
Gerakan UI Mengajar adalah sebuah program pengabdian masyarakat yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa Universitas Indonesia untuk terlibat dalam kegiatan mengajar di tiap daerah terpencil. Tahun 2022 kemarin, Nganjuk menjadi salah satu Kabupaten di Jawa Timur yang menjadi titik aksi GUIM. Beberapa sekolah dasar yang berada di Desa Tritik dimana merupakan desa yang berada di tengah-tengah hutan pun menjadi tempat kami untuk menjalankan niat baik dari Gerakan UI Mengajar angkatan ke-12.
Sebagai mahasiswa yang belum pernah memiliki pengalaman apapun berkenaan dengan pengabdian masyarakat (pengmas) sebelumnya, saya mengambil langkah berani untuk mengikuti program ini selama 1 bulan lamanya. Awalnya ada sedikit keraguan lantaran pengabdian tersebut memiliki durasi cukup lama, terlebih saya tidak memiliki bekal pengalaman apapun. Namun, ternyata keputusan tersebut, menjadi keputusan terbaik untuk mengawali awal tahun 2023 saya dengan sangat baik dan menjadi turning point yang mengubah hidup saya secara positif. Melalui pengmas ini, saya belajar banyak hal seperti empati, toleransi, saling menghargai dan melindungi, ketulusan, mengesampingkan ego, dan bersyukur.
Gerakan UI Mengajar membuka mata saya terhadap realitas sosial yang ada di luar lingkungan kampus. Saya menjadi saksi betapa sulitnya akses pendidikan bagi anak-anak di daerah Desa Tritik. Di sana, mereka harus melewati hutan dan sungai untuk sampai ke sekolah. Belum lagi, fasilitas belajar seperti buku yang seharusnya bahkan menjadi bahan utama mereka belajar belum dapat terfasilitasi dengan lengkap. Daerah tersebut juga tidak memiliki akses internet yang memadai. Hanya ada satu-satunya sekolah di daerah tersebut, serta banyaknya fasilitas dan akses yang belum memadai untuk mendukung kelancaran pembelajaran para siswa maupun mendukung peningkatan potensi tenaga pengajar.

Selama aksi satu bulan di GUIM, kegiatan kami cukuplah beragam, kami terdiri dari 22 peserta yang terbagi menjadi 6 tim pengajar sekolah dasar kelas 1-6 dan tim panitia dimana 3 orang lainnya merupakan pengurus inti sehingga terdapat pergiliran dan mobilisasi. Saya sendiri merupakan perwakilan Pengurus Inti BEM UI selaku Koordinator Bidang Kemahasiswaan dan kebetulan mendapatkan lokasi titik di kecamatan Rejoso dengan orang-orang hebat ini. Adapun kegiatan kami, seperti salah satunya yang paling berkesan ialah membuat Rumah Pelangi sebagai bentuk program pojok baca yang dapat meningkatkan literasi para siswa siswi disana. Berkesan karena perjuangan membangunnya tidaklah mudah, ada keringat dan perjuangan untuk mendirikannya.
Setelah enam kelas berhasil kami rombak menjadi pojok baca, rasanya senang sekali saat melihat siswa-siswi disana sangat antusias karena memiliki wadah baru untuk melihat dunia melalui buku. Selain itu, kami menetap untuk tidur di rumpan salah satu rumah warga yang dipinjamkan kepada kami. Hal itu menjadi salah satu hal yang juga sangat kami syukuri, rumah yang menjadi tempat kami tidur, makan bersama, sampai bermain dengan anak-anak meninggalkan sejuta kenangan indah di dalamnya. Rumah sederhana tersebut menjadi saksi bahwa kami para pengajar dan panitia GUIM menaruh harapan pada anak-anak hebat tersebut yang memiliki asa. Saya mengenal salah satu anak yang sering bermain dengan saya namanya Jelita, anak manis tersebut merupakan siswi kelas 3 yang tergolong pintar juga di kelasnya. Suatu hari ketika mendekati waktu kepulangan
kami, Jelita mengatakan pada saya:
“Aku janji akan belajar yang bener. Aku ingin jadi Pengacara, ambil sekolah Hukum biar kaya Ibu Anin”. Saya benar-benar tertegun, anak pintar ini mudah sekali untuk termotivasi, semoga motivasinya akan selalu kokoh, saya yakin anak ini akan menjadi anak hebat di masa depan.
Pengalaman menarik lainnya, saya sempat berkenalan dengan salah satu orang tua murid yang rumahnya berada depan sekolah kebetulan beliau memiliki warung yang menawarkan untuk menjual WiFi internet, karena desa tersebut sulit sekali akses internetnya dan saya sering mampir untuk mengerjakan tugas kampus, kami jadi sering bercerita beliau memiliki anak disabilitas yang justru siapa sangka anaknya tersebut menjadi juara kelas.
Saya sangat terharu mendengarkan cerita beliau seorang Ibu yang membesarkan anaknya seorang diri banting tulang berjualan dari subuh hingga malam demi mendukung pendidikan sang anak. Saya terharu ketika beliau mengatakan kepada anaknya:
“Kita berjuang bareng-bareng ya nak, kamu sekolah, ibu kerja, kamu harus masuk UI kaya Mba Anin”. Hal tersebut sangat membuat saya tidak mampu membendung tangis ketika mendengarnya.
Beribu doa saya panjatkan pada Tuhan semoga doa Ibu yang tulus ini dapat terwujudkan. Melihat semangat mereka dalam belajar, meskipun dengan segala keterbatasan, saya merasa terharu dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik bagi mereka.

Melalui interaksi dengan para siswa maupun rekan-rekan GUIM selama 1 bulan saya belajar tentang arti toleransi dan saling menghargai. Selama menjadi panitia, saya juga diajarkan oleh para siswa tentang ketulusan. Meskipun mereka hidup dalam keterbatasan, mereka tetap memiliki keinginan yang kuat untuk belajar dan meraih mimpi mereka. Mereka tidak pernah mengeluh atau berkeluh kesah tentang situasi yang sulit. Sikap mereka yang tulus mengajar saya tentang pentingnya menghargai apa yang kita miliki dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidup kita. Mereka mengajarkan saya bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki banyak harta, melainkan memiliki tekad dan keikhlasan dalam menjalani hidup.
Mendapatkan rekan-rekan GUIM yang tidak saya kenal sebelumnya pun merupakan kebahagiaan bagi saya. Mereka sangat suportif dan memiliki rasa saling melindungi satu sama lain. Ketika saya memasuki kelompok titik Tritik di GUIM ini, awalnya membuat saya merasa canggung dan takut tidak diterima oleh anggota lainnya. Namun, sikap ramah dan terbuka dari mereka membuat saya cepat merasa nyaman. Kami saling mendukung dan berbagi pengalaman, sehingga terbentuklah relasi yang berkelanjutan bahkan sampai sekarang. Sungguh, saya mencintai keluarga ini.
Terakhir, hal terindah yang saya dapatkan selama 1 bulan di GUIM adalah saya kembali menemukan diri saya, diri saya yang selama ini terlalu jauh melangkah mengeksplorasi ambisi kehidupan kembali disadarkan bahwa hidup ini tentang rasa syukur dan bagaimana kita dapat bermanfaat bagi orang lain. “Sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat bermanfaat bagi sesama” prinsip itulah yang akan selalu saya tanam dan bawa, GUIM menguatkan kembali prinsip hidup yang selama ini sempat hilang dari diri saya. Terima kasih GUIM atas pengalaman satu bulan yang tar terlupakan dan menakjubkannya!
Teks: Anindytha Arsa Prameswari (Fakultas Hukum UI 2019, GUIM 12)
Editor: Dian Amalia Ariani
Suara Mahasiswa UI 2023
Independen, Lugas, Berkualitas!
LAMPIRAN




Kontributor