Tim UI Raih Medali Emas di Kompetisi Rekayasa Genetik Internasional

Monday, 24 November 14 | 09:16 WIB

Bertempat di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Boston, Amerika Serikat, kompetisi International Genetically Engineered Machine (iGEM) diikuti oleh 246 tim dari berbagai Negara di seluruh dunia. Empat tim diantaranya berasal dari Indonesia. Pada perhelatan ini, Indonesia merupakan satu-satunya Negara dari wilayah Asia Tenggara, karena tak adanya kampus lain yang ikut serta selain kampus-kampus dari Indonesia. Empat tim ini berasal dari Institut Teknologi Bandung yang dikategorikan sebagai overgraduate tim dan tiga universitas lainnya dikategorikan sebagai Undergraduate Team yakni : Universitas Brawijaya, Universitas Teknologi Sumbawa, dan Universitas Indonesia.

Pada kompetisi yang bertajuk Synthetic Biology based on standard parts ini, delapan orang Tim iGEM UI yaitu Siska Yuliana Sari, Robby Hertanto, Vanessa Geraldine, Anasthasia, Diana Christina, Gede Yuda Sugiarta, Etri Dian Kamila, Anggoro Wiseso.

Mereka berhasil menyabet medali emas atas proyek penelitian yang telah mereka lakukan. Proyek yang mereka angkat adalah bidang Health and Medicine yang meneliti tentang beberapa bakteri patogen dan diantaranya dapat menyebabkan penyakit kolera. menurut Siska, bakteri ini biasanya berkoloni, “Ketika bakteri berkumpul, maka bakteri itu membentuk suatu koloni dan kemudian bakteri akan membentuk biofilm, dan biofilm ini dapat menyebabkan bakteri tersebut resisten terhadap antibiotik.” Ujar mahasiswi Biologi ini. “Untuk itu kami mengusulkan ide baru untuk menjawab masalah biofilm dan resistensi bakteri ini dengan menggunakan ilmu sintetik biologi dan rekayasa genetika.” Tambahnya.

Siska dan teman-temannya, menemukan cara memusnahkan bakteri patogen dengan cara membuat bakteri GE “Genius E. coli” yang dapat merusak daya tahan biofilm tersebut dengan mensekresikan enzim alpha amylase dan nuclease. Ia mengatakan bahwa timnya juga berhasil men-debugging construct dari part gen HlyA milik tim iGEM Brasil 2009. “Sehingga hal ini menjadi poin penguat bagi tim iGEM UI kami untuk mendapatkan medali emas” imbuh Ketua delegasi Tim iGEM UI ini. Lebih lengkapnya, proses pemusnahan bakteri pathogen dilakukan dengan cara mengekspresikan gen pengkode enzim Nucleuse, Alpha Amylase, dan Peptide 1018 dalam tubuh Escherichia coli rekombinan, kemudian E. coli dapat mengeluarkan toxic berupa cationic peptide 1018. “Peptide 1018 yang dikeluarkan, dapat menjadi toksik bagi bakteri target (killing module), dan kemudian setelah misi selesai maka E. coli pun dengan sendirinya mati  karena adanya overekspresi peptide di dalam sel E. coli tersebut (safety module). Dengan adanya safety module ini maka akan lebih menjamin keamanan penggunaan E. coli rekombinan ini di lingkungan nantinya” papar mahasiswi angkatan 2011 ini.

Proses Penelitian hingga ke Negeri Matahari Terbit

Sebelum Ia bersama timnya mempresentasikan karya penelitiannya, ada beberapa tahap penelitian yang dilalui. Salah satu anggota timnya, sampai-sampai harus berangkat ke Jepang untuk meneliti bagaimana caranya agar bakteri E. coli mutan itu dapat mendeteksi bakteri-bakteri patogen Vibrio cholerae ini. “Kebetulan kami mendapat kesempaan untuk melakukan riset selama 1 bulan di  Nokodai (Tokyo University of Agricultural Technology-TUAT) dengan bimbingan dari dosen sana bernama prof. Masafumi Yohda” jelas Siska. Ia juga mengatakan bahwa dari sana salah satu timnya berhasil menemukan sekuense quorum sensing sebagai pendekteksi. Pendeteksi tersebut dinamakan CqsS Reseptor yang kemudian dapat diinsersikan di tubuh E. coli, sehingga GE rekombinan tim iGEM UI diharapkan mampu mendeteksi keberadaan bakteri Vibrio cholerae.

Adapun bakteri patogen yang mereka teliti adalah Escherichia coli, Vibrio cholera, Pseudomonas aeroginosa, Klebsiella pneumonia, Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus. “Bakteri E. coli kita tujuan utamanya adalah mendegradasi biofilmnya kemudian bisa mengeluarkan peptide yang bersifat toksik. Bakteri E. coli kita bisa broad spectrum (aplikasi luas) namun aktivitas dari daya degradasinya berbeda-beda.” tutur Siska. Lalu Ia menambahkan bahwa Ia mendapatkan hasil yang berbeda, yakni biofilm yang terdegradasi  secara signifikan adalah  Bacillus subtillis dan Staphylococcus aureus yang salah satunya dapat menyebabkan penyakit MRSA atau yang lebih dikenal sebagai kusta, yang sangat sulit disembuhkan.

Peraih Emas Pertama

Tim iGEM UI tahun ini adalah tim Indonesia pertama dari section undergraduate yang meraih medali emas dalam kompetisi Synthetic Biology ini. Pada tahun sebelumnya, tahun 2013, tim UI mendapat medali perak. Adapun tim lain tahun ini yakni ITB mendapat emas, UB dan Sumbawa mendapat perunggu.

Setelah meraih emas dalam kompetisi yang juga diiikuti kampus terkemuka seperti Harvard, MIT, TU Delft, dan lain sebagainya, Siska mengatakan bahwa penelitian ini sesungguhnya belum selesai. “Penelitian ini masih berkelanjutan dan diharapkan pihak kampus, riset dan teknologi (ristek) dapat mendukung penelitian ini sepenuhnya. Mengingat banyaknya biaya yang harus dikeluarkan untuk penelitian”

Ia berharap bahwa perhatian dan support baik pemerintah, investor, industri terhadap dunia penelitian semakin meningkat, “Sehingga hasil penelitian para ilmuwan indonesia tidak hanya teronggok menjadi tumpukan kertas melainkan menjadi sebuah produk yang dapat bermanfaat bagi masyarakat” tutupnya.

Rachmalia Puteri
Foto : Dok. pribadi

Komentar



Berita Terkait

Pemira IKM UI dan Partisipasi Mahasiswa
Kuliah Tanpa Tatap Muka Lewat PDITT
Peringati Hari Pers Nasional, Kompas Gelar #PeopleTalk Perdana
Faktor Kebiasaan Bukan Penyebab Skoliosis