Teater Musikal “Cagak”: Gairah Diri Terhambat, Ke Mana Idealisme Diri Dibawa?

Saturday, 15 February 20 | 01:52 WIB

Teater Psikologi Universitas Indoneisa (Teko UI) sukses mementaskan “Cagak” pada tanggal 13-14 Februari 2020. Bertempat di Gedung Kesenian Jakarta, Teater Musikal “Cagak” dimulai pukul 19.00 WIB dan berlangsung selama 3 jam. Pementasan ini berhasil menarik perhatian 700 penonton dengan suguhan akting yang apik dari 28 aktor serta kerja keras 150 tim produksinya. Pementasan yang digarap oleh sutradara Muhammad Ihsan ini merupakan pementasan besar yang di bawa oleh Teko UI setelah Tin Republic pada tahun 2017.

Pementasan ini bercerita mengenai pertikaian antara dua sindikat mafia, Serigala dan Laba-laba, yang telah mengantarkan Anastasia pada persimpangan (cagak) yang menguji idealismenya. “Mata demi mata, darah demi darah!” begitulah gairah hidup Keluarga Sablin, mafia Serigala, yang ditentang oleh Anastasia. Belum lagi api permusuhan baru yang dipantik oleh seorang polisi, Cecep Suracep, menambah pekatnya kabut yang menutupi persimpangan Anastasia.

Pementasan ini patut mendapat perhatian lebih dengan segala suguhannya yang apik. Para pemain berakting dengan baik dan membawakan lagu-lagu disertai beragam koreografi yang memukau mata. “Cagak” sendiri membawakan total 25 lagu untuk 3 jam penampilannya. Mafia, Kepolisian, dan Anastasia memiliki lagu mereka tersendiri yang menggugah gairah hidup masing-masing.

Penampilan ini berhasil memadukan dengan total segenap unsurnya, mulai dari akting, koreografi, tata musik hingga kostum. Terdapat makna simbolik dari pemilihan Serigala dan Laba-laba yang akan terjawab melalui lakon aktor maupun lagu yang dibawa. Pembagian panggung yang menggambarkan polemik dua sindikat mafia secara bergantian merupakan suatu visualisasi yang cukup menarik. Benar saja, Muhammmad Ihsan selaku sutradara tidak main-main dengan gairah penonton. Penyusunan naskah bahkan sudah digarap oleh dirinya dan tim sejak Maret tahun lalu, sementara latihan dimulai dua bulan kemudian.

Hal unik lainnya yakni, kemunculan blackman pada lights on dan bukannya lights off terlihat mengganggu di awal. Namun, kehadiran blackman dapat berbaur dengan mengikuti koreografi aktor. Rupanya, Muhammad Ihsan ingin membuat suatu alur yang berbeda.

“Saya percaya ketika permainan berlangsung aktor-aktor saya akan bisa untuk menarik penonton meskipun blackman jalan di depan panggung karena memang begitu polanya,” jelas alumni Psikologi UI angkatan 2013 itu.

Tak hanya sekedar penampilan, pementasan ini juga sarat akan nilai moral.  “Cagak” menyampaikan adakalanya mendobrak pilihan merupakan jalan terbaik antara pilihan lain yang tidak sesuai idealisme diri. Nilai ini tentunya sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang ini. Pesan ini pun ada karena isu millenial crisis yang dibeberkan oleh Muhamman Ihsan.

Millenial crisis itu ketika anak-anak muda seperti kita tertekan oleh standar (yang diberikan –red) generasi yang lebih tua, bahwa ada orang-orang yang merasa ‘saya umurnya sudah segini, saya harusnya sudah bisa apa, kenapa saya tidak bisa seperti orang tua saya?’ hal itu sangat menyulitkan kita,” jelas dirinya.

Muhammad Ihsan juga memberi pesan kepada seluruh penonton pertunjukan besutannya. “Guys, kalian tentukan hidup kalian sendiri. Pilihan-pilihan kalian sendiri dan tetapkan bahwa kalau kamu mau tabrak (pilihan –red), tabraklah! bukan berarti pilihan kamu salah.”

 

Teks: M. Sbastian Rai
Foto: Rifki Wahyudi
Editor: Faizah Diena H

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas

Komentar



Berita Terkait