The Shape of Water: Memahami, Merelakan, Dipersatukan tanpa Mengenal Batas Entitas

Saturday, 10 March 18 | 03:04 WIB
  • Judul film: The Shape of Water
  • Sutradara: Guillermo del Toro
  • Pemeran: Sally Hawkins, Michael Shannon, Doug Jones
  • Genre: Drama, Fantasi

Unable to perceive the shape of You, I find You all around me. Your presence fills my eyes with Your love. It humbles my heart, for You are everywhere

(The Shape of Water, disadur dari sebuah puisi karya Hakim Abul-Majd Majdūd ibn Ādam Sanāi Ghaznavi)

Cinta memiliki banyak pandangan mengenainya, salah satunya menurut Kahlil Gibran mengenai esensi dari perasaan cinta adalah kemampuan untuk merelakan; sebab cinta bukan mengenai kepemilikan. Pada kesempatan lainnya, Oscar Wilde mengutarakan bahwa alasan bagi dua insan untuk mencintai satu sama lain adalah semata-mata karena kesepahaman, karena keduanya “melantunkan sebuah lagu” yang hanya dapat dimengerti oleh tiap mereka.

Karya del Toro kali ini merupakan sebuah film dengan genre fantasi yang merupakan ciri khas film-film yang banyak digarapnya. Film The Shape of Water ini mencoba mengajak penontonnya untuk melihat bagaimana pernyataan Gibran dan Wilde dapat dijadikan premis yang menghasilkan roman menawan meski dinarasikan dengan sebuah plot yang absurd sekalipun.

Film ini mengisahkan seorang tokoh utama bernama Elisa Esposito, wanita bisu yang bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah fasilitas penelitian Amerika Serikat era Perang Dingin tahun 1962. Alur awal film ini menceritakan bagaimana dia menjalani rutinitasnya yang monoton setiap hari sebagai pegawai kelas rendah sembari bercengkerama dengan teman dekatnya yang juga seorang petugas kebersihan bernama Zelda, seorang wanita Amerika keturunan Afrika.

Selepas bekerja, Elisa mengisi harinya dengan bercakap-cakap bersama tetangganya di apartemen, yang juga teman dekatnya bernama Giles, seorang pria homoseksual paruh baya yang bekerja sebagai ilustrator iklan dengan berbagai masalah dan krisis dalam hidupnya. Dalam film ini terdapat hal menarik yang bisa dilihat dari lingkaran sosial Elisa yang kecil, yaitu fakta bahwa Elisa dan teman-teman dekatnya merupakan orang-orang yang termarginalkan pada era tersebut di Amerika Serikat. Penokohan serta penggambaran interaksi mereka di dalam film mengisyaratkan hubungan yang sangat erat bak keluarga yang selalu menopang setiap anggotanya sehingga mereka mampu untuk menyelesaikan permasalahan besar di pertengahan alur cerita film ini. Adapun film ini memberikan sebuah pesan positif mengenai kekeluargaan dan rasa pengertian antara kaum terpinggirkan.

Selain itu, di pertengahan hingga akhir dari alur film ini diperkenalkan tokoh baru yang merupakan seorang humanoid amfibi yang ditangkap militer dan dikurung di sebuah lab tempat Elisa bekerja. Bagian paling menarik adalah ketika bagaimana Elisa mampu membangun sebuah ikatan emosional dengan sang humanoid, terlepas dari kenyataan bahwa Elisa tidak dapat berbicara dan sang humanoid tidak mampu memahami perkataan manusia. Bahkan pada akhirnya keduanya menjalin suatu koneksi yang layak dikategorikan sebagai hubungan percintaan.

