Rotunda Universitas Indonesia (UI) menjadi saksi atas aksi Bela Palestina yang dilakukan oleh civitas UI pada Jumat (3/5) lalu. Dengan berbagai atribut Palestina, massa aksi menyuarakan seruan "Palestina Merdeka!" secara berulang sejak aksi dimulai. Aksi yang bertajuk “UI Palestine Solidarity Camp” ini merupakan bentuk kepedulian mendalam terhadap Palestina yang terus-menerus dikemukakan di bawah.
Sejak pukul 15.30 WIB, satu persatu civitas UI mulai memenuhi titik aksi. Massa aksi yang terdiri dari mahasiswa dan juga dosen UI ini berkumpul menjadi satu untuk menggaungkan isu kejahatan kemanusiaan yang hingga kini masih terjadi terhadap Palestina. Adapun penggerak utama dari aksi Bela Palestina ini, yaitu Salam UI, yang juga didukung oleh beberapa pihak lain.
Jadi, kami berdiskusi dan beberapa orang lagi. Penggerak utamanya Salam UI, tapi kami mengundang mitra lain juga untuk ikut terlibat dalam aksi ini. Kita sudah mengajak berbagai UKM lain, sudah mengajak BEM juga,” tutur Muhammad Satrio Yodhatama, selaku koordinator aksi.
Aksi Bela Palestina diawali dengan Perayaan oleh Satrio dan pembacaan puisi oleh beberapa perwakilan dosen UI. Dalam sambutannya, Satrio mengungkapkan bahwa aksi ini adalah bentuk nyata dari civitas UI dalam membela kebebasan Palestina.
“Ini insya Allah menjadi salah satu bukti (dalam) membela kemanusiaan, bahwa kita membela saudara-saudara kita di Palestina yang dipersekusi, yang terus menerus dijajah oleh rezim zionis Israel,” ungkap Satrio.
Adapun pembacaan puisi dilakukan oleh dua perwakilan dosen UI, salah satunya adalah Prof. Riri dari Fakultas Teknik. Ia membacakan puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu?”. Umpan demi umpan, Riri berhasil membangkitkan rasa haru di tengah massa aksi.
Tenda sebagai Simbol Solidaritas
Sesuai dengan judul yang dibawa dalam aksi ini, beberapa tenda menghiasi Rotunda UI. Satrio menjelaskan bahwa pertemuan menjadi simbol solidaritas terhadap aksi bela Palestina yang dilakukan oleh mahasiswa Amerika Serikat di kampus mereka.
“Meskipun di sini kita tidak berkemah secara nyata , karena memang tujuan kita tidak menginap. Tapi ini sebagai wujud simbol kepedulian kita terhadap mereka, terhadap orang-orang yang berani untuk beraksi membela Palestina, termasuk teman-teman kita yang ada di Amerika Serikat sana,” tutur Satrio.
Pada awalnya, aksi ini akan dilakukan lebih lama, sebagaimana poster pemberitahuan aksi yang tertulis bahwa aksi Bela Palestina akan dilakukan dari pukul 15.30 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Namun, rencana itu harus diurungkan demi iklim yang kondusif dan menjamin perizinan.
"Untuk alasan itu sebenarnya kita ingin menjaga kondusifitas acara ini ya. Jadi berspekulasi jika terlalu malam akan timbul masalah. Kemudian yang kedua, sebenarnya juga (karena) perizinan dari pihak kampus hanya mengizinkan sampai pukul 6 sore," jelas Satrio.
Bela Palestina Bukanlah Soal Agama
Orasi dilakukan setelah usai dan pembacaan puisi dilakukan. Beberapa perwakilan mahasiswa maupun dosen menyampaikan sikapnya dalam sesi orasi itu. Sedikit banyaknya, mereka berbicara mengenai pentingnya membela Palestina demi kemanusiaan.
Ramdhani Nur Widianto selaku Ketua Salam UI menjadi perwakilan mahasiswa pertama yang berorasi. Dalam orasinya, Dhani mengemukakan bahwa tidak perlu melihat hal lain, selain kemanusiaan untuk mengikuti aksi bela Palestina.
“Sampai hari ini, kita berkumpul di sini sebagai manusia, tidak perlu melihat latar belakang, cukup menjadi manusia,” tegas Ramdhani.
Selaras dengan itu, orasi salah satu perwakilan mahasiswa Fakultas Hukum (FH) menegaskan bahwa aksi Bela Palestina ini benar-benar demi kemanusiaan, bukan keagamaan.
