Tarbiyah: Mulai dari Kiprah di Era Reformasi hingga Politik Kampus UI

Friday, 17 November 17 | 08:48 WIB

Jumat (10/11) lalu, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Studi Mahasiswa (KSM) Eka Prasetya UI menggelar diskusi terbuka bertajuk “Dinamika Politik Kampus UI: Mengenal Tarbiyah dan Kiprah Politiknya di Kampus UI”.

Bertempat di taman lingkar Perpustakaan Pusat UI, diskusi tersebut menghadirkan Rangga Kusumo selaku Ketua Majleis Syuro Salam UI, Arya Adiansyah selaku Ketua BEM UI 2016, Muhammad Trishadi Pratama selaku Ketua BEM FIB UI 2015, dan Rosidi Rizkiandi selaku penulis buku Mahasiswa dalam Pusaran reformasi 1998: Kisah yang Tak Terungkap.

Rosidi Rizkiandi menyebutkan bahwa Tarbiyah sendiri muncul dan berkembang pada kisaran tahun 1990-an yang dilatarbelakangi oleh stagnansi politik yang terjadi pada tahun 1978—1990-an. Pada saat itu, pemerintah memberlakukan kebijakan Netralisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan BKK. “Gak ada media yang dijadikan wadah untuk bergerak. Aspirasi politik gak ada, sehingga ada solusi yang ditawarkan oleh Tarbiyah,” paparnya.

Mahasiswa yang kekiri-kirian dan memegang paham Marxisme –mengutip penuturan yang dibahasakan oleh Rosidi, kiprahnya pada tahun 1966, 1974, dan 1978 tidak bisa beradaptasi dengan kondisi zaman. “Kiri gak punya wadah. Akhirnya mereka gak bisa berkembang. Ikut kajian-kajian ideologi (yang –red) cenderung revolusioner. Ketika ada penekanan, mereka hanya bisa melihat sebagai anti-tesis,” tuturnya.

Untuk itu menurutnya, Tarbiyah hadir sebagai solusi gerakan Islam. Ketika Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah kurang memperhatikan tentang kepemudaan, anak-anak dari keluarga NU dan Muhammadiyah justru lebih dekat dengan Tarbiyah ketimbang dengan NU dan Muhammdiyah sendiri.

Mengenai Tarbiyah, Ketua Majelis Syuro Salam UI, Rangga Kusumo menjelaskan bahwa Tarbiyah berasal dari bahasa Arab yang berarti pendidikan. Baginya, pendidikan itu adalah pendidikan yang ditonjolkan untuk membentuk seseorang melalui pendidikan karakter.

Tak hanya itu, Rangga mengutarakan bahwa Tarbiyah bukanlah tentang bagaimana suatu kelompok menghegemoni, tetapi tentang semangat kebaikan dengan tidak mengabaikan nilai-nilai yang dianutnya demi menuju satu posisi tertentu.
“Bukan tentang menghegemoni, tapi tentang semangat kebaikan. (Tarbiyah—red) tidak mengabaikan nilai-nilai kita untuk satu posisi. Gue liqo dari 3 SMA,” ujarnya.

Dengan begitu, Rangga memaparkan bahwa Tarbiyah tidak mengubah tatanan yang sudah ada. Nilai yang dianut oleh Tarbiyah adalah nilai universal dengan mengutamakan persatuan atas kesadaran terhadap keberagaman dan perbedaan.

Selanjutnya, Rangga juga menegaskan bahwa kehadirannya dalam forum tersebut sebagai orang Tarbiyah yang paham dengan nilai-nilai Tarbiyah. Dalam hal itu, ia meyakini bahwa tidak ada hal yang bertentangan dengan Indonesia dan bisa disampaikan.
Tarbiyah dan Kiprah Politik Kampus

Sumber: KSM Eka Prasetya UI

(Baca Juga: Ditanya Soal Tarbiyah, Calon BEM UI Nomor Urut 2 Angkat Tangan)

Menyoal keterkaitan antara Tarbiyah dengan Partai Politik (Parpol), Rangga mengungkapkan bahwa hal yang harus dipahami adalah hal tentang ideologi dan turunan ideologi.

Menurutnya, ketika nilai Parpol atau bahkan nilai dari suatu kelompok masyarakat itu sama dengan semangat nilai keislaman yang dianut Tarbiyah, maka di titik itulah Tarbiyah memiliki keterkaitan dengan dua kelompok tersebut. “Kita terkait dengan konteks itu. Tidak ada bukti yang bilang Tarbiyah underbow Parpol. Gak adil, “ terangnya.

Menanggapi soal politik kampus, Arya Adiansyah memaparkan bahwa politik merupakan salah satu bidang yang harus dipedulikannya sebagai umat Islam sekaligus Tarbiyah. “Politik itu siyasah, mengatur, semua siyasah, pengaturan,” jelasnya.

Di dalam Tarbiyah, terdapat aspek perbaikan gerakan Tarbiyah. Untuk itu, Arya sebagai kelompok Tarbiyah merasa memiliki kewajiban untuk membangun gerakan mahasiswa karena menurutnya hal itu merupakan implementasi yang paling nyata di dalam kampus.

Sebagai seorang kader, kiprahnya di dalam lembaga BEM UI memiliki kepentingan untuk menanamkan nilai-nilai universal di BEM yang sesuai dengan Islam dan Tarbiyah.

Tak hanya itu, Muhammad Trishadi Pratama, selaku Ketua BEM FIB UI 2015 memaparkan bahwa gerakan Tarbiyah di kampus turut memberikan dampak pada gerakan di UI. Pendapatnya, gerakan Tarbiyah masuk dan diterima untuk mengisi ruang-ruang yang masih kosong di antara NU dan Muhammadiyah.

“Di kampus juga Tarbiyah mengisi kekosongan. Bikin serikat-serikat. Mereka Tarbiyah menguasai kampus. Kita bisa lihat berapa tahun BEM dikuasai Tarbiyah,” ungkap Tama.

Hal tersebut dalam pandangan Tama dapat dilihat dari kasus yang terjadi pada tahun 2015 lalu melalui grup Whatsapp Akang Batman. Ia mencurigai adanya keadaan yang sengaja dibuat dalam perumusan Amandemen UUD IKM UI di Forum Mahasiswa (Forma).

Pasalnya menurut Tama, grup tersebut berisi drafter yang memegang peranan penting dalam pembahasan Amandemen. “Walau alasan Alfath (Ketua DPM UI 2015 –red) sendiri bilang untuk mendinamisasi grup, tapi kok isinya drafter, ada Alfath-nya. Ini kan jadinya kita curiga. Ngapainlah kita lewat-lewatin Forma. (Ini –red) bukan tentang nilainya, tapi cara berpolitiknya,” tutur Alumni Sejarah UI 2012 tersebut.

Di masa mendatang Tama mengharapkan adanya peribahan sistem politik di kampus UI. Ia mengusulkan agar golongan Tarbiyah dan golongan lainnya membuat partai politik mahasiswa.

“Kita harus ubah sistem politik, bagaimana Tarbiyah dan golongan lain buat partai politik kampus. (Selama ini -red) Kita ga berpolitik secara gitu. Politik itu pasti terkotak. Boong kalo enggak. Harus ada wadah jelas. Lihat aja partai politik. Kalo ada parpol jelas kan lo dari Tarbiyah (bisa -red) dilihat dari parpolnya. Kita harus ada perubahan gerakan mahasiswa. Bikin parpol mahasiswa,” jelasnya.

 

Teks: Huda Shidqie

Foto: Frista Nanda dan KSM Eka Prasetya UI

Editor: Eri Tri Anggini

Komentar



Berita Terkait