Sosok: Manik Setelah Ketua BEM

Tuesday, 31 December 19 | 06:22 WIB

Tahun 2019 akan berakhir dalam hitungan jam. Berbagai dinamika menarik terjadi selama setahun terakhir ini, yang dapat menjadi pelajaran untuk menjalani hari yang lebih baik di 2020. Salah satunya adalah pergerakan mahasiswa yang merespons berbagai kebijakan pemerintah yang dirasa kurang tepat. Berbagai respons tersebut berbuah kepada berbagai aksi yang terjadi di tahun 2019, salah satunya aksi Reformasi Dikorupsi yang diadakan akhir September lalu. Beberapa orang menjadi tonggak aspirasi ini, di antaranya adalah Manik Marganamahendra selaku ketua BEM UI 2019. Kini, setelah menjabat selama satu tahun, Manik telah menyerahkan jabatannya sebagai ketua BEM UI. Suara Mahasiswa berkesempatan berbagi cerita dengan Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) angkatan 2015 tersebut mengenai pengalaman dan pelajaran yang ia dapat selama 2019 ini, dan kesibukannya setelah tidak lagi menjabat sebagai ketua BEM. Berikut wawancara Pers Suara Mahasiswa UI dengan Manik Marganamahendra, Ketua BEM UI 2019.

Bagaimana perasaannya selama menjabat sebagai Ketua BEM UI 2019?

Pertama rasanya senang karena mendapat pelajaran yang banyak karena ini di BEM universitas, gue megang berbagai macam orang dari latar belakang yang berbeda dari background pendidikan yang berbeda. Di situ mereka banyak ngasih masukan, saran, pandangan dan akhirnya bikin gua belajar lebih luas lagi, terutama untuk hal-hal yang sifatnya keorganisasian dan pelayanan terhadap mahasiswa dan masyarakat secara umum. Sesenang itu karena bisa belajar banyak hal dan lega, itu karena sudah selesai karena perjuangannya kan.

Apakah sejauh ini proker BEM UI 2019 sudah berjalan dengan baik dan lancar?

Kalau baik dan lancar enggak lah ya, karena banyak hambatannya, mulai dari masalah administrasi, masalah keuangan. Ada beberapa proker terkendala dan gua melihat sebagai pembelajaran. Kalau berlangsung baik atau nggak? Ya, alhamdulillah sejauh ini kami sudah melaksanakan sebaik-baiknya. Jadi tergantung penilaian orang-orang yang merasakan impactnya seperti apa.

Bagaimana anda menyikapi kejadian – kejadian, terutama di bidang politik, yang terjadi akhir – akhir ini. Kenapa terpicu untuk berperan juga di dalamnya?

Kita melihat ini sebagai tantangan zaman, apalagi banyak beredar perspektif tahun 2017-2018 mulai naik masalah generasi (bahwa –red) milenial, Generasi Z, itu diidentikkan dengan anak-anak yang apolitis, tidak peduli politik kampus, eksternal, nasional segala macam. Sampai akhirnya tantangan ini terjawab dengan aksi massa yang banyak tumpah ruah turun ke jalan. Dengan banyaknya massa aksi, itu menjawab dan membantah adanya sentimen-sentimen buruk khususnya untuk Generasi Z, milenial atau apapun yang diidentikkan dengan (keberadaan) teknologi. Jadi, di satu sisi gue cukup senang, ada awareness cukup besar, banyak orang yang entah sekadar ikut, atau paham isu, atau hanya ikut dengan temannya. Tapi itu tidak bisa disalahkan juga, justru menandakan setidaknya hati nurani mereka tergerak untuk turun. Membuktikan orang-orang Indonesia masih peduli dengan kondisi negaranya. Ke depannya gue berharap sentimen buruk antar generasi tidak perlu diteruskan tapi yang justru harus disuarakan adalah potensi-potensi besar dalam setiap generasi.

Saat dan pasca aksi ada beban batin, mental, fisik tersendiri tidak?

Bukan beban, tapi juga bisa dibilang beban. Intinya selama proses kemarin, jadi banyak kepikiran. Bisa dibilang kita mulai aksi ini dari perdebatan isu segala macam, akhirnya merembet banyak sekali permasalahan lain. Batin, moral, fisik selama proses aksi itu kerasa banget. Segitu overthinking-nya mikirin massa UI ketika turun aksi gimana keselamatannya, titik evakuasinya, semua kepikiran. Yang jelas bersyukur, alhamdulillah kita banyak mendapat pelajaran, meskipun prosesnya menelan korban. Sampai sekarang kepikiran, itu kan bergeraknya bersama-sama, ini bukan tentang UI doang, tapi gerakan aliansi masyarakat sipil se-Indonesia yang  bergerak bareng-bareng, artinya semua memiliki peranan penting di dalam aksi ini. Saya masih berbelasungkawa kepada kawan-kawan yang meninggal selama proses aksi kemarin, sampai detik ini masih berdoa, semoga perjuangannya tidak sia-sia. Kita masih banyak jalannya ke depan, banyak isu yang akhirnya tidak gol, mungkin ada beberapa hal yang ditunda tapi bukan berarti masalahnya selesai kan, dan justru KPK semakin diperlemah. Yang kita pikir ini gerakan jangka panjang yang kita kawal bersama-sama.

Terus ada efek-efek tertentu engga sih setelah viral? Kehidupan pribadinya juga dibongkar kan kemarin, terus abis itu pasti track record dibuka semua. Nah itu efeknya apa sih?

Bisa dibilang saya engga pernah kepikiran akan seperti ini, akan sebesar ini, tapi mungkin ini adalah sebuah amanah besar yang harus dilanjutkan. Kenapa? Karena, oke ranah privat saya dibuka, mungkin sampai ada beberapa zona yang akhirnya (membuat -red) saya merasa tidak nyaman untuk datang ke mana-mana, ada orang lain lah, segala macam nanya-nanya. Tapi, di satu sisi saya melihat bahwa saya juga harus beranjak dewasa, mendewasakan diri. Kenapa, karena artinya orang lain mulai fokus untuk mengikuti saya. Di situ juga ada satu beban moral yang harus saya emban yaitu gimana caranya dengan kepercayaan publik ini, atau lewat tadi katakanlah banyak followers, saya juga bisa memberikan influence yang baik gitu, bukan cuma semata-mata naik (pamor –red), setelah itu selesai.

 

Ada upaya lain tidak untuk melanjutkan perjuangan demokrasi?


Secara pribadi mungkin ya, secara pribadi yang jelas doain aja semoga masih tetap konsisten dengan idealisme ini. Di manapun nanti tempatnya ya, di mana pun nanti saya lulus, mungkin nanti bekerja atau gimana, semoga isu ini tidak dilupakan. Caranya ya tadi, lewat media sosial pribadi. Terus, membicarakan isu ini supaya tetap jadi diskursus di publik. Publik masih tetap membicarakan sampai akhirnya masalahnya benar-benar bisa diselesaikan secara baik. Kaya gitu. Secara lewat media sosial atau, ya sebenarnya ada kepikiran gerakan-gerakan, mau buat sebuah gerakan lain di luar gerakan BEM-nya karena udah ga di BEM lagi kan. Mau engga mau coba buat yang lain, mungkin gerakan sosial di kota. Makanya di Bogor ini sebenarnya gue lagi nyari-nyari tahu tentang Bogor kaya gimana, kan kota asal gitu ya. Atau mungkin sekalian dalam ranah nasional tapi buatnya tentang masalah demokrasi atau apa, idenya masih dipikirin sih sebenarnya. Yang penting adalah engga selesai, karena bikin gerakan sosial itu bisa terus menerus kan, bisa sambil juga meskipun kerja atau gimana.

 

Kan ketua BEM UI baru sudah terpilih, Fajar sama Tri wakilnya. Nah perasaan setelah lengser tuh gimana? Lega?

