
Menjelang tengah hari pada Rabu (7/2), sejumlah besar mahasiswa dari berbagai universitas berkumpul di sekitar Tugu Reformasi 12 Mei Universitas Trisakti Jakarta untuk melakukan aksi demonstrasi yang bertajuk “4 Tuntutan, 10 Isu”. Sejalan dengan tajuk aksinya, para mahasiswa menyerukan empat tuntutan dalam aksi tersebut, yaitu pemakzulan Jokowi, pemboikotan partai politik yang tidak mendukung pemakzulan Jokowi, pendesakan para menteri untuk mundur dari Kabinet Indonesia Maju, dan penyeruan aksi protes di seluruh Indonesia hingga Jokowi dimakzulkan. Adapun sepuluh isu yang dibawa dalam aksi tersebut adalah Pemilu Curang, Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), Konflik Agraria, Monopoli Sumber Daya Alam (SDA), Kerusakan Lingkungan, Pendidikan dan Kesehatan Mahal, Kebebasan Sipil, Keadilan Ekonomi dan Gender, Kekerasan Aparat, serta Produk Hukum Bermasalah. Dengan mengangkat slogan #TolakPemiluCurang, para mahasiswa menggelar aksi tersebut sebagai bentuk protes terhadap tindak tanduk Jokowi dan pihak terkait lainnya selama tahapan Pemilu 2024 yang terindikasi bersifat curang.
Setelah bersama-sama melakukan konsolidasi di Tugu Reformasi 12 Mei, para mahasiswa yang tergabung dalam massa aksi mulai meninggalkan titik kumpul dan bersama-sama melangsungkan longmars (long march) menuju titik aksi, yaitu kawasan Harmoni. Selama perjalanan, iringan massa aksi yang terdiri dari sebagian besar mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ), Universitas Trisakti (Usakti), Universitas Nasional (UNAS) melantunkan lagu-lagu perjuangan sesuai arahan orator dari mobil komando. Sekumpulan massa aksi juga merusak dan mencabut alat-alat peraga kampanye yang berada di sepanjang jalan menuju titik aksi sebagai bentuk protes akan polusi visual yang dapat membahayakan pengguna jalan, terutama para pengendara.
Selain itu, orator terus melantangkan narasi kekecewaan dan tuntutan aksi dari atas mobil komando. Berbagai poster yang berisikan kekecewaan dan tuntutan tersebut juga ditempelkan pada markah jalan dan tembok-tembok fasilitas umum. Massa aksi juga membentangkan spanduk dan poster selama perjalanan yang isinya senada dengan tuntutan yang dibawa. Salah satunya adalah sebuah karton besar bertuliskan enam “Dosa-Dosa Jokowi”, meliputi:

Di tengah-tengah perjalanan, massa aksi sempat berhenti untuk beristirahat di daerah Tomang. Sembari beristirahat, para orator menyampaikan orasinya dari atas mobil komando yang memblokade jalan Tomang Raya. Pemblokadean oleh mobil komando dan massa aksi itu mengakibatkan kemacetan di arus lalu lintas Tomang-Harmoni. Setelahnnya, massa aksi melanjutkan perjalanan menuju titik aksi di kawasan Harmoni, tepatnya di belakang Kantor Sekretariat Negara.
Sesampainya di lokasi aksi, para aparat kepolisian dengan seragam dan peralatan lengkap menyambut kehadiran massa aksi. Awalnya, aksi berjalan tenang, tetapi adu mulut dan bentrokan antara massa dengan aparat tidak dapat terhindarkan juga. Hal tersebut terjadi karena massa aksi mendengar adanya dugaan pemukulan salah satu mahasiswa oleh aparat dengan menggunakan helm polisi. Setelah adanya diskusi yang alot antara perwakilan massa dan aparat, aparat pun mundur dan memberikan ruang bagi massa untuk berdemonstrasi.
Saat peralihan sore ke malam, mahasiswa kembali memberhentikan aksi sejenak seiring tibanya waktu magrib. Salah satu perwakilan massa aksi mengumandangkan azan Magrib dari mobil komando. Setelah itu, aksi demonstrasi kembali berlangsung hingga malam hari.
“Turun, turun, turun, Jokowi! Turun, Jokowi, sekarang juga!” suara massa terdengar lantang dan serempak di bawah pimpinan orator melalui mobil komando. Nuansa aksi diwarnai oleh kobaran api dari ban dan baliho-baliho kampanye yang terbakar di belakang mobil komando. Nyala api juga terlihat di sepanjang tembok beton dan kawat duri yang memisahkan aparat dengan peserta aksi. Di sela-sela tuntutan pemakzulan, mahasiswa tak lupa membacakan sumpah mahasiswa.
Di penghujung aksi, Fadli Yudhistira selaku Koordinator Bidang Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPNVJ memberikan pernyataan sikap massa aksi. Dalam pernyataan itu, Fadli menekankan bahwa aksi ini merupakan aksi pemantik dari aksi serupa di waktu mendatang. Dia juga menyerukan agar mahasiswa di daerah mengadakan konsolidasi, baik berupa aksi terpusat maupun aksi yang tersebar di seluruh daerah Indonesia.
“Harapannya, gerakan ini terus membesar dan kesadaran-kesadaran (akan hal) ini (dapat) kita bangunkan lagi di daerah-daerah kita. Ini juga (menjadi) seruan bagi teman-teman di daerah untuk juga semangat mengikuti gerakan yang kita lakukan sebab rezim ini tentu harus kita lawan,” pungkas Fadli dalam pernyataan sikap itu.
Teks: Aulia Arsa A. dan Daffa Ulhaq
Editor: Jesica Dominiq M.
Foto: Detik
Pers Suara Mahasiswa UI 2024
Independen, Lugas, dan Berkualitas!