
By Novia Sarifa Az-zahra
Judul: #Alive
Genre film: Aksi, Drama, Horor.
Sutradara: Il Cho
Penulis naskah: Il Cho, Matt Naylor
Tanggal rilis: 24 Juni 2020 (Korea Selatan), 8 September 2020 (Netflix)
Durasi: 98 menit
Pemain: Yoo Ah-In, Park Shin-Hye, Jeon Bae-Soo, dan lainnya.
“#Aku_Harus_Bertahan”
Rilis di kala pandemi, #Alive seakan meminjam momen yang tepat dan berhasil menarik banyak antusiasme publik. Berfokus pada kisah seorang gamer yang terjebak di rumah selama wabah virus kanibalisme, alur #Alive seolah memiliki koneksi emosional dengan penonton. Film yang disutradarai Cho Il-Hyung (Il Cho) ini berhasil memasuki daftar film top sedunia di Netflix hanya dalam dua hari setelah perilisannya.
#Alive menceritakan kisah seorang gamer rumahan bernama Oh Joon-Woo (Yoo Ah-In dari Burning). Karakter Joon-Woo sendiri digambarkan layaknya stereotip pemuda masa kini—penggemar teknologi, menghabiskan banyak waktu di rumah, dan jarang berinteraksi dengan dunia di luar rumahnya. Ketika Joon-Woo berniat memulai hari seperti biasa, sebuah mimpi buruk yang tak terduga datang tiba-tiba.
Melalui fitur obrolan pada game, teman-teman Joon-Woo memberi tahu adanya berita menghebohkan di televisi. Namun, Joon-Woo malah dibuat bingung oleh keadaan sekitar rumahnya dan belum sempat memahami berita yang disampaikan di televisi. Teriakan para tetangga, kehebohan di luar rumah, siaran televisi darurat, dan pesan peringatan dari pemerintah lantas terjadi secara bersamaan. Ketika Joon-Woo masih kebingungan, samar-samar terdengar suara pembawa berita di televisi sedang menjelaskan tentang wabah virus nasional yang membuat manusia bertindak kanibal layaknya zombi.
Virus kanibalisme itu dikabarkan telah menyebar ke seluruh negeri dan menyebabkan kekacauan. Orang-orang berubah seperti zombi dan mulai memakan sesamanya. Joon-Woo pun menyaksikan hal itu dengan matanya sendiri. Ia bahkan menghadapi salah satu tetangganya yang terinfeksi sendirian. Ya, ia sendirian di rumah. Keluarganya terjebak di luar dan kesulitan untuk pulang. Naasnya lagi, koneksi internet, sinyal, dan layanan air di rumah Joon-Woo tiba-tiba terputus. Stok makanan di rumah pun hanya sedikit. Joon-Woo lalu terjebak sendirian di rumah dengan bermacam-macam keterbatasan.
Joon-Woo mencari berbagai cara untuk bertahan hidup. Ia mengatur porsi dan pola makan karena tidak ingin keluar rumah dan berakhir seperti zombi. Ia juga terus berusaha mencari sinyal untuk mengabari orang tuanya, tetapi sulit. Walau begitu, Joon-Woo tetap menyemangati dirinya sendiri.
Setelah berhari-hari terisolasi di rumah sendirian, Joon-Woo menjadi sangat tertekan. Ia lalu mencoba bunuh diri, tetapi berhasil digagalkan oleh pancaran sinar laser dari gedung seberang tempat tinggalnya. Joon-Woo akhirnya menyadari bahwa ada penyintas lainnya di gedung itu. Penyintas itu ternyata bernama Kim Yoo-Bin (Park Shin-Ye). Joon-Woo dan Yoo-Bin kemudian saling membantu satu sama lain agar bisa bertahan hidup.
#Alive tampak seperti film yang benar-benar realistis. Film ini mendapatkan banyak antusiasme publik karena alurnya yang kebetulan terkait dengan situasi pandemi saat ini. Penonton pun memahami konflik batin Joon-Woo—berkat akting luar biasa Yoo Ah-In—dan dapat merasakan cerita ini layaknya kisah nyata. Sentuhan-sentuhan teknologi kekinian yang ditampilkan pun mencerminkan keadaan dunia saat ini, khususnya Korea Selatan sendiri.
Pilihan Il Cho untuk menekankan amanat di sepanjang film juga sangat terasa. Ketika Joon-Woo hampir putus asa, bantuan datang tanpa sepengetahuannya. Il Cho berusaha meyakinkan penonton untuk tetap semangat dan percaya akan datangnya harapan. Namun, pilihannya ini malah menggadaikan kesempatan film untuk menjadi lebih realistis. #Alive kemudian menjadi sejenis film yang banyak membual tentang harapan dan berbanding terbalik dengan daya tarik utama film—mengisahkan realitas.
Jika film ini lebih banyak menekankan unsur aksi melawan zombi, tentu akan semakin bagus. Bukan hanya untuk memuaskan penggemar film aksi, melainkan juga untuk menambah kesan realistis cerita. Layaknya hidup yang tak terduga, tentu penonton menginginkan alur yang lebih menegangkan dan tak terduga. Sayangnya, beberapa kali #Alive kehilangan kesempatan untuk menciptakan aura ketegangan bagi penonton. Para tokoh juga cenderung selalu berhasil melalui masalah-masalah dalam cerita.
Pada akhirnya, kesan realistis dari sebuah cerita tetaplah penting. Penonton tentu akan tersentuh jika mereka bisa memahami situasi sang tokoh layaknya dalam kehidupan nyata. Seharusnya, #Alive menyajikan lebih banyak adegan menegangkan agar penonton dapat sepenuhnya merasakan perjuangan tokoh-tokohnya dalam mempertahankan hidup. Sekali lagi, layaknya kisah nyata.
Teks: Novia Sarifa Az-zahra
Foto: Istimewa
Editor: Ruth Margaretha M.
Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas dan Berkualitas!
Kontributor