Sosok Dalang dalam Pusaran Budaya Kekinian

Tuesday, 18 February 20 | 06:21 WIB

Siapa yang tak asing dengan kebudayaan popular masa kini? Kebudayaan tersebut digandrungi berbagai generasi, mulai dari millenial hingga generasi Z, mulai dari TikTok hingga K-Pop. Sayangnya, banyak yang asing dengan sosok dalang dalam kesenian wayang. Kesenian yang menggunakan wayang ini memang sudah ada dari zaman kerajaan Hindu di Indonesia dan diyakini sudah dipertontonkan dari masa Kerajaan Airlangga. Kini, mendalang dilihat sebagai sesuatu yang kuno dan bukan ranahnya para millennial, apalagi gen Z. Namun hal tersebut tidak menggerus niat beberapa dalang muda, seperti halnya Fakih Tri Sera Fil Ardhi, mahasiswa jurusan Sastra Jawa Universitas Indonesia. Penasaran?

Alasan Tertarik dengan Dunia Perwayangan dan Menjadi Dalang

Fakih Tri Sera Fil Ardhi, atau Fakih sapaan akrabnya, ternyata sudah mengenal wayang dari kecil. Uniknya, ia adalah asli keturunan Jakarta, yang mana lekat dengan kebudayaan Betawi.

“Awalnya sih ya karena orangtua kan seneng wayang, jadi (waktu—red) kecil itu, saya suka diajakin nonton wayang. Nah dari situ ketertarikan saya katanya muncul. Terus pertama kali saya tahu tempat latihan perdalangan itu ada di Taman Mini Indonesia Indah. Nah saya (saat itu—red) bisa dibilang (berusia—red) 8 tahun,” Jelasnya.

Kemudian, Fakih melanjutkan ketertarikannya dengan bergabung kedalam Sanggar Saeko Budoyo di Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur. Ia masih bisa dibilang aktif meski disibukan kegiatan perkuliahan. Selain pengaruh orang tua, Fakih memiliki alasan lain menggandrungi kesenian ini. “Bangga ya, wayang ibaratnya bukan benda yang umum, ibaratnya gak semua orang bisa kuasai. Ya, jadi ada keunikan tersendiri gitu loh,” tuturnya.

Bermain dalang, susah gak sih?

Saat ditanya butuh berapa lama untuk menguasai permainan wayang. Fakih menjawab, “Untuk bisa handal, sebenernya gak penting itu berapa lama, yang penting bagaimana ketekunannya aja sih. Saya kan memang penggiat dan juga pencinta. Memang niatnya melestarikan,” jawabnya.

Mendalang tidak hanya sekadar membawa wayang, tapi juga ada hiburan dan petuah yang ingin dilayangkan. Oleh karenanya, pria kelahiran 2001 ini merumuskan beberapa kompetensi yang harus diasah oleh seorang dalang.

“Seorang dalang itu, satu, namanya dalang itu kan ngudal piwulang atau memberi pitutur. Dua, segi sosialisasi. Kita juga harus lebih luas lagi sosialisasinya karena bahan dari (cerita—red) wayangan itu bisa kita ambil dari apa problema yang ada di masyarakat atau problema negara. Ada lagi penokohan, cerita, suara. Terus juga, kemampuan untuk me-manage para anggota. wayang kan gak cuma tunggal. Ada parawiaga (pemain gamelan—red), ada sinden. Itu (semua—red) harus jadi satu kesatuan,” pungkasnya.

Karena ketekunannya dalam berlatih, Fakih telah beberapa kali mengikuti festival, mulai dari tingkat DKI Jakarta, Jawa, hingga nasional. Ia pernah menyabet gelar terbaik se-DKI Jakarta sebanyak tiga kali.

Respon orang-orang sekitar

“Macem-macem kalau itu. Ya, saya sih kuat iman aja lah. Saya cuma penggiat gak ada niat apa-apa. Saya kan kadang ngajak temen-temen membuat latihan. Ya pengennya, setidaknya teman-teman tuh kenal dan tau walaupun gak harus jadi dalang gitu aja. Kalau reaksi, ya ada yang mengagumi, ada yang ‘ngapain sih, Kih? Itu kan udah ketinggalan zaman’, itu tuh udah gak asing dikuping, terus juga ‘kalau mau jadi dalang di zaman sekarang itu mau makan apa?’. Saya sih spontan aja ya, emang ya mendalang itu bukan pekerjaan, itu hobi, tapi bisa dijadikan sarana rezeki, itu bedanya,” sambungnya. 

Kecintaannya pada mewayang menggugah dirinya untuk terus melestarikan kesenian ini. Ia sempat berpikir untuk memulai membangun sanggarnya sendiri dan mengajak teman-temannya untuk menggiatkan praktik budaya yang hampir terlupakan ini.

“Mirisnya sekarang budaya Indonesia tidak menetap di Indonesia, tetapi di negara lain. Jadi, jika budaya tidak dihidupkan (maka—red) keanekaragaman Indonesia (bisa—red) luntur. Ibaratnya, negara tanpa seni bagai pohon tanpa daun. Tidak akan meneduhkan,” tutupnya.

 

Kegigihan seorang Fakih patut kita apresiasi. Meski dikelilingi oleh budaya-budaya populer, Fakih bemelihat sejenak bagaimana Fakih tertatih-tatih mempituturkan tetuahnya. Lantas, sudah amankah kita saat kebudayaan kita hanya terdaftar dalam catatan UNESCO, tetapi praktik kebudayaannya terasing di tanah sendiri?

 

Teks: M. Sbastian Rai
Kontributor: Fila Kamila, Yogie Sani, Safira Paramitha
Foto: Safira Paramitha
Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas

Komentar



Berita Terkait