Teknologi dengan Sedikit Repetisi

Wednesday, 30 April 14 | 07:40 WIB

Judul              : Transcendence

Sutradara       : Wall  Pfister

Penulis            : Jack Paglen

Pemain           : Johnny Depp, Rebecca Hall, Morgan Freeman, Paul Bettany

 

Untuk apa lagi teknologi jika bukan untuk kemaslahatan umat manusia. Di zaman kini, manusia dituntut untuk selalu efisien sehingga proses produksi dapat menguntungkan. Oleh karena itu, teknologi dibutuhkan sebagai alat produksi demi kebutuhan manusia.

Bayangkan jika teknologi tidak berkembang: selamanya petani menggunakan pacul dan kerbau untuk membajak sawah, tidak ada kendaraan bermotor untuk memenuhi jalanan dan trotoar, dan tidak ada media-sosial untuk menampilkan kenarsisan kita.

Namun perkembangan teknologi yang pesat seperti sekarang membuat kehidupan seringkali didominasi olehnya. Transcendence menggambarkan hal ini. Trancendence adalah film tentang bagaimana teknologi justru jadi bumerang bagi peradaban manusia.

Adalah Dr. Will Caster (Johnny Depp) beserta istrinya yang cantik, Evelyn Caster (Rebecca Hall), yang punya ambisi untuk membuat suatu teknologi inteligensi artifisial yang dapat melebihi (transenden) keterbatasan biologis manusia. Ini adalah teknologi super-canggih yang tidak hanya hidup secara maya tapi dapat masuk secara fisik di kehidupan manusia, dimungkinkan karena penggunaan nano-teknologi.

“Jadi Anda ingin menciptakan Tuhan?” salah satu peserta seminar pengenalan teknologi ini bertanya kepada Will Caster. “Bukankah itu yang selalu diinginkan manusia.”

Bahaya dari keberadaan teknologi itu sudah dicium jauh-jauh hari oleh Revolutionary Independence From Technology atau disingkat R.I.F.T, bahkan ketika teknologi ini belum jadi sepenuhnya.

Mereka adalah sekelompok teroris yang ingin menyelamatkan peradaban manusia dari bahaya teknologi. Mereka tak segan menggunakan kekerasan kepada Will Caster. Bahkan mereka hampir menembak mati dirinya.

“Sungguh aneh,” kata Will Caster, “mereka berjuang atas nama kemanusian, tapi mencederai kemanusiaan itu sendiri dengan menyakiti orang lain; ini semacam logical fallacy.”

Untungnya peluru yang ditembakan oleh gerombolan R.I.F.T tidak membunuhnya. Namun peluru itu beracun, sehingga dokter memperkirakan umur  ilmuwan gila itu tinggal beberapa bulan lagi. Evelyn lantas cemas. Sebab ia begitu mencintai Will.

Singkat cerita, bersama koleganya,  Max Water (Paul Bettany), Evelyn merencanakan suatu hal yang gila. Ia akan memasukkan otak Will Caster ke dalam proyek teknologi inteligensi artifisial yang bernama P.I.N.N itu. Tujuannya agar Will dapat tetap hidup, walau tubuhnya termakan racun.

Dari sini, kisah teknologi yang berbalik-arah itu dimulai.

Sederetan tokoh terkenal seperti Johnny Depp, Morgan Freeman, Rebecca Hall, dan Paul Bettany, barangkali akan membuat Anda berekspektasi lebih dalam film ini. Namun saya menyarankan agar Anda mengurangi ekspektasi itu.

Keberadaan Paul Bettany yang sebelumnya juga pernah jadi peran pendukung di film A Beautiful Mind (Ron Howar), mendampingi John Nash (Russell Crowe) yang ambisius, membuat saya membayangkan Will Caster adalah peran yang mirip seperti Nash.

Namun saya perlu sadar untuk tidak menyama-nyamai keduanya, karena Will Caster diperankan oleh Johnny Depp dan ini adalah dua film yang berbeda. Saya beranggapan, Depp akan punya karakter yang nyentrik dan otentik, sebagaiamana peran-perannya terdahulu.

Di akhir film, saya berhati-hati merevisi anggapan ini. Film ini sedikit berbeda. Hanya saja: belum juga menunjukkan lebih jauh kelihaiannya dalam seni peran, Depp tiba-tiba harus mati di 30 menit awal. Konsekuensinya porsi yang diberikan Depp jadi sedikit. Selama satu setengah jam sampai akhir film ini, hanya suara-suara Depp yang terdengar dengan kejutan di akhir cerita. Benar-benar berbeda jika kita membayangkan ilmuwan seperti John Nash atau pun Tony Stark (Robert Downey Jr.) dalam Iron Man (John Favreau).

Penokohan Evelyn juga terlihat seperti repetisi Alicia Nash (Jennifer Connelly). Pasalnya, dalam film A Beautiful Mind, Alicia punya pola peran yang mirip dengan Evelyn, yaitu istri cantik ilmuwan yang setia namun kemudian hidup menderita karena terlalu sayang dengan suaminya.

Tidak sampai di situ, film ini memiliki sedikit repetisi yang lain. Tekonologi artifisial dalam film ini bukanlah yang pertama dalam setahun belakangan ini. Sebelumnya ada film Her (Spike Jonze) yang berhasil memenangkan Oscar untuk Original Screenplay.

Kemudian Morgan Freeman hanya jadi pelengkap di sela ketegangan tanpa peran yangberarti.

Di luar itu, film ini setidaknya cukup untuk memicu pemikiran kita tentang teknologi. Bagi saya, setelah Her yang menampilkan bagaimana teknologi menjadi begitu romantis dan mengerikan,  Transcendence menghadirkan hal serupa dengan sudut pandang berbeda.  Diskursus nilai dalam Transcendence begitu memperingati kita agar selalu berhati-hati dengan teknologi.

Kita seperti diajak berpikir, sejauh mana kapasitas teknologi dapat diterapkan dan sampai mana keperluannya untuk dikembangkan. Film ini adalah tentang aksiologi ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, perlu ditonton!

Syamsul Bahri Fikri

Komentar



Berita Terkait

The Shape of Water: Memahami, Merelakan, Dipersatukan tanpa Mengenal Batas Entitas
Pertemuan untuk Masa Lalu
Hidup Seorang Anna Karenina
Lolongan Hati Howl