
Judul: Behold the Dreamers
Pengarang: Imbolo Mbue
Penerbit: Random House
Tahun Terbit: 2016
Jumlah Halaman: 400
Bahasa: Inggris
Banyak dari kita mendambakan kehidupan yang lebih baik dan ingin meraih The American Dream—keyakinan bahwa kemakmuran bisa dicapai melalui kerja keras. Di negeri ini, mimpi itu sering diterjemahkan sebagai keinginan untuk pindah ke luar negeri, menetap, dan membangun penghidupan sendiri. Munculnya tren #KaburAjaDulu menunjukkan bahwa keinginan tersebut bukan hanya mimpi segelintir orang. Namun, pernahkah kita membayangkan betapa sulitnya mengadu nasib di negeri orang dalam perspektif seorang perempuan?
Novel ini menggambarkan perjuangan untuk meraih The American Dream lewat kisah sebuah keluarga kecil asal Kamerun, Afrika Tengah, yang merantau hingga ke New York, Amerika Serikat. Keluarga itu terdiri dari Jende sebagai ayah, Neni sebagai ibu, dan Liomi, anak mereka. Setibanya di New York, mereka nyaris tak memiliki siapa pun selain seorang sepupu bernama Winston, pengacara yang menangani perkara imigrasi. Berbekal relasi yang terbatas itulah, mereka berusaha mengejar impian yang mereka yakini.
Penggambaran kisah perantauan dan perjuangan keluarga pada novel ini tak pandang bulu. Setiap tokohnya diberi ruang yang cukup untuk berkembang, dengan latar emosi, konflik, dan pilihan hidup yang digambarkan secara mendalam. Salah satu sorotan terkuat tertuju pada Neni, yang menjadi elemen sentral dalam perkembangan cerita.
Dalam perjuangannya, ia digambarkan sebagai sosok perempuan dengan pengorbanan besar. Kisah perjuangannya dimulai saat ia melawan keluarga besarnya untuk mengejar cinta Jende. Setelah menikah dan membangun rumah tangga, ia kembali dihadapkan pada kenyataan pahit, dimana ia harus merelakan kekasihnya untuk berangkat lebih dulu ke New York. Ketika akhirnya menyusul Jende, ia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sama sekali asing—terhambat oleh bahasa dan budaya yang berbeda.
Pengorbanannya tidak berhenti di situ. Ia juga turut ambil bagian dalam ranah publik, bahkan menyentuh urusan sang suami, dengan berupaya memastikan agar ia dan Jende masih bisa bekerja di bawah majikan yang sama. Namun, segala daya yang telah dicurahkan kembali diuji saat suaminya meminta mereka mengambil keputusan yang memberatkan hati Neni—keputusan untuk pulang ke Kamerun. Pada titik itu, Neni sekali lagi harus merelakan impian yang telah diperjuangkan demi menjaga keutuhan keluarganya.
Seluruh kisah pasang surut Neni merepresentasikan perjuangan seorang perempuan, soal bagaimana ia harus memikul peran sebagai ibu sekaligus istri dalam waktu bersamaan. Di satu sisi, ia berani menentang keluarganya demi meraih keinginannya, menikahi Jende. Namun di sisi lain, perjuangan itu hanya menghadirkan kebebasan yang sementara. Perantauan ke negeri yang tak ia kenal membebaninya tanggung jawab tambahan—ikut berjuang bersama Jende sembari merawat sang anak, Liomi.
Pada akhirnya, Neli bukanlah tokoh semata. Ia adalah representasi perempuan di luar sana yang tengah berjuang dengan caranya sendiri. Novel ini dihadirkan untuk membuka mata tentang realitas kehidupan perempuan dalam meraih penghidupan yang lebih baik di tengah tuntutan dan harapan banyak orang. Melalui sosok Neli, pembaca diajak memahami pergulatan perempuan yang memikul tiga status sekaligus: ibu, istri, dan perempuan.
Tidak hanya menyuguhkan kisah Neli, tiap tokoh lain juga memiliki panggungnya masing-masing, dan keberadaan mereka saling memengaruhi posisi Neli. Keutuhan kisah tiap tokoh ini dibalut dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga pembaca tidak perlu bingung dengan istilah yang sulit. Dengan demikian, buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang ingin memahami realitas kehidupan perempuan secara lebih utuh dan mendalam.
Penulis : Arvin Rumbiak
Editor : Huwaida Rafifa Yumna
Foto : Istimewa
Pers Suara Mahasiswa
Independen, Lugas, dan Berkualitas
Kontributor