Logo Suma

Binge-Watching: Pereda Stres di ‘Rezim’ Corona

Redaksi Suara Mahasiswa · 16 Desember 2020
5 menit

By Sultan F. Basyah

Pandemi Covid-19 di Indonesia yang sudah berlangsung selama hampir sembilan bulan masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Hal ini pun yang menyebabkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) masih dijadikan metode perkuliahan di Universitas Indonesia. Metode perkuliahan ini tak bisa dipungkiri telah menyebabkan penggunaan komputer dan gawai di kalangan mahasiswa jadi meningkat dan semakin intens. Salah satu aktivitas yang populer di kala pandemi ini adalah binge-watching di sela-sela perkuliahan.

Binge-watching sendiri merupakan sebuah praktek menonton serial televisi atau beberapa film secara berturut-turut. Aktivitas ini sudah dikenal sejak lama namun menjadi kian populer di kala pandemi karena menjadi alternatif dalam mengisi kejenuhan selama berada di rumah.

Eka Fasikha, seorang mahasiswi FEB 2017, mengatakan bahwa dirinya baru saja memulai kebiasaan menonton serial televisi melalui layanan Netflix pada bulan Februari tahun ini. Ia sendiri mengaku bahwa mulanya ia menonton serial televisi hanya sebagai bentuk distraksi dan pengalihan. Caranya menonton pun tidak dengan binge-watching. Ia hanya menonton satu atau dua episode saja. Lain halnya ketika pandemi datang. Intensitas menontonnya meningkat dan binge-watching pun mulai ia lakukan.

“Nah, pas mulai awal-awal Corona, baru kayak gua mulai binge-watching. Kayak naikin jumlah episode yang gue tonton gitu,” ujar mahasiswi yang akrab dipanggil Echa ini.

Echa mengaku bahwa intesitasnya dalam melakukan binge-watching sangat meningkat pesat dari bulan Maret sampai Juli lalu mulai menurun di bulan Agustus karena adanya kesibukan lain. Selama waktu itu ada banyak sekali serial barat yang sudah ia tonton. Contohnya ada Homeland, Spy, Bordertown, dan Sherlock. Serial yang ia tonton ini umumnya bertema spy atau thriller.

Setelah menonton serial televisi secara binge-watching, Echa mengaku bahwa ia mendapat banyak wawasan baru dari tontonan yang telah ia tonton. Akan tetapi, ia juga merasakan dampak buruk dari kebiasaan ini seperti mengganggu jam tidur dan juga membuatnya jadi sering menunda pekerjaan. Untuk meminimalisasi efek buruk tersebut, Echa menetapkan skala prioritas dari apa yang dilakukannya. Menurutnya tidak masalah melakukan binge-watching asalkan semua pekerjaan yang harus dilakukannya bisa selesai dengan baik.

Selain itu, menurut Echa ketika sedang sibuk namun tidak ada waktu untuk melakukan binge-watching, membaca atau menonton spoiler (bocoran isi cerita) dari suatu serial televisi yang ia gemari baginya sudah cukup.

“Sebenernya ga masalah mau binge-watching atau apa. Tapi balik lagi lo harus lihat kapasitas badan lo. Apakah lo perlu istirahat atau gak,” pungkasnya.

Lain halnya dengan Echa yang suka menonton serial barat, Jihan Safira, seorang mahasiswi FH 2018, lebih menyukai K-Drama alias Drama Korea. Mahasiswi yang dipanggil Jihan ini sangat gemar menonton Drama Korea dengan cara binge-watching jauh sebelum terjadi pandemi, tapi masih belum intens. Paling-paling hanya ketika liburan semester saja sehingga drama yang ia tonton menurutnya bisa dihitung dengan jari.

“Tapi setelah pandemi, hal itu makin rutin gue lakukan. Kaya bahkan setiap hari bisa,” ujar Jihan.

Ketika ditanya berapa banyak Drama Korea yang telah ia tonton selama pandemi ini, ia mengaku banyak sekali yang sudah ia tonton sehingga sulit baginya untuk menyebutkannya satu.

Oh my God, banyak banget sumpah. Gue gabisa nyebutin satu-satu deh kayaknya. Mungkin tuh kayak It’s Okay to Not Be Okay, terus The Flower of Evil, terus Start-Up yang kemarin baru kelar. Banyak banget sih kadang gue kan juga nonton yang lama-lama gitu kan atau gue nonton ulang, rewatch gitu,” papar Jihan dengan antusias.

Selain itu, Jihan juga mengatakan bahwa ia tidak hanya menonton Drama Korea saja. Sebagaimana halnya Echa, ia juga gemar menonton serial barat seperti Money Heist.

Selanjutnya, Jihan menuturkan bahwa kebiasaannya menonton binge-watching terutama selama pandemi ini memiliki efek positif seperti bisa menjadi pelarian di kala stres dan juga bisa mendapat pelajaran atau pesan moral dari drama yang ia tonton. Akan tetapi, selain memiliki efek positif, binge-watching ini menurutnya juga memiliki efek negatif seperti bisa membuatnya lupa waktu dan juga mengacaukan jadwal kegiatan yang sudah ia rencanakan.

