
Ratusan massa aksi yang tergabung dalam koalisi masyarakat sipil dan organisasi mahasiswa memadati kawasan Patung Kuda, Monas, Jakarta Pusat pada Sabtu (7/3). Di bawah payung gerakan “Weekend Melawan”, massa melayangkan protes keras terhadap arah kebijakan luar negeri Indonesia yang dinilai semakin condong pada kepentingan imperialisme global, khususnya terkait keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP).
Aksi dimulai pukul 16.20 WIB dengan menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya" yang bergema di tengah rintik hujan. Setelah itu, panggung akai dibuka dengani penampilan seni yang membawakan lagu anti-imperialisme, yakni "We Will Not Go Down" karya Michael Heart dan "Zombies" milik The Cranberries. Penampilan tersebut menjadi pembuka emosional sebelum rangkaian orasi disuarakan.
Solidaritas Lintas Elemen Melawan Imperialisme
Berbagai elemen lembaga bergantian menyampaikan pandangannya terkait situasi geopolitik saat ini. Koordinator Bidang Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI)I, Hafizh Haernanda menyoroti sikap pemerintah terhadap isu Palestina. Ia menilai terdapat ironi antara solidaritas masyarakat Indonesia terhadap Palestina dengan respons pemerintah yang dinilai belum tegas. Sementara itu, Forum Mahasiswa Nasional (FMN) mengecam agresi militer Amerika Serikat dan Israel yang dinilai melanggar kedaulatan Iran.
Organisasi lain seperti Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI) dan Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) memaparkan dampak sistem imperialis terhadap hak perempuan dan kaum tani. Adapun International League of Peoples' Struggle (ILPS) serta Baik Berisik menyoroti terenggutnya hak ibadah warga di wilayah konflik. Perwakilan Rakyat Bangkit turut menyerukan agar pemuda tidak bersikap pasif terhadap situasi global yang dinilai berdampak pada kemanusiaan.
Napas Panjang Perlawanan Mahasiswa
Universitas Indonesia (UI) melalui UI Students for Justice in Palestine (UI SJP) dan BEM UI turut berpartisipasi dalam aksi ini. Wakil Ketua UI SJP, Shobri, menyebutkan aksi ini merupakan bagian dari rangkaian konsisten untuk menekan pemerintah.
"Kami sudah berekspektasi bahwa satu aksi tidak akan cukup. Melalui “Weekend Melawan”, kami akan merutinkan aksi ini setiap pekan untuk menjaga napas perjuangan sampai pemerintah benar-benar menepati janjinya untuk keluar dari BoP jika tidak sesuai dengan prinsip kemerdekaan Palestina," tegas Shobri.
Ia juga menilai desakan publik mulai memunculkan respons dari pemerintah. Menurutnya, Presiden Prabowo telah mengundang sejumlah tokoh agama dan diplomat untuk berdiskusi mengenai hal tersebut.
“Presiden Prabowo mengundang kembali tokoh-tokoh keagamaan serta diplomat untuk berdiskusi balik. Kami yakin Presiden Prabowo sudah mulai goyah dengan kebijakan yang diambilnya,” tambah Shobri.
Pernyataan Sikap dan Mandat Kemanusiaan
Menjelang puncak aksi, dosen Hubungan Internasional UI, Shofwan Al-Banna Choiruzzad, naik ke panggung aksi untuk membacakan pernyataan sikap. Ia menegaskan posisi ideologis bangsa Indonesia di tengah ketegangan global.
“Indonesia adalah negara yang didirikan dengan semangat kemanusiaan dan keadilan, bukan untuk menjadi bagian dari penjajahan," tegas Shofwan di hadapan massa.
Dalam pernyataan sikap tersebut memuat tujuh tuntutan kepada pemerintah Indonesia, antara lain:
From the river to sea, Palestine will be free!
Teks: ‘Izza Billah
Editor: Cut Khaira
Foto: Cut Khaira
Desain: Raissa Salsabila Azalia
Pers Suara Mahasiswa UI 2026
Independen, Lugas, dan Berkualitas!