"Hari ini kawan-kawan, panitia dan sebagainya sudah memperkenalkan bahwa ini bukan gerakan massa Islam atau apa pun itu. Kita memanggil semua elemen karena ini tentang kemanusiaan. Kalau hanya sekedar keagamaan kenapa kita hadir? Kita hadir menuntut kebebasan berpendapat, kita hadir ke DPR untuk menuntut kesalahan, tapi kenapa saat ibu dan anak dibunuh secara massal, kita diam?" tegasnya.
Aksi Bela Palestina akan Berlanjut hingga Genosida Dihentikan
Kekejaman Israel terhadap Palestina selama sepuluh puluh tahun mengundang empati masyarakat untuk mengirimkan kecaman terhadap kekerasan yang dilakukan oleh Israel. Terlebih lagi, kebrutalan zionis Israel tak dipandang buruk. Berhubungan dengan itu, Ramdhani merasa bahwa mahasiswa perlu meningkatkan kesadaran dunia atas penderitaan Palestina dengan vokal terhadap isu ini.
“Isu Palestina ini meskipun sudah lama, (tetapi) hingga saat ini belum selesai. Sayangnya, korban terus berjatuhan, semakin banyak, tidak peduli anak-anak, perempuan, ataupun warga sipil. Jadi, memang perlu bagi kita (sebagai) pelajar untuk mencerminkan pelanggaran kemanusiaan tersebut agar dunia menjadi sadar , agar kita juga menjadi bagian dalam mewujudkan cita-cita Indonesia [untuk] mewujudkan perdamaian dunia,” terang Ramdhani.
Iqbal Cheisa selaku Wakil Ketua BEM UI 2024 pun sepakat bahwa isu Palestina harus terus digaungkan hingga Israel berhenti melakukan tindak kejahatan kemanusian terhadap rakyat Palestina.
“Kita sepakat bahwa isu ini, tuh tidak akan pernah expired , tidak akan pernah basi sampai akhirnya pelanggaran kemanusiaan yang terjadi di Palestina itu selesai ataupun berhenti. Karena walaupun pada akhirnya masih belum selesai, ya menurut kita masalah isu kejahatan kemanusiaan di Palestina ini harus tetap digaungkan, harus tetap disuarakan, dan harus tetap didampingi saudara-saudara kita yang (ada) di Palestina,” tutur Iqbal.
Sudut pandang lain disampaikan oleh Verrel Uziel selaku Ketua BEM UI 2024. Verrel berpendapat bahwa aksi Bela Palestina ini harus dilakukan karena menilik dari bunyi pembukaan UUD 1945 yang dimiliki bangsa Indonesia.
“Sedikit tambahan sederhana, kenapa kami menyuarakan hal ini karena sejalan dengan semangat bangsa Indonesia bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa,” ungkap Verrel.
Verrel pun mengungkapkan bahwa sikap diam sama dengan mengambil peran dalam kejahatan yang dilakukan oleh Israel sehingga penyuaraan isu Palestina ini harus terus dilakukan.
“Apabila kita mendiamkan diri atau diam terhadap perilaku perbuatan kejahatan, sama saja kita juga ikut andil dalam kejahatan yang dilakukan oleh Zionis Israel. Maka dari itu, kami memilih bersuara menyuarakan kebenaran untuk berada di sisi teman-teman kami yang ada di Palestina,” tambah Verrel.
Hal Kecil Berdampak Besar: Boikot Produk hingga Sebarkan Kepedulian Lewat Media Sosial
Aksi yang dilakukan ini tidak hanya bertujuan untuk menggaungkan kepada dunia mengenai dukungan civitas Universitas Indonesia terhadap Palestina. Akan tetapi, juga untuk menyadarkan seluruh pelajar dan masyarakat untuk melawan kekejaman Israel terhadap Palestina dengan memboikot produk-produk yang berafiliasi terhadap Israel.
Sama halnya dengan ungkapan yang dituturkan oleh Iqbal Cheisa yang menyoroti pentingnya pelajar dan masyarakat untuk melakukan langkah nyata dalam melawan kekejaman Israel, yakni dengan memboikot berbagai produk-produk pro Israel.
"Kita berharap masyarakat Indonesia bisa terus meluncurkan dukungan. Entah dengan cara apa pun. Mungkin dengan hal-hal kecil begitu, ya. Tetap melakukan pemboikotan terhadap produk-produk yang memang berafiliasi dengan para penjahat-penjahat di sana, yaitu Israel," ujar Iqbal.