“Terus parahnya itu kadang, aduh ini salah banget sih, kadang tuh sambil kelas gue sambil nonton. Split screen gitu,” ujar Jihan, mengeluhkan efek buruk binge-watching.

Untuk meminimalisasikan efek-efek buruk yang sudah ia sebutkan itu, Jihan menyiasatinya dengan lebih tegas dalam memprioritaskan hal yang lebih penting. Bila memang pada suatu pekan ia sedang mendapat tugas kuliah yang menumpuk, ia memilih untuk tidak menonton satu episode drama pun. Atau, cara lainnya adalah dengan menjadikan drama yang hendak ia tonton sebagai post-treatment setelah lelah mengerjakan tugas kuliah.

Senada dengan Echa, Jihan juga setuju bahwa spoiler merupakan cara untuk tetap bisa menikmati isi cerita dari drama yang ia tonton di kala kesibukan tak kunjung usai.

“Sebenernya menonton di kala pandemi, apapun serialnya itu gapapa. Relieve your stress aja. Asal inget waktu aja dan jangan sampai kewajiban pribadi terbengkalai,” pungkasnya.

Sementara itu, Muhammad Iqbal, teman satu fakultas dan satu angkatan Jihan, justru lebih senang menikmati anime. Predikat sebagai seorang wibu (sebutan untuk penyuka konten-konten berbau Jepang) sudah disandangnya sejak duduk di bangku SMA yakni sekitar pada tahun 2015 atau 2016.

“Awalnya gue penasaran gitu ya. (Waktu itu—pen) di hard disk bapak gue kok ada folder anime yak? (Akhirnya—pen) gue nonton satu judul, kalau gak salah waktu itu judulnya Angel Beats!. Gue tonton satu episode, kok nanggung ya? Nambah lagi, kok nanggung ya? Nambah lagi, terus sampai tiba-tiba series-nya tamat dan gue nangis di situ,” kenang Iqbal ketika menceritakan pengalaman pertamanya menonton anime.

Ketika ditanya apakah aktivitasnya dalam menonton anime ini meningkat atau tidak selama pandemi, ia mengaku bahwa aktivitas ini amat meningkat.

“Meningkat. Jelas sangat meningkat,” ujar Iqbal dengan antusias.

Selama pandemi ini Iqbal biasanya menonton anime dengan tema slice of life yang isinya mengenai kehidupan sehari-hari seperti Clannad: After Story dan Tamako Market.

“Banyak gitu deh. Kadang gue lupa judulnya. (Kalau—pen) katanya asyik, gue tonton aja,” jelas Iqbal.

Menurut Iqbal, segi positif dari binge-watching serial anime adalah bisa mengisi waktu ketika bosan berada di rumah. Selain memiliki segi positif, kebiasaan ini juga memiliki segi negatif yakni bisa mengganggu jam tidur dan juga meningkatkan asupan kalori ke tubuhnya, yang hal ini disebabkan karena ia juga gemar nyemil di kala sedang menikmati anime.

Lain halnya dengan Echa dan Jihan, Iqbal tidak merasa bahwa kebiasaannya melakukan binge-watching mengganggu kegiatannya yang lain seperti kuliah. Ia bisa melakukannya bersamaan seperti mengerjakan tugas kuliah di sela-sela menonton. Atau bisa pula ia menonton di sela-sela pengerjaan tugas kuliah.

“Gue emang orang yang procrastinate, tapi kalau gue lagi kerja pasti ada saatnya gue serius banget sama ada saatnya gue lagi bosan atau stuck gitu kan. Nah pada saat itulah gue nonton anime. Kewajiban harus diselesaikan dulu baru hiburan,” tegas Iqbal.

Untuk meminimalisasikan efek buruk dari binge-watching, Iqbal mengatakan caranya adalah dengan membatasi diri untuk tidak terlalu tergesa-gesa dalam menyelesaikan suatu anime. Yakni dengan lebih menahan diri dari rasa penasaran terhadap episode-episode selanjutnya supaya tidak lupa waktu.

Selanjutnya, seperti halnya Echa dan Jihan, Iqbal juga tidak keberatan dengan spoiler. Ia gemar menonton review-review di YouTube terkait anime yang sudah ia tonton supaya bisa mengerti jalan ceritanya ketika episodenya terlalu banyak.

Binge-watching itu nagih kan. SIfatnya adiksi gitu. Jadi mungkin harus diseimbangkan dengan kehidupan sosial lainnya daripada cuma duduk depan laptop atau TV. Padahal nontonnya anime slice of life kan, tapi masa lupa sama kehidupan sendiri. (Ya intinya—pen) selama lo masih bisa mengatur kehidupan sosial lainnya ya tidak ada yang salah di situ (baca: binge-watching),” pungkasnya.

Teks: Sultan F. Basyah
Foto: Fathi Hajriyan
Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas