Tanggapan Kedua Pasang Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UI Soal Kebangkitan Komunisme

Thursday, 16 November 17 | 11:00 WIB

“Jadi kalau PKI itu bangkit lagi, itu bohong. Kalau menurut gue, gue nggak percaya,” ujar El, Calon Ketua BEM UI nomor urut satu, saat ditanyai soal isu kebangkitan komunisme oleh Faris Muhammad Hanif dalam eksplorasi Pemilihan Raya Ikatan Keluarga Mahasiswa (Pemira IKM) UI di FISIP UI, pada Kamis (14/11) lalu.

Lebih jelasnya, El melihat isu kebangkitan komunisme sebagai gimmick dan tidak perlu diperdebatkan kembali karena pemerintah sudah menjamin warganya meskipun akhir-akhir ini terdapat tindakan represif dari pemerintah soal paham komunis.

(Baca Juga: Calon Ketua BEM UI Nomor Urut Satu Akui Pilkada DKI Jakarta Harusnya Murni Adu Gagasan)

Untuk itu El berpendapat bahwa hal pertama yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan penyelidikan terkait dalang dari Gerakan 30 September 1965.

Senada dengan El, menurut Shendy pemerintah harus mencoba membuka kebenaran. “Kita nggak bisa bergantung dengan buku yang banyak versi dan memperkeruh (suasana–red),” ungkapnya.

Mengenai hal itu, Zaadit berpendapat bahwa isu kebangkitan PKI merupakan permainan politik yang tujuannya untuk memanaskan suasana politik. “PKI sudah diatur termasuk yang dilarang. Kebangkitan PKI menurut gue gak akan terjadi,” paparnya.

Menurutnnya banyak sejarah yang disampaikan secara simpang-siur. Sampai saat ini, PKI diyakini sebagai kubu yang bersalah dan dirinya mendukung jika ada diskusi lanjutan mengenai isu tersebut.

(Baca Juga: Ditanya Soal Tarbiyah, Calon BEM UI Nomor Urut 2 Angkat Tangan)

Terkait dengan diskusi soal komunisme, kedua pasang Calon Ketua BEM UI 2018 sepakat untuk melihat diskusi komunisme bukan sebagai masalah dan ancaman. Idmand Perdina, Calon Wakil Ketua BEM UI 2018 nomor dua memaparkan bahwa diskusi tersebut merupakan suatu hal yang bagus untuk pencerdasan. “Kita harus belajar semua ideologi. Komunisme adalah metode di mana caranya tercipta masyarakat tanpa kelas, “ ujarnya.

Sejalan dengan Idmand, El mengungkapkan, “Enggak masalah. Semua orang perlu belajar untuk tahu. Ketika tahu, baru bisa membedakan.”

 

Teks: Huda Shidqie dan Diana

Foto: Diana

Editor: Eri Tri Anggini 

Komentar



Berita Terkait