Selain itu, Iqbal juga menekankan pentingnya penggunaan media sosial sebagai alat untuk menyuarakan kepedulian terhadap isu Palestina, yaitu melalui pengunggahan ulang cerita di media sosial, seperti Instagram yang dapat membantu menyebarkan kepada khalayak terkait situasi di Palestina.
Berbagai tindakan yang dianggap sepele, seperti menolak untuk membeli produk-produk yang berafiliasi dengan Israel serta menyebarkan kembali kondisi Palestina di media sosial diharapkan mampu membawa dampak signifikan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat dunia tentang isu Palestina. Selain itu, tindakan ini juga dapat menjadi pemicu bagi masyarakat untuk melakukan langkah-langkah perubahan yang lebih besar dalam mendukung kebebasan Palestina.
Rilis Sikap dan Tuntutan Utama
Dalam rilis sikapnya, Iqbal Cheisa selaku Wakil Ketua BEM FH UI 2024, menekankan betapa mencerminkan keadilan dan solidaritas global untuk mengakhiri penderitaan yang dialami oleh masyarakat Palestina.
Sementara itu, Satrio juga menyatakan bahwa secara garis besar terdapat tiga tuntutan utama yang merupakan esensi dari aksi ini. Pertama, Israel harus menghentikan kekejaman terhadap rakyat Palestina. Kedua, tuntutan untuk kebebasan berekspresi, terutama bagi para pembela Palestina di Amerika dan seluruh dunia agar tidak ditentukan oleh pihak yang berwenang. Terakhir, menghimbau agar pemerintah konsisten untuk tidak membuka hubungan politik internasional dengan Israel.
Harapan, Pesan, dan Kesan dari Para Peserta Aksi
Di tengah seruan pembelaan terhadap Palestina, terselip doa dan asa yang terpatri dalam diri massa aksi. Aksi ini bukan sekadar simbol belaka, namun juga sebuah panggilan moral yang menginspirasi dan meningkatkan rasa empati. Dari setiap seruan yang diteriakkan massa aksi, terpancar harapan akan terwujudnya kemerdekaan bagi Palestina.
Satrio menekankan kepada masyarakat Indonesia agar menyadari bahwa persoalan yang terjadi di Palestina belum selesai. Ia berharap agar seluruh lapisan masyarakat tetap mewaspadai eskalasi masalah Palestina, serta perlunya konsistensi dari pemerintah dalam mendukung Palestina dengan tidak mengakui Israel dan mempertahankan sikap untuk tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Mencuatnya segala harap tidak hanya hadir dari Satrio, melainkan civitas UI yang juga ikut andil. Heru Susetyo selaku dosen FH UI juga berharap agar aksi ini dapat membangkitkan kesadaran lebih luas di kalangan masyarakat, termasuk di lingkungan kampus. Seyogianya Indonesia dapat menjadi garda terdepan dalam isu Palestina ini, karena mengingat bahwa Palestina adalah salah satu negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia sejak awal. Ia juga menyoroti bahwa seharusnya masyarakat malu dengan kampus-kampus yang ada di Amerika Serikat, karena Indonesia lebih memiliki banyak kesamaan dengan Palestina, baik dari budaya maupun latar belakang sebagai negara yang pernah berjajah.
Dalam kesempatan yang sama, Aisyah sebagai salah satu peserta aksi yang merupakan mahasiswa FH UI 2023, ikut menyampaikan kesan dan pesan akan kebahagiaannya terhadap banyaknya partisipan yang ikut memeriahkan aksi ini.
“Alhamdulillah, aku terharu banget banyak orang yang datang, banyak banget orang yang punya kepedulian. Nggak ngeliat latar belakang apa, dan semuanya peduli, semuanya paham gitu bahwa ini [adalah] isu sosial yang semuanya harus dilihat, gitu,” tutur Aisyah.
Sekitar pukul 18.00 WIB, aksi ditutup dengan sesi tanda tangan di atas spanduk putih oleh massa aksi sebagai simbol dukungan terhadap perjuangan Palestina.
Teks: Wina Afriyanti, Windi Lestari, Dela Srilestari
Foto: Aliyah Pratomo
Editor : Choirunnisa Nur Fitria
Tahun 2024
Mandiri, Lugas, dan Berkualitas!