Teror Eksibisionis Mengintai Kutek

Friday, 28 February 20 | 06:08 WIB

Pertengahan bulan Februari 2020, kondisi jalanan tengah malam yang sepi dan penerangan minim di daerah Kukusan Teknik (Kutek) terpaksa dilewati oleh Aip, seorang mahasiswa yang sedang dalam perjalanan pulang ke kos. Samar-samar ia melihat sesosok pria dari kejauhan. Aip mulai waswas, pikirnya, sosok tersebut adalah seorang begal. Namun, pria yang dihadapannya tersebut rupanya tidak memakai pakaian sehelai pun dan memamerkan alat vitalnya. Diserbu rasa kaget, Aip  pun bergegas pulang ke kosnya. Sesampainya di kos, barulah ia sadar bahwa yang barusan ia saksikan adalah tindak eksibisionisme. 

Dilanda emosi, secepat kilat Aip mencari bantuan warga demi menghentikan aksi pria tersebut. Namun hasilnya nihil, pria tersebut berhasil melarikan diri dan hingga saat ini diperkirakan masih melakukan aksinya. Belum lama ini bahkan kemunculan pria tersebut kembali menjadi perbincangan di suatu akun draft curhat kampus.

Kisah serupa dialami oleh SY. Ia sempat mengalami syok yang cukup hebat akibat menjadi korban eksibisionisme online. SY tak merasa curiga sedikit pun saat salah satu kakak kelas SMA-nya mengirimkan request untuk melakukan siaran langsung bersama di Instagram. Tanpa disangka-sangka, yang tertera di layar ponsel SY malah siaran langsung dari kakak kelasnya yang sedang menampilkan alat vital. Kaget setengah mati, SY pun langsung membatalkan siaran langsung. Akibat kejadian tersebut, SY merasa tidak lagi aman dalam menggunakan media sosial, ia menyeleksi ketat followers-nya dan masih sering terbawa perasaan waswas.

Kisah yang dialami oleh Aip dan SY ini bukanlah lagi kisah baru. Kasus eksibisionisme hampir selalu terjadi dan hampir pula selalu luput dari perhatian, sebab tindakan eksibisionisme umumnya dianggap tidak parah dan masyarakat cenderung mengecilkan tragedi yang dialami korban.

Eksibisionisme adalah bentuk dari gangguan seksual dengan memamerkan alat kelamin di tempat umum, terutama kepada lawan jenis untuk mendapatkan kepuasan seksual. Dilansir dari CNN Indonesia, seseorang dikatakan menderita eksibisionisme bila ada kecenderungan berulang atau menetap dalam pikiran untuk memamerkan alat kelamin kepada orang tak dikenal atau kepada orang banyak di tempat umum tanpa ajakan atau niat untuk berhubungan lebih akrab.

Menurut Fadhilah Amalia, seorang psikolog klinis, motif seseorang melakukan tindakan eksibisionisme adalah demi memenuhi dorongan seksnya dengan cara memamerkan alat vital hingga mendapat respon dari orang yang ditunjukan untuk mendapat kepuasan seksual. Meskipun begitu, tindakan ekshibisionisme sangat jarang diikuti oleh percobaan pemerkosaan.

“Pada dasarnya semua orang punya dorongan seks, tapi ‘kan kemudian ada yang bisa kontrol terhadap dorongan seksnya, juga ada yang enggak, (yaitured) yang kontrolnya kurang oke,” jelas Fadhilah.

Ekspresi ketakutan dari korban merupakan hal yang umumnya diincar oleh pelaku. Pelaku akan merasa puas serta merasa memiliki relasi kuasa atas korban seandainya korban menampakkan rasa takut atau syok. 

Beberapa orang menyiasati hal ini dengan tidak menampakkan ekspresi takut ketika menjadi korban dan balik menyerang psikologis pelaku. Namun, memanipulasi refleks adalah hal yang sulit dilakukan, sehingga umumnya korban dari ekshibisionisme sulit mengendalikan respon dan tak bisa mencegah rasa panik serta bingung saat kejadian berlangsung.

Menurut Fadhilah, yang terpenting adalah bagaimana setelah kejadian tersebut korban dapat pulih dari kepanikannya dengan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Jika sudah tidak dapat ditangani, jangan ragu untuk segera datang ke tenaga profesional untuk mendapatkan bantuan. 

Awalnya korban eksibisionisme mengalami panik dan bingung. Setelah kejadian, ada beberapa yang mengalami trauma dan ada yang bisa mengatasinya karena lingkungan sekitarnya mendukung. “Selain itu, pastikan bercerita dengan orang-orang yang dapat menjaga rahasia,” sarannya.

 

Teks: Syifa Nadia, Zuhairah Syarah
Kontributor: M. Riyan, Fadila Ardana
Foto: Istimewa
Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas

Komentar



Berita Terkait