
April lalu, pendapat Indah mengenai bahasa Indonesia miskin kosakata menjadi objek diskusi pengguna media sosial. Dalam penggalan video siniar yang diunggah melalui akun TikTok @theindahgshow, Indah dan Cinta Laura sebagai pembicara membandingkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dan bahasa Arab.
“Bahasa Indonesia itu sebenarnya bahasa yang miskin kosakata, and it’s very true, especially compared to languages like Arabic, English,” tuturnya.
Menurut Indah, bahasa Indonesia memiliki kepraktisan budaya untuk menyampaikan sesuatu secara cepat dan mudah. Ia pun mengasumsikan bahwa kebiasaan tersebut tidak hanya muncul karena sifat malas masyarakat Indonesia, tetapi juga karena sedikitnya kosakata dalam bahasa Indonesia. Pendapat ini pun menimbulkan reaksi pro dan kontra yang tercermin pada kolom komentar video tersebut.
Menanggapi kontroversi yang muncul dari pernyataan tersebut, Nazarudin selaku Dosen Sastra Indonesia Universitas Indonesia mula-mula meluruskan bahwa anggapan kosakata yang miskin semestinya turut mempertimbangkan perihal bidang apa yang menjadi dasar perbandingan.
“Hal yang pertama harus diluruskan adalah anggapan miskin kosakata itu tergantung dari bidang apa yang dikomparasi,” ujarnya membuka penjelasan.
Argumen tersebut berdasar pada fakta bahwa setiap bahasa di dunia memiliki sifat yang unik. Lebih spesifik, keunikan berbagai bahasa tergantung pada kondisi alam, budaya, dan faktor sosial lainnya.
“Di Indonesia yang alamnya kaya akan pertanian, kosakata seperti padi, beras, gabah dapat ditemukan, tetapi tidak dalam bahasa Inggris. Di sisi lain, misalnya dalam bidang teknologi, mungkin kosakata bahasa Indonesia masih kurang dibanding bahasa Inggris,” terang Nazar memberi contoh.
Ia pun menyimpulkan bahwa, “Pada hakikatnya, setiap bahasa memiliki keunikan masing-masing, tergantung pada kondisi alam, budaya, dan sebagainya. Jadi, membandingkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris (dari jumlah kosakata–red) itu tidak apple to apple.”
Bahasa Indonesia: Lingua Franca Nusantara yang Terus Berkembang dan Beradaptasi
Kaya atau miskinnya suatu bahasa kiranya tidak dapat disimpulkan dari segi banyak atau tidaknya kosakata saja. Nazarudin menekankan bahwa bahasa Inggris adalah lingua franca atau bahasa perantara dunia yang usianya jelas lebih tua dari Bahasa Indonesia. Inilah mengapa kosakata dalam bahasa Inggris secara kuantitatif lebih banyak dari bahasa Indonesia. Lebih lanjut, ia pun menerangkan bahwa jumlah kosakata dalam bahasa Inggris dipengaruhi oleh banyaknya penyerapan kosakata dari bahasa-bahasa lain, seperti bahasa Spanyol, Prancis, dan banyak bahasa lainnya.
Apabila dibandingkan, penggunaan bahasa Indonesia yang berawal bahasa Melayu pun dapat dikatakan sebagai lingua franca di Nusantara. Sebelum diresmikan sebagai bahasa resmi negara, bahasa Indonesia dideklarasikan sebagai bahasa persatuan dalam momentum Sumpah Pemuda pada tahun 1928.
Jika dihitung sejak peristiwa tersebut, usia bahasa Indonesia memang belum genap satu abad. Akan tetapi, bahasa Indonesia dalam praktik penggunaannya sebagai bahasa resmi sudah mengalami banyak perkembangan.
Nazarudin pun mengonfirmasi hal tersebut, “Sebagai lingua franca, suatu bahasa harus memiliki kemampuan perkembangan dan adaptasi yang tinggi. Kemampuan ini lah yang telah dimiliki oleh bahasa Indonesia,”
“Dari penyerapan bahasa Melayu yang merupakan fondasi awal bahasa Indonesia itu sendiri dan dalam perkembangannya sampai saat ini, bahasa Indonesia telah menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi sehingga jumlah kosakatanya terus meningkat sampai saat ini,” sambungnya.
Dilansir dari IDN Times (10/04), kosakata bahasa Indonesia yang berada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) per tahun 2018 berjumlah sekitar lebih dari 200.000 dan diperkirakan akan terus bertambah.
Jumlah kosakata bahasa Indonesia ini sudah dapat dipertimbangkan mengalami kenaikan jumlah yang pesat jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun, bahasa Indonesia memang tidak bisa semata-mata dibandingkan dengan bahasa lain yang sudah ada dan berkembang jauh sebelum bahasa Indonesia.
Lantas, Benarkah Bahasa Indonesia Miskin Kosakata?
Sebagai lingua franca, bahasa Indonesia memiliki kemampuan beradaptasi yang baik terhadap perkembangan kosakata di dalamnya. Bertambahnya jumlah kosakata bahasa Indonesia saat ini, salah satunya dipengaruhi oleh penyerapan dari bahasa daerah. Indonesia saat ini memiliki lebih dari 700 bahasa daerah dan Indonesia telah banyak menyerap bahasa-bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia.
“Kita dulu tidak mengenal kata unduh dan unggah, sekarang kita menggunakan kata-kata tersebut. Nah, unggah dan unduh itu tuh diserap dari bahasa Jawa. Bahasa daerah juga bisa menjadi salah satu sumber asal usul kosakata yang kita gunakan saat ini,” jelas Nazarudin.
Selain dari bahasa daerah, bahasa Indonesia juga memperkaya kosakata dari penyerapan bahasa negara lain, seperti bahasa Arab, Belanda, Korea, dan masih banyak lagi. Kosakata yang terus mengalami penyerapan tampak dari penggunaan bahasa Korea yang kini disesuaikan bahkan masuk ke dalam KBBI. Sebagai contoh, kata oppa dan kimci.
Keterbukaan akses informasi serta perkembangan sosial media dan teknologi justru memperkaya khazanah bahasa Indonesia. Sebagai dampaknya, perkembangan bahasa dan kosakatanya terus terjadi tanpa terbatas pada waktu dan tempat.
Nazarudin pun menjelaskan proses penyerapan bahasa yang dimaksud, “Misalnya kata bullying. Kita cari dulu nih, di bahasa Melayu atau bahasa daerah di sekitar kita, ada tidak yang maknanya mirip dengan itu? Lalu, kita temukan kata rundung. Maka dari itu ada perundungan, ada juga perisakan, dan seterusnya. Nah, itu salah satu proses bagaimana sebuah kata diserap hingga kita menyepakati kata ini yang dipakai,”
Bahasa Indonesia memang telah banyak menyerap kata dari bahasa lain, baik bahasa daerah maupun bahasa negara lain. Namun, menurutnya hal ini memang tidak hanya terjadi kepada bahasa Indonesia. Bahasa-bahasa yang lain pun mengalami hal seperti ini karena sejatinya selama manusia itu masih berkembang, otomatis kosakata baru pasti masuk.
Kenyataannya, membandingkan bahasa hanya berdasarkan jumlah kosakata tidak komprehensif. Banyak aspek lain yang harus diperhatikan jika ingin mendapatkan kesimpulan yang relevan. Mulai dari latar belakang hingga perkembangan, ada berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan saat membandingkan satu bahasa dengan bahasa lainnya.
Sebagai penutup, Nazarudin memberikan pendapat pribadinya perihal polemik ini, “Kalau dari saya sendiri bukan soal miskin kosakatanya, tetapi kemampuan bahasa orang kan beda-beda. Ada yang mungkin lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris, atau lebih bisa mengekspresikan dirinya menggunakan bahasa Inggris. Ya, itu sah-sah saja. Kemungkinan kemampuan bahasa Inggris dia lebih baik dari bahasa Indonesia. Bisa jadi paparan bahasa Indonesia dia hanya yang ada di dalam rumahnya saja, tidak meluas sampai ke bidang sastra.”
Dalam pandangannya, penggunaan bahasa pada akhirnya kembali pada kemampuan berbahasa seseorang. Seseorang mungkin saja kesulitan mencari kosakata dalam bahasa Indonesia apabila ia lebih sering terpapar oleh bahasa Inggris atau bahasa lain daripada bahasa Indonesia. Permasalahan ini kiranya masih dangkal untuk menjadi dasar pelabelan miskin-kayanya suatu bahasa. Lontaran opini Indah G. barangkali cukup baik dalam hal memancing diskusi, dan memperkaya diri dengan pengetahuan bahasa Indonesia menjadi tugas bersama setelahnya.
Teks: Sarah Ibrahim Baasir, Siva Aulia Bil Kisti
Editor: Vilda Zahra, Siti Aura