Sorot Toleransi, Talkshow dan Workshop Diadakan untuk Merawat Keberagama(a)n

Sunday, 15 July 18 | 05:39 WIB

“Bersama Merawat Keberagama(a)n” menjadi tema acara oleh beberapa organisasi untuk mengadakan talkshow dan workshop pada Kamis (12/7) di Auditorium Bina Nusantara (Binus) International, FX Sudirman. Indika Foundation, Toleransi.id, Campaign, Binus University International, dan SabangMerauke bersama-sama mengajak masyarakat untuk mengedepankan toleransi dengan berbagi cerita serta pengalaman.

Pada sesi pertama, Gloria Natapradja Hamel selaku Duta Kementerian Pendidikan dan Olahraga (Kemenpora), Trivel Sembel selaku CEO Proud Project, dan Alanda Kariza dari Indonesia Youth Conference hadir menjadi pembicara dengan moderator dari SabangMerauke yaitu Ayu Kartika Dewi. Dalam kesempatan tersebut, mereka berbicara mengenai toleransi dan arti keberagaman.

Menurut Gloria Natapradja Hamel, toleransi bukan hanya persoalan menghargai orang lain, namun juga mencintai orang tersebut meskipun pilihannya buruk. Karena mencintai orang yang berbeda pendapat bukan merupakan hal mudah.

Berbeda dengan Gloria, Trivet Sembel memberikan analogi bunga untuk menjabarkan arti keberagaman. Menurutnya, sesuatu akan menjadi indah ketika beragam, dan keberagaman tersebut harus dijaga.

“Bunga itu indah gara-gara warnanya beda-beda, akarnya cokelat, batangnya hijau, terus mahkotanya bisa warna-warni. Bayangin kalau misalnya bunga mahkotanya sama-sama cokelat, atau sama-sama merah, atau sama-sama hijau. Pasti gak bakal seindah ketika warna bunganya beda-beda dari atas sampai bawah,” ujar Trivet Sembel.

Setelah sesi talkshow berakhir, sesi kedua dilanjutkan dengan “Ask Me Anything” bersama enam pemuda pemuka agama yaitu Ajeng Probowati selaku perwakilan agama Katolik, Irfan Sarhindi dari agama Islam, Emilia Tiurma dari agama Kristen Protestan, Aldi Destian dari agama Konghucu, Arya Prasetya dari agama Buddha, dan Githa Sushanti selaku perwakilan agama Hindu. Dalam sesi tersebut, peserta dibebaskan untuk bertanya apapun mengenai keenam agama yang diakui di Indonesia itu. Mulai dari ritual ibadah, ajaran yang diterapkan, doa yang dipanjatkan, hingga sejarah dijelaskan secara lengkap oleh para perwakilan agama dari generasi milenial yang hadir.

Tidak hanya itu, berikutnya terdapat sesi terakhir yang membawa suasana lain dalam kelompok. Mereka mengedepankan “Open Spaceworkshop dimana peserta dibebaskan menulis tema apapun yang berhubungan dengan toleransi dan keberagaman dalam sticky note.

Setelah itu, peserta akan mengelompokkannya ke dalam empat bagian besar sesuai dengan tema yang mirip. Di sesi tersebut, tidak ada fasilitator dalam kelompok dan peserta dibebaskan untuk mengemukakan pendapatnya tanpa takut salah. Selain itu, peserta juga diperbolehkan untuk berpindah kelompok sesuai dengan pembahasan apa yang diminati.

Teks: Ramadhana Afida Rachman
Foto: Kezia Estha T.
Editor: Kezia Estha T.

Komentar



Berita Terkait

Workshop Reduction Program Based on Community Engagement in Climate Change: Program Pengurangan Limbah Berkelanjutan
Grup Vokal UI Sabet Juara Pertama Kontes Menyanyi di Azerbaijan
Moeldoko: Negara yang Menerapkan Wajib Militer Biasanya Lebih Maju
Empat Fungsi Perguruan Tinggi dalam Ketahanan Negara