktifan IKM UI dan tugas yang diberikan pun berkaitan dengan ke-IKM-an dan tidak terlalu sulit. Masalah ribet, susah, dan hal-hal lainnya itu soal perspektif kita, mungkin bisa diajak ngopi,” jelasnya.

Kemudian, Ulfa mengatakan bahwa prosedurnya sudah jelas, yang memiliki IKM biasa artinya tidak memenuhi prosedur dan/atau belum memenuhi standar prosedur yang sudah ada. Standar prosedur berupa sistem penerimaan yang terdiri atas berbagai jenjang pembinaan mulai dari tingkat Universitas hingga himpunan atau departemen atau Program Studi (Prodi). Sedangkan yang memperoleh IKM aktif karena sudah memenuhi dan menempuh prosedur yang ada.

Selanjutnya, mengenai relevan atau tidak sistem IKM, Ulfa menjelaskan bahwa sebuah sistem yang dibangun manusia itu tidak ada yang sempurna. “Ya kita sama-sama tau ya kalau sebuah sistem yang dibangun manusia tidak ada yang sempurna, karenanya perlu untuk pada akhirnya ada peninjauan kembali terhadap sistem yang (sudah) ada, apakah cocok dengan masa sekarang atau tidak,” jelasnya.

“IKM harusnya bisa menjadi jaminan bahwa yang bersangkutan itu paham soal UI dengan segala isinya melalui proses pembinaan,” tutur Mujab selaku ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI tahun 2017.

Mujab sebelumnya juga pernah mengajukan aspirasi mengenai sistem IKM lewat Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPM UI sewaktu menjabat menjadi ketua BEM UI pada 2017 lalu yang kemudian DPM UI merespon dengan menampung aspirasi tersebut.

Selanjutnya, Ulfa menjelaskan bahwa ia sangat mengapresiasi untuk orang-orang yang sudah berani memberikan aspirasi. “Untuk masalah penyuaraan aspirasi itu, saya pribadi sangat mengapresiasi, saya bersyukur ada salah satu dari sekian anak muda yang berani beraspirasi. Pun bicara soal IKM ini, bukan hanya tugas DPM atau tugas lembaga-lembaga lainnya untuk meninjau sejauh relevansi IKM, ini tugas kita bersama sebagai mahasiswa UI,” pungkasnya.

 

 

Teks: Muhammad Anggito Z.
Foto: Istimewa
Editor: Halimah Ratna Rusyidah

Komentar



Berita Terkait