
Minggu (12/7), Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi simbolik bertajuk “Salemba Berseru” di depan Gedung Fakultas Kedokteran (FK) UI, Salemba, Jakarta Pusat. Aksi ini diikuti oleh ratusan masyarakat dari berbagai lapisan.
Fathimah, Wakil Ketua BEM UI, menjelaskan Kampus Salemba memiliki nilai historis yang kuat, terutama ketika gerakan 1966 dan 1998 silam. “Enam puluh tahun sejak Tritura yang sejarahnya dipahat di gedung ini, dua puluh delapan tahun semenjak Reformasi. Kita masih menanyakan pertanyaan yang sama kepada rezim yang berkuasa. Untuk siapa kalian berkuasa sebenarnya?” ucapnya dalam orasi.
Dalam wawancara bersama Suara Mahasiswa UI, Fathimah menuturkan, Salemba Berseru bertujuan untuk memperkuat dan menjaga solidaritas masyarakat. Setelah melangsungkan gerakan 12 Juni lalu, ia menerangkan BEM UI akan konsisten meningkatkan kesadaran publik terhadap berbagai tuntutan yang ada.
Ia menilai festival seni dalam kegiatan ini merupakan cara paling halus dan sopan dalam melakukan perlawanan. Hal itu juga membuktikan bahwa mahasiswa memiliki banyak cara untuk terus bersuara.
Pada akhirnya, Fathimah mengatakan, aksi massa bukan hanya satu-satunya tindakan yang dapat dilakukan. “Kita sebenarnya [melakukan] segala cara yang terpikirkan, kita tunjukkan kreativitas mahasiswa sebenarnya seperti apa dalam raising issue.”
Kegiatan diisi pula oleh penampilan musik dari Efek Rumah Kaca. Menurut Cholil Mahmud sang vokalis, kebijakan dan tata kelola negara saat ini tengah amburadul. Alih-alih mendengarkan aspirasi, pemerintah justru mengeluarkan pernyataan yang merendahkan masyarakat.
Ia juga menyoroti perihal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya dikaji ulang. Selain itu, sistem Koperasi Desa Merah Putih yang berantakan dan ekonomi semakin melemah turut memperparah keresahan publik. “Jadinya kita bertanya-tanya kepada siapa pemerintah membuat kebijakan ini, untuk siapa?” katanya dalam wawancara bersama Suara Mahasiswa UI.
Melalui musik, kata Cholil, Efek Rumah Kaca ingin mengajak publik terus bersuara meski terkadang dibungkam dan dikriminalisasi. “Semoga [pembungkaman] tidak mengecilkan keberanian teman-teman dan terus bersama-sama mengawal [tuntutan] sampai berhasil.”
Akhir kata, Cholil ingin para seniman senantiasa bersuara lewat karya. Protes melalui karya seni diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak orang dalam bahu-membahu merobohkan rezim yang tiran.
“Karena [melawan rezim] enggak bisa [sendiri], bukan pekerjaan mudah, [ada] banyak orang yang harus terlibat. Kita bersama-sama harus berjuang dan saling mencerahkan satu sama lain,” ucap Cholil.
Penampilan musik juga dimeriahkan oleh Fajar Merah dan pembacaan puisi dari Peri Sandi Huizche. Selain itu, pertunjukkan Teater Rakyat Driyarkara ikut mengisi aksi sore ini. Ruang membaca dan ekshibisi karya digelar. Kuburan HAM dan demokrasi, galeri fotografi serta puisi, juga topeng-topeng berdarah menghiasi halaman depan gedung.
Aksi simbolik kemudian ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap oleh BEM UI. Mereka secara tegas menolak sikap apatis terhadap kondisi sosial-politik Indonesia. Di samping itu, mereka menyerukan pentingnya persatuan untuk mencegah kelompok oligarki memanfaatkan perpecahan rakyat sipil.
Teks: Arinta Kusuma Ramadhani Nurhidayati
Editor: Alya Putri Granita
Foto: Arinta Kusuma Ramadhani Nurhidayati
Desain: Nabila Attiya
Pers Suara Mahasiswa UI 2026
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Teks
Editor
Foto
Desain