Um, hehe, lega ya, lega, alhamdulillah. Karena masa bhaktinya kan memang satu tahun, tapi masa bhakti untuk Indonesia harus terus menerus dilakukan kan. Nah, begitu juga buat Fajar sama Tri sebenarnya, meskipun sudah lega, lengser, segala macam, tapi ada banyak hal juga yang mungkin ditinggalin sama BEM UI, entah itu yang baik atau mungkin yang buruk. Semoga Fajar dan Tri bisa mengambil hikmahnya, bisa mengambil yang baik-baiknya, dan ya yang buruk-buruknya ga perlu dilanjutkan. Intinya adalah meninggalkan legacy untuk BEM UI 2020 ke depannya supaya mereka bergeraknya bisa jauh lebih baik, jauh lebih progresif, dan apa ya, perasaannya yang jelas punya harapan besar sih buat mereka berdua. Karena yakin 2020 akan jadi tahun mereka, akan jadi tahunnya UI juga, semoga bisa terus melanjutkan perjuangan ini.

 

Sebentar lagi kan mau lulus, mau lanjut ke mana nih? Mau kerja atau lanjut S2 atau gimana?

Sebenarnya nyambi kali ya. Sekarang sebenarnya juga lagi nyiapin, yang penting lulusnya dulu sih, yang penting kan kelulusannya dulu.

 

Tahun depan kan berarti?

Iya tahun depan, 2020. Doain aja ya bulannya. Terus kalau untuk setelah lulusnya, sebenarnya nyari buat belajar lagi, S2, tapi sebelum belajar S2 pengen cari dulu kegiatan-kegiatan positif lah. Mungkin bikin gerakan sosial tadi, di kota atau mungkin balik ke Bogor, misalnya, atau di daerah, atau di Depok atau di Jakarta segala macam. Intinya adalah gerakan-gerakan untuk anak-anak muda, fokus dengan gerakan sosial sambil kerja dan nyiapin buat persiapan berangkat S2.

 

Mau S2 di mana, rencananya?

Hehehe… mungkin di luar ya, tapi sampai detik ini masih mikir antara Eropa atau Amerika gitu. Kenapa, sebenarnya penasaran dengan pola pikir mereka seperti apa, dan ya going abroad, benar-benar jauh dari rumah dan bisa belajar banyak hal kan. Itu sebenarnya yang diharapkan, bukannya mau ninggalin Indonesia ya, tapi lebih kepada nyari pengalaman luar, karena interaksi-interaksi sosial, terutama untuk international exposure itu sangat penting untuk kalau misalnya memang fokus dengan akademis dan gerakan-gerakan sosial lainnya.

 

Berarti tadi fokusnya mau di bidang sosial nih setelah lulus. Tapi perhatiannya ke mana?

Sebenarnya antara public health, masih tetep di bidang ilmu yang lagi ditekunin sekarang, atau public policy, yang ranahnya memang ranah ke masyarakat gitu, kesehatan masyarakat atau kebijakan publik.

 

Ada pesan lain untuk Ketua BEM UI berikutnya?

Jadilah diri sendiri untuk BEM UI 2020. Yakin pasti akan ada banyak hal-hal yang menantang di tahun 2020. Setiap zaman pasti punya pemimpinnya, setiap pemimpin pasti punya masanya masing-masing, dan semoga bisa membuat banyak hal jadi jauh lebih baik lagi daripada tahun-tahun sebelumnya. Harapannya bisa lebih dekat lagi sama mahasiswa UI, pun dengan masyarakat Indonesia secara luas gitu ya.

 

Kalau pesan untuk mahasiswa UI?

Pesannya ya… ya intinya setiap orang pasti bakal belajar ya, tapi belajar itu ga melulu di kelas. Ada banyak tempat yang bisa dieksplor, ada banyak pengalaman yang bisa dicari. Mulai dari sekarang, jangan sampai disia-siakan waktunya. Ada banyak sekali kesempatan yang bisa dioptimalisasi, salah satunya adalah mencari sebanyak-banyaknya pelajaran di luar kelas, dan mengamalkan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari dalam kelas ke luar kelas. Semoga itu bisa digunakan teman-teman mahasiswa UI, ga pandang dari (latar belakang –red) apapun. Ya, mau program vokasi, mau fakultas, mau jurusan apapun, semua orang punya hak untuk belajar, semua orang punya hak untuk berkembang dan silakan jadi diri sendiri. Silakan mengeksplor diri sendiri.

 

Teks: Faizah Diena Hanifa
Editor: M. I. Fadhil
Foto: M. I. Fadhil

Pers Suara Mahasiswa UI 2019
Independen, lugas, dan berkualitas!

Komentar



Berita Terkait