Melalui perkembangan plot tersebut, sutradara film ingin menunjukkan bagaimana cinta bekerja sesuai dengan pandangan Oscar Wilde. Meskipun secara literal terlihat kontradiktif dengan pernyataan orisinil Wilde yang mengibaratkan sepasang insan mampu saling mencintai akibat kesepahaman mutual akan suatu “lantunan lagu”. Bagaimana mungkin seorang wanita bisu dan “manusia setengah ikan” dapat bernyanyi? Tentu hal ini bukanlah yang dimaksudkan untuk dimaknai secara harfiah, mengingat sebuah “lagu” dapat dilantunkan tanpa menggumamkan suara maupun kata-kata atau secara teknis dengan cara “bernyanyi”. Lagu yang dimaksud juga tidak semata-mata untaian lirik yang dipadu oleh nada-nada melainkan hal-hal yang berhubungan dengan interaksi antar dua insan seperti komunikasi, ide, visi, prinsip, semangat dan hal lainnya.

Terlepas dari semuanya, poin terpenting dari premis yang digagas oleh Wilde dan film ini adalah adanya kesepahaman mutual antara dua insan yang tengah dilanda cinta. Elisa yang seorang bisu mampu berkomunikasi dan memahami sang humanoid yang juga tidak perlu mendengar bahasa manusia untuk bisa mengerti perkataan Elisa. Sang humanoid melihat Elisa sebagaimana Elisa menginginkannyasebagai seorang wanita seutuhnya yang memiliki rasa empati terhadapnya. Demikian halnya Elisa yang memandang sang humanoid tanpa merasa berada di derajat yang lebih tinggi darinya serta menunjukkan perhatian dan kasih sayang sebagai sebuah bahasa universal kepadanya. Boleh dikatakan Elisa dan sang humanoid berbagi frekuensi yang sama dan keduanya berbagi posisi yang sama sebagai kaum yang termarginalkan dari lingkungan sekitar, tidak dimengerti oleh hampir semua orang, dan terkurung dalam sebuah dunia yang serba membosankan. Kesamaan-kesamaan ini membantu keduanya berbagi kesepahaman yang mutual yang pada akhirnya menciptakan hubungan yang emosional yang berbuah pada percintaan.

Saat tiba waktunya, di suatu bagian dari cerita Elisa dihadapkan pada keharusan untuk melepaskan sang humanoid kembali ke habitat aslinya di lautan luas dikarenakan satu dan lain hal. Perbuatan tersebut mencerminkan cinta sejati sebagaimana Gibran berpendapat, yang ditunjukkan oleh Elisa ketika dia dengan tegar dan yakin merelakan sang humanoid untuk pergi meninggalkannya demi kebaikan sang humanoid. Adegan tersebut sangat kuat jika kita memandang kembali ke belakang ketika Elisa yang selalu hidup dalam kesepian dan merana sepanjang hidup pada akhirnya untuk pertama kali menemukan cintanya pada seseorang yang memahaminya. Adapun babak tersebut menggambarkan suatu sikap yang melawan intuisi untuk menyaksikan dan mengamini seseorang untuk melepas sesuatu yang sangat berharga baginya begitu saja, namun demikianlah cinta yang sesungguhnya, setidaknya seperti yang dinyatakan oleh Gibran dan dipercaya oleh sutradara film ini yang mengisyaratkan bahwa cinta yang sebenarnya bukanlah mengenai sifat posesif melainkan kemampuan untuk merelakan demi kebaikan bagi yang dikasihi.

The Shape of Water ditutup dengan adegan dipersatukannya Elisa dan sang humanoid di kedalaman lautan dan akhirnya bersatu dalam kesepahaman dan saling memiliki dalam dunia yang tenang, mau mendengar, dan tidak menghakimi. Film ini juga diakhiri dengan iringan musik dan pembacaan puisi yang indah oleh narator. Dengan ini kita bisa yakin bahwa setidaknya bagi Elisa dan pujaan hatinya, cinta itu layaknya “love is in the air” atau mungkin “love is in the water”, atau barangkali lebih tepatnya “love is the water”.

Teks: Robby J. Pasaribu

Foto: TheVoiceBW.com dan GeorgeKelley.com

Editor: Kezia Estha T.

Komentar



Berita Terkait

OKK UI 2014: Kita UI!
Kotak Hitam Perdamaian Aceh: Untuk Warga Aceh yang Rindu Bioskop
Menyingkap Kemenangan Clinton
Teknologi dengan Sedikit Repetisi