
Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (BEM FIA UI) bersama Aliansi Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM se-UI menggelar aksi simbolik bertajuk #MatinyaReformasiPolri pada Rabu (1/7) sore. Aksi ini berlangsung di depan Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri), Jakarta Selatan.
Adapun Mabes Polri dipilih karena peserta aksi bercita-cita merujuk pada urgensi reformasi polri sebagai isu berskala nasional. Dengan demikian, aksi #MatinyaReformasiPolri pun diharapkan dapat memperoleh atensi lebih besar dari masyarakat luas.
Berbagai permasalahan yang disorot dalam aksi ini adalah aparat kepolisian yang kian menduduki ranah sipil dan terus menerus melakukan represifitas. Ahmad Aqil selaku Koordinator Lapangan menjelaskan demonstrasi yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Bhayangkara dilatarbelakangi oleh beberapa hal.
“Kita mau ulang tahun polisi itu harus dibarengi evaluasi besar-besaran karena, dalam setahun ini bahkan, apa yang dilakukan polisi? Polisi mendapat jabatan sipil, [polisi] memegang Koperasi Desa, [polisi] memegang dapur [Makan Bergizi Gratis]. Adapun impunitas [yang diberikan kepada aparat]. Akhirnya kesalahan wewenang itu tidak bisa ditindak atau semacamnya,” jelas Aqil.
Saat hendak menuju ke lokasi, sekitar pukul 15.43 WIB, aparat sempat mengadang dan melarang adanya demonstrasi di depan Mabes Polri. Namun, Aqil menceritakan, massa UI tetap berusaha menerobos blokade karena tidak adanya alasan yang jelas dari pihak aparat.
“Mereka [polisi di sana cukup] banyak dan bikin blokade. [Massa UI] mau jalan enggak bisa. [Ketika] kita paksa [untuk jalan], mereka dorong-dorong [kita], bahkan barang [simbolik] sampai ada yang dirusak.”
Sore itu, massa membawa keranda jenazah dan karangan bunga sebagai simbolisasi atas reformasi yang telah mati. Ia menjelaskan berbagai barang simbolik itu diambil, dirusak, dan dirobek oleh aparat.
“[Kita tanya mereka], kenapa kita enggak boleh aksi di Mabes Polri? Aksi damai, loh, bukan aksi massa dan semacamnya,” ungkap Aqil. Peserta aksi menilai blokade hingga perusakan barang simbolik oleh aparat merupakan tindakan yang alasannya tidak jelas. Polisi pun tidak membuka ruang dialog terkait itu.
Meski demikian, massa UI tetap dapat melangsungkan aksi dengan damai. Berbagai puisi dibacakan dan doa dipanjatkan. Beberapa orasi terus dilayangkan atas keresahan rakyat yang tak kunjung mereda. Aksi kemudian ditutup dengan pembacaan doa dan pernyataan sikap.
Adapun beberapa tuntutan yang dibawa dalam aksi simbolik ini, yaitu sebagai berikut.
Teks: Alya Putri Granita
Editor: Naswa Dwidayanti Khairunnisa
Foto: Ahmad Aqil
Desain: Nabila Attiya
Pers Suara Mahasiswa UI 2026
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Teks
Editor
Foto
Desain