Logo Suma

The Myth of Sisyphus: Akseptasi terhadap Absurditas Hidup

3 menit · - kali dibaca
The Myth of Sisyphus: Akseptasi terhadap Absurditas Hidup

Judul: The Myth of Sisyphus
Pengarang: Albert Camus
Penerbit: Knopf
Tahun Terbit: 1955
Genre : Essay/Filosofi
Cetakan:  1

The Myth of Sisyphus adalah esai filosofis yang ditulis oleh Albert Camus dan dianggap sebagai salah satu karya eksistensialis paling popular. Buku tersebut diterbitkan dalam bahasa Prancis pada tahun 1942 dan bertajuk Le Mythe de Sisyphe. The Myth of Sisyphus berisi analisis simpatik nihilisme kontemporer terhadap usaha manusia dalam mencari makna kehidupan. Dipengaruhi oleh pemikiran filsuf Søren Kierkegaard dan Friedrich Nietzsche, Camus menyatakan bahwa hidup ini, secara esensial, tidak berarti, meskipun manusia dengan sekuat tenaga mencoba memaksakan keteraturan dalam kehidupan dan mencari jawaban atas pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya.

Bagian pembuka dari Myth of Sisyphus ini, Camus menjawab salah satu pertanyaan filsafat yang signifikan: Apakah untuk menghadapi absurditas hidup, seseorang perlu bunuh diri? Dia mulai dengan mengelaborasi kondisi absurd tersebut dengan menjelaskan bahwa kita membangun hidup kita di atas harapan akan hari esok, tetapi hari esok membawa kita lebih dekat ke kematian dan kematian tersebut merupakan musuh utama manusia. Manusia menjalani hidup mereka seolah-olah mereka tidak menyadari kepastian akan kematian. Menurut Camus, dunia adalah tempat asing dan tidak manusiawi, serta pengetahuan sejati adalah kemustahilan. Namun, dunia ini sendiri tidak absurd, yang absurd adalah hubungan kita dengan alam semesta. Dengan demikian, alam semesta dan pikiran manusia masing-masing tidak secara terpisah menyebabkan absurd, melainkan Absurd muncul oleh sifat kontradiktif dari keduanya yang ada secara bersamaan. Kisah manusia berakhir dengan abstraksi yang tanpa makna.

Camus kemudian mengkritik beberapa filsuf, seperti Edmund Husserl, Lev Shestov, dan Søren Kierkegaard yang telah mencoba menangani absurditas ini. Semua pemikiran filsuf tersebut, seperti dengan meninggikan akal untuk melawan keabsurdan hidup ini dalam kasus Edmund Husserl, diklaimnya sebagai melakukan "bunuh diri filosofis" dengan menyimpulkan yang bertentangan dengan kodrat absurditas itu. Bagi Camus, menganggap absurd secara serius berarti mengakui kontradiksi antara keinginan akal manusia dan dunia yang tidak masuk akal. Bunuh diri harus ditolak karena tanpa manusia, absurd tidak eksis. Namun, absurditas ini tidak akan pernah diterima secara permanen karena membutuhkan konfrontasi terus-menerus. Sementara, terkait dengan kebebasan manusia, manusia memperoleh kebebasan dalam arti yang konkret dengan tidak lagi terikat oleh harapan masa depan dan tidak perlu mengejar tujuan hidup yang fana. Dengan demikian, Camus sampai pada tiga konsekuensi dari sepenuhnya mengakui absurditas: pemberontakan, kebebasan, dan gairah.

Klimaks dalam buku ini terjadi saat Camus menjelaskan bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupan yang absurd ini. Camus memberikan beberapa analogi, mencakup Don Juan yang merupakan seorang penggoda sejati, Sang Aktor, dan Sang Penakluk yang adalah Manusia Absurd, untuk menjawab pertanyaan tersebut. Manusia Absurd adalah pejuang yang terlibat sepenuhnya dalam sejarah manusia. Manusia Absurd memilih untuk hidup secara eksklusif untuk dunia. Keprihatinan politik menjadi perhatian utama baginya dan dia terlibat secara antusias dalam perjuangan politik. Paradoksnya, ia harus mengakui kesia-siaan perjuangannya dan tidak berharap bisa mengubah dunia atau sifat manusia. Satu-satunya kemenangan yang pada akhirnya akan memuaskannya adalah kemenangan abadi dan dia tahu bahwa transendensi semacam ini adalah utopis.

Bagian terakhir dari buku ini, Camus menggunakan mitologi Yunani Sisyphus sebagai metafora untuk perjuangan gigih individu melawan esensi absurditas hidup.  Sisyphus, seorang raja nan licik dan mengagungkan kekuasaannya dengan cara membunuh, diberi hukuman berupa harus menggulingkan batu ke atas bukit hanya untuk menggelindingkannya lagi begitu dia sampai di puncak. Sisyphus harus menggulingkan batu tersebut lagi ke puncak dan siklus ini terjadi selamanya. Menurut Camus, langkah pertama yang harus dilakukan seorang individu adalah menerima kenyataan absurditas ini. Jika, bagi Sisyphus, bunuh diri bukanlah jawaban yang mungkin. Satu-satunya alternatif adalah memberontak dengan bersukacita dalam tindakan menggulingkan batu ke atas bukit.

Sisyphus adalah pahlawan paling absurd. Kebanyakan pembaca mungkin akan bersimpati padanya karena dia dikutuk untuk perjuangan abadi yang pada akhirnya tidak ada gunanya. Namun, para pembaca mencatat bahwa Sisifus, dalam menerima kondisinya, menemukan pemenuhan dalam perjuangan yang sia-sia. Dengan menerima kondisinya, Sisiphus menyadari bahwa ada keindahan dalam perjuangan itu sendiri dan mengatasi perjuangan itu sudah cukup memuaskan kita.

Mahakarya Camus ini mengajarkan pembaca untuk menerima yang absurd sebagai bagian dari kehidupan. Kita harus menerima kenyataan bahwa hidup tidak ada artinya, tetapi jangan terpengaruh oleh kesimpulan yang salah bahwa bunuh diri adalah cara untuk mengatasi absurditas tersebut. Seperti Sisyphus, pembaca dapat menemukan kepuasan dalam perjuangan yang sia-sia, tetapi hanya jika kita menerima yang absurd dan menerima kondisi kita.

Teks : John Christian
Editor : Aura Annisa
Foto : Istimewa

Pers Suara Mahasiswa UI 2022
Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap