Logo Suma

Aksi Nasional Geruduk Rumah Rakyat: Kronologi Kericuhan, Tuntutan, Perpecahan Gerakan, hingga Tindak Lanjut Aksi Massa

Redaksi Suara Mahasiswa · 12 April 2022
5 menit · - kali dibaca
Aksi Nasional Geruduk Rumah Rakyat: Kronologi Kericuhan, Tuntutan, Perpecahan Gerakan, hingga Tindak Lanjut Aksi Massa

Geruduk rumah rakyat menjadi seruan aksi dalam unjuk rasa yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia (SI) pada hari Senin, (11/04/2022) di Jakarta. Aksi ini merupakan  lanjutan dari unjuk rasa yang sebelumnya dilakukan pada 28 Maret 2022. Satu hari sebelum aksi, lokasi demonstrasi yang semula direncanakan di sekitaran Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Kompleks Monumen Nasional Jakarta, mendadak dipindahkan ke Kompleks Gedung DPR/MPR.

Mengutip Tirto, Koordinator BEM SI, Kaharuddin, mengatakan bahwa salah satu pertimbangan utama pemindahan lokasi tersebut adalah karena DPR sebagai pihak legislatif merupakan kunci untuk menutup amandemen Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 tentang masa jabatan presiden dan memenuhi amanat konstitusi dengan baik. Selain itu, BEM SI juga mengkhawatirkan sejumlah kelompok tertentu yang diketahui berupaya memanfaatkan gerakan mahasiswa.

“Wakil rakyat agar tidak mengkhianati konstitusi negara dengan tidak melakukan amandemen, serta kawan-kawan daerah perlu disambut juga aspirasinya dari daerah,” ujar Kaharuddin.

Menurut BEM SI, ada sekitar delapan belas BEM dari berbagai mahasiswa yang mengikuti aksi ini. Tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa, sejumlah elemen masyarakat lainnya seperti ibu-ibu, ojek online, organisasi masyarakat (ormas), hingga sejumlah pelajar STM terlihat memadati depan gerbang DPR untuk ikut berunjuk rasa. Terdapat perubahan yang cukup mendadak dari tuntutan aksi BEM SI. Tuntutan utama aksi yang tadinya ditujukan untuk mendesak dan menuntut Jokowi bersikap tegas dalam bersikap terkait penundaan pemilu, kini berganti menjadi mendesak dan menuntut wakil rakyat agar mendengarkan dan menyampaikan aspirasi rakyat bukan aspirasi partai.

Dalam aksi tersebut, BEM SI mengusung tagar #RakyatBangkitMelawan. Adapun, empat tuntutan yang mereka bawa adalah:

1. Mendesak dan menuntut wakil rakyat agar mendengarkan dan menyampaikan aspirasi rakyat bukan aspirasi partai;
2. Mendesak dan menuntut wakil rakyat untuk menjemput aspirasi rakyat sebagaimana aksi massa yang telah dilakukan dari berbagai daerah dari tanggal 28 Maret hingga 11 April 2022;
3. Mendesak dan menuntut wakil rakyat untuk tidak mengkhianati konstitusi negara dengan melakukan amandemen, bersikap tegas menolak penundaan pemilu 2024 atau masa jabatan 3 periode;
4. Mendesak dan menuntut wakil rakyat untuk menyampaikan kajian disertai 18 tuntutan Mahasiswa kepada Presiden yang hingga saat ini belum terjawab.


Selain tuntutan-tuntutan di atas, ada beragam permasalahan lain yang juga turut dibawa dalam aksi ini. Abid, dari Aliansi Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang mengatakan bahwa mahasiswa menyepakati tuntutan mengenai ketahanan pangan dan energi.

“Adanya ketidakmampuan pemerintah, khususnya Menteri Perdagangan dalam mengatur (mengontrol-RED) harga minyak. Selain minyak goreng, harga BBM seperti Pertamax juga naik, kan? Memang Pertamax bukan BBM bersubsidi, namun kita mengkhawatirkan kenaikan Pertamax akan memicu kenaikan pula dari harga Pertalite atau BBM bersubsidi lainnya,” tegas Abid.

Selain itu, Abid juga menyatakan ketidaksetujuan mahasiswa terhadap pengesahan UU IKN. Menurutnya, pengesahan UU IKN dinilai tidak memiliki urgensi, terutama di tengah krisis pandemi dan adanya wacana crowd-funding atau urunan dana masyarakat juga mengindikasikan betapa serampangannya program pemindahan IKN ini. Meskipun sudah disahkan, Abid dan mahasiswa lainnya masih berharap pemerintah dapat mengevaluasi kembali program ini.

Adapun elemen masyarakat lainnya seperti Linda, salah satu ibu-ibu peserta aksi, menyatakan bahwa keikutsertaannya dalam aksi bertujuan untuk memberi dukungan moral bagi mahasiswa. Menurutnya, saat ini mahasiswa sudah bangun dan sadar bahwa negara ini sedang tidak baik-baik saja. ia juga hadir untuk memantau agar aksi mahasiswa ini tidak mudah terpengaruh oleh kepentingan tertentu.

“Semoga seterusnya mereka tetap sadar bahwa masa depan negara ini ada di tangan mahasiswa," ujar Linda menambahkan.

Sebelumnya, satu hari sebelum Aksi Geruduk Rumah Rakyat ini diadakan, dalam mimbar keresahan masyarakat yang diselenggarakan Aliansi Mahasiswa Indonesia (AMI), Koordinator Bidang Sosial Politik UI, Melki Sedek Huang mengatakan aksi penundaan pemilu ini tetap diadakan kendati Presiden sudah mengatakan akan tetap mengadakan pemilu 2024 karena mahasiswa melihat masih adanya intrik politik terkait wacana penundaan pemilu yang dimainkan di tataran elit.

“Bisa saja dimungkinkan adanya revisi konstitusi, kenapa? karena Presiden Jokowi terus menerus mengatakan ‘akan patuh pada konstitusi’, ini semakin genting karena elit-elit politik terus menerus mengeluarkan wacana ini,” terang Melki pada hari Minggu (10/04/2022).

Kronologi Jalannya Aksi Demonstrasi: Keterlambatan hingga Kericuhan Massa Aksi
Selain pemindahan lokasi, secara impromtu jam aksi juga bergeser tiga jam dari jadwal awal yakni pukul 10.00 WIB. Rombongan massa aksi baru mulai memadati Senayan pada pukul 13.30 WIB. Poster dan banner besar protes juga ditancapkan di pagar gerbang pintu masuk DPR RI. Dari pantauan tim Suma UI, aksi mulai memanas ketika massa berusaha mendobrak pagar dan mendesak masuk ke Gedung DPR RI pada pukul 14.35 WIB.

Setelah orasi bergulir, pukul 15.00 WIB polisi membentuk border sepanjang pagar Gedung DPR RI untuk mengamankan kedatangan Kapolri dan tiga anggota DPR RI lainnya. Diatas mobil komando, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengatakan bahwa DPR RI menjamin tidak akan melakukan amandemen UUD 1945 untuk perpanjangan jabatan presiden tiga periode.

“Perpanjangan tiga periode dan proses yang tidak konstitusional tidak akan dilaksanakan. Kami jamin tahapan pemilu berjalan sebagaimana mestinya," janji Dasco dari atas mobil komando kepada ribuan pengunjuk rasa di depan Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (11/4/2022).

Sebagai bukti, ia mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo akan segera melantik anggota KPU dan Bawaslu terpilih periode 2022-2027. "Itu akan mempercepat tahapan Pemilu," ujarnya.

Sebelum tiga anggota DPR RI dan Kapolri meninggalkan lokasi, Koordinator BEM SI memberikan satu berkas merah tuntutan dan korek kuping besar kepada pemerintah sebagai simbol agar mereka dapat mendengar aspirasi masyarakat dengan lebih jelas. Setelah ketiga anggota DPR itu turun, aksi mulai diwarnai kericuhan hingga memakan korban. Pukul 15:34 WIB demonstran saling dorong dan melempar botol sambil bergerak meninggalkan lokasi aksi yang sedang ricuh. Sejumlah massa aksi lainnya membuat kericuhan dengan memukul dan membakar gerbang DPR RI. Aksi semakin tidak kondusif setelah ditembakkannya gas air mata oleh kepolisian untuk memukul mundur massa aksi.

Kericuhan ini turut memakan korban, salah satunya adalah Ade Armando, dosen FISIP UI sekaligus pegiat media sosial, yang menjadi sasaran amuk massa. Seorang wartawan bahkan sempat melihatnya ditelanjangi sebelum akhirnya dievakuasi oleh polisi. Ade sempat terlibat adu mulut dengan sejumlah massa aksi sebelum akhirnya menjadi korban pengeroyokan. Beberapa jam sebelum aksi berlangsung, Ade sempat menyampaikan kepada awak media bahwa ia pun juga keberatan dengan gagasan penundaan pemilu, ia menyayangkan gerakan mahasiswa yang saat ini, menurutnya, terpecah dan akhirnya ‘terkesan’ cari panggung.

“Saya juga ingin katakan bahwa gerakan-gerakan seperti ini jangan sampai sporadis, terpecah belah, konflik sendiri, dan seterusnya. Mahasiswa tuh harus lebih dewasa lah, lebih bersatu untuk tujuan-tujuan yang menurut saya baik, karena saya termasuk orang yang tidak setuju dengan perpanjangan masa jabatan presiden,” tandas Ade.

Diduga Ade dipukul hingga babak belur oleh sekelompok massa aksi yang menganggapnya sebagai pendukung setia Jokowi dan pernah menistakan agama tertentu.

Kenapa Aksi Mahasiswa Terpecah?

Aksi mahasiswa yang diselenggarakan di waktu yang berbeda-beda, dengan penyelenggara aksi yang berbeda pula—memancing pertanyaan publik. Desas-desus santer terdengar terkait perpecahan ini, termasuk bahwa aksi kali ini memberi kesan seolah hanya dibuat untuk kepentingan politik identitas semata. Menanggapi perpecahan, mahasiswa juga menyayangkan adanya perbedaan pandangan politik yang sudah lama mengakar pada BEM SI sebagai wadah perhimpunan BEM-BEM Indonesia.

“Memang betul, kita juga sangat menyayangkan mahasiswa yang seharusnya mengutamakan persatuan untuk masyarakat justru terpecah karena ideologi politik,” ujar Abid, salah satu mahasiswa peserta aksi.

Berbeda dengan Abid, Melki Sedek Huang selaku Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI justru menganggap perpecahan ini sebagai bagian dari demokrasi. “Kami rasa ini salah satu hal yang sah dalam negara demokrasi di mana aliansi BEM SI Rakyat Bangkit begitupun Aliansi Mahasiswa Indonesia berhak untuk menyelenggarakan berbagai hal untuk menyuarakan penolakan terhadap penundaan pemilu 2024,” ujar Melki kepada wartawan satu hari sebelum Aksi Geruduk Rumah Rakyat dilaksanakan.

Kendati demikian, menurut Melki, Aliansi Mahasiswa Indonesia sudah mengajak BEM SI Rakyat Bangkit untuk bergabung bersama dalam satu gerakan, tetapi BEM SI Rakyat Bangkit menolak dan ingin membuat gerakan sendiri.

Apa Tindak Lanjut Setelah Aksi?

Pada akhirnya demonstrasi besar kemarin merupakan bagian dari rangkaian gerakan mahasiswa untuk menolak penundaan pemilu 2024 mendatang. Setelah aksi ini berlangsung, masih ada serangkaian gerakan lainnya yang akan dilakukan mahasiswa dan elemen masyarakat untuk mendapatkan hasil yang konkret, yakni terpenuhinya semua tuntutan. Menunggu aksi selanjutnya pada tanggal 21 April, selanjutnya mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa Indonesia (AMI) berencana akan terlebih dahulu menunggu pembahasan lanjutan dari Rapat Dengar Pendapat oleh DPR.

“Di masa pra-aksi, kita akan melihat terlebih dahulu pembahasan dari DPR, apakah pernyataan mereka (tadi-RED) sekedar formalitas atau benar-benar serius dilaksanakan,” Ungkap Abid dari Aliansi Mahasiswa UNJ.

Selain itu, Melki juga mengatakan bahwa AMI akan menyelenggarakan Simposium Nasional untuk membuat gerakan ini lebih konkret secara akademik. “Sebagai bukti bahwa gerakan ini ilmiah, gerakan akademik, dan gerakan yang taat pada konstitusi, kita akan adakan simposium nasional nanti,” terang Melki.

Teks: Loga Prity, Dian Amalia
Kontributor: Humairah Dila
Editor: Syifa Nadia
Foto: Alvin Anggara Syahputra


Pers Suara Mahasiswa UI 2022
Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap