UI Fashion Week 2020: Cinta Lingkungan Lewat Berbusana

Thursday, 19 March 20 | 06:42 WIB

Tak banyak diketahui orang bahwa di balik glamornya dunia mode, industri mode ternyata merupakan penyumbang pencemaran lingkungan tertinggi kedua setelah industri minyak, baik dalam proses produksinya maupun distribusinya. Fast fashion, adalah istilah yang merujuk pada betapa cepatnya tren di dunia mode bergulir; cepat disukai tetapi cepat pula ditinggalkan. Industri mode pun berlomba-lomba menghadirkan tren mode terkini dengan terus memproduksi produk baru setiap tren bergulir. Lantas, apa masalahnya?

Berdasarkan data yang dilansir dari Boston Consulting Group, pada 2015 saja, industri mode menghabiskan 79 miliar meter kubik air, melepaskan 1,715 juta ton CO2, dan memproduksi 92 juta ton sampah. Sebanyak 85% sampah-sampah tekstil berakhir di pembuangan sampah. Kabar buruknya lagi, sampah-sampah ini tidak mudah terurai sebab umumnya komposisinya telah dikombinasikan dengan bahan plastik, misalnya polyester.

Berangkat dari permasalahan ini, UI Fashion Week (UIFW) 2020 berinisiatif untuk mempromosikan gerakan cinta lingkungan di ranah mode. Melalui tema #EvolvingVague, rangkaian acara yang akan diadakan pada 16-19 April 2020 ini memiliki misi untuk menyebarkan kesadaran lingkungan di dunia mode.

Kyana Salapani, Project Officer UIFW 2020, menjelaskan makna di balik pemilihan tema tersebut. “Vague itu kan artinya the trend of the fashion at the time. Nah, kenapa (tema—red) kita #EvolvingVague? Karena kita itu pengen fashion industry ini terus evolve into something yang lebih baik. Bukan secara fashion-nya sendiri, bukan secara estetika, tapi juga secara moral. Secara sustainability, consciousness, itu juga mulai berkembang.” 

Selain itu, Kyana juga menyoroti Sustainable Development Goals (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) yang belum lama ini dikeluarkan oleh PBB. Salah satu poin yang menarik perhatiannya adalah poin ke-13, yaitu climate action (aksi untuk iklim). Menurutnya, kita mesti menyadari bahwa kita perlu melakukan sesuatu demi mencegah kondisi iklim yang mulai mengkhawatirkan. Meskipun isu lingkungan akhir-akhir ini telah cukup menyita perhatian, perhatian masyarakat masih sekadar tertuju pada pengurangan penggunaan plastik, tuturnya. Masih banyak yang tak menganggap produk mode sebagai suatu hal yang perlu diusahakan sustainability-nya, padahal secara statistik industri mode berperan besar dalam pencemaran lingkungan.

Ia menekankan pada tiga poin yang akan dibawa UIFW tahun ini. Tiga poin ini adalah local brand, renting, dan thrifting

Mahasiswi Psikologi ini menuturkan bahwa memilih membeli brand lokal dibanding impor secara konsisten pun ternyata adalah langkah kecil yang dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Sebagai contoh, ketika kita membeli pakaian online yang berada di luar negeri, bayangkan berapa banyak polusi yang dihasilkan dari pesawat terbang atau mungkin kapal kargo yang digunakan untuk mengantarkan paket? Berapa banyak bahan bakar yang digunakan? Bandingkan dengan, misalnya, membeli baju di Tanah Abang yang pada umumnya pabrik produksinya pun tak berada jauh dari situ.

Kyana pun menganjurkan kiat untuk menjadi lebih ‘sadar’ sebelum memutuskan membeli pakaian, “Aku tuh sempet baca, jadi kalo kita mau beli baju, kita harus mikir: apakah kita bisa make baju ini sampe 30 kali?” ujarnya, lalu ia melanjutkan, “Jadi emang bener-bener harus mikirin, kalo mau beli itu lo tuh bener-bener love it atau engga. Atau are you gonna use it, does it have a place in your home? Kalo enggak, gak usah dibeli. Tapi kalo kalian perlu misalkan buat acara atau apa, itu bisa nyewa, atau bisa beli yang secondhand.” 

Pada acara yang membutuhkan busana tertentu, Kyana menyarankan pada khalayak untuk lebih memilih untuk menyewa daripada membeli. Apalagi jika busana tersebut tidak lagi kita gunakan pasca acara. Demi mengampanyekan poin ini, pada tahun ini UIFW tak lupa menggandeng beberapa vendor peminjaman busana dalam rangkaian acaranya.

Thrifting, sebagai salah satu poin utama dalam tema yang dibawakan oleh UIFW,  juga patut dipertimbangkan sebagai alternatif belanja demi mencegah makin melimpahnya limbah pakaian. Thrifting mengacu pada tindakan membeli pakaian secondhand atau sisa impor yang masih layak pakai.  Kini, thrifting menjadi tren yang digandrungi anak muda untuk tetap tampil modis tanpa perlu merogoh kocek dalam-dalam. Kyana menuturkan bahwa yang penting dalam penggunaan busana atau baju bekas adalah untuk ikut pula mengurangi polusi yang dihasilkan oleh baju bekas yang dibuang tanpa adanya pengelolaan ramah lingkungan.

“Ini adalah hal yang bakal nge-affect kita semua. Regardless of, like, social status. Maksudnya, lo mau tajir, lo mau kurang tajir, atau mau kulitnya item, putih, atau rasnya apa—kalau bumi ini kebakar ya kita kebakar semua lah, ya intinya gitu. Perlu effort semua orang untuk ngebantu to make this world a better place for the future and for ourselves juga. Makanya, be conscious aja, tingkatkanlah kesadaran kalian pada apapun yang kalian kerjakan!” tegas Kyana menutup perbincangan.

 

Teks: Syifa Nadia, Fila Kamilah
Kontributor: Inggil Reka, Shafa Nabila M.
Foto: Shafa Nabila M.
Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas

Komentar



Berita Terkait