Tan Malaka: Mengenang Jalan Kiri Sang Pejuang

Thursday, 26 May 16 | 07:19 WIB

Tan Malaka merupakan pemikir dan pejuang Indonesia. Gagasan dan tindakannya menjadi pemantik bagi tokoh dan kaum pergerakan lainnya, salah satunya Soekarno. Ia bahkan memperoleh testamen dari Soekarno untuk menggantikannya apabila yang bersangkutan tidak dapat menjalankan tugasnya.

Pemikiran tokoh kelahiran Pandan Gadang, Sumatera Barat pada tahun 1897 mengenai konsep Negara Republik Indonesia dituangkan dalam bukunya yang berjudul Naar De Republiek Indonesia pada tahun 1925. Ide-idenya tersebut kemudian dijadikan fondasi dalam merumuskan Republik Indonesia.

Zulhasril Nasir, seorang penulis buku berjudul Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau menggambarkan Tan Malaka sebagai sosok yang religius, aktif, dan supel.

Tan Malaka Sebagai Tokoh Kiri

Melalui diskusi bertajuk “Merajut Kenangan Jalan Sunyi Sang Pejuang Republik” yang digelar oleh Lembaga Kajian Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (LKI FIB UI) di Auditorium Gedung IX, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI pada Senin (16/5) lalu, Zulhasril Nasir menjelaskan bahwa terminologi “kiri” yang ia gunakan dalam judul bukunya diambil dari pemahaman tradisional berlandaskan sejarah.

Istilah kiri dan kanan muncul ketika parlemen Inggris yang memisahkan anggota legislasinya (saat proses pengambilan keputusan) ke dalam kelompok kiri dan kanan. Kiri sebagai kelompok yang tidak setuju dan kanan sebagai kelompok yang setuju.

Terminologi tersebut kemudian berkembang (masih dalam pemahaman tradisional), kiri digambarkan tidak hanya sebagai kelompok yang tidak setuju, namun juga kelompok yang suka protes, kritis, membela hak-hak kaum tertindas, antikemapanan, dan sebagainya, sedangkan kanan, selain sebagai kelompok yang setuju, digambarkan pula sebagai kelompok yang fatalis, bermain aman, dan sebagainya.

“Untuk itu, kiri yang dikaitkan dengan Tan Malaka dan suatu gerakan di Minangkabau merujuk pada penjelasan tersebut bukanlah hal yang merujuk pada komunis dan PKI (Partai Komunis Indonesia—red) seperti yang diharapkan orang kebanyakan (tentang isi buku—red),” ujarnya.

Tan Malaka banyak memperoleh simpati dari masyarakat bahkan ulama besar Minangkabau. Salah satu kelompok yang mengikuti pergerakan Tan Malaka adalah gerakan kiri Minangkabau.

Ia juga diketahui dapat dengan mudah menggerakkan massa Minangkabau dalam mewujudkan cita-cita terbesarnya, yaitu berada di sebuah daerah dengan masyarakat yang adil dan makmur.

Bagi Nasir, Tan Malaka merupakan seorang sosialis-nasionalis yang tidak memerlukan cap apapun. “Tan Malaka merupakan sosok yang harus diteladani, terlepas dari afiliasinya dengan siapapun dan apapun karena itu merupakan haknya,” kata Nasir.

Teks: Dara Nanda Vitera

Foto: Tempo.co

Editor: Frista Nanda Pratiwi

Komentar



Berita